Melepaskan Kasut

Kita harus serius berurusan dengan Tuhan, dan keseriusan kita harus kita tunjukkan dengan tindakan, langkah-langkah konkret. Bukan hanya ke gereja, ikut doa puasa, tidak cukup hanya dengan itu. Doa dan puasa kita mestinya memberikan kita dorongan, spirit, gairah untuk meninggalkan semua yang harus kita tinggalkan. Jangan kita berdoa berpuasa, tetapi di lain pihak, kita masih mempertahankan kesenangan-kesenangan dunia. Tidak bisa, kita harus benar-benar ekstrem. Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, kita harus menunjukkan kasih kita, cinta kita, hormat kita kepada Tuhan dengan tindakan konkret. Kebiasaan-kebiasaan yang jahat, tanggalkan itu. Kita harus menghadap Tuhan, dan Tuhan akan melihat kasut-kasut apa yang masih kita kenakan, yang itu membuat kita tidak layak menghampiri Dia. 

Banyak di antara kita yang masih buta, sehingga tidak tahu kasut apa yang membuat kita tidak layak menghampiri Dia. Telinga kita juga menjadi tuli, sehingga kita tidak mendengar suara Tuhan. Dengan mulut yang sama, kita gunakan untuk kejahatan, kenajisan, tapi juga untuk kekudusan. Kita semua harus bertobat. Banyak kelakuan-kelakuan kita yang masih tidak benar. Masih berjudi, masih mabuk, suka membicarakan orang di belakang, menyebarkan gosip, dan sebagainya. Itu adalah perbuatan-perbuatan yang najis di hadapan Allah. Selagi Allah masih membuka hati untuk menerima kita, sekalipun dosa kita merah seperti kirmizi, dijadikan putih seperti salju. Walaupun hitam seperti kesumba, dijadikan putih seperti bulu domba. Namun jika kita tidak radikal keluar dari keadaan ini, kita tidak akan pernah mengerti apa artinya pertobatan. Itu berarti kita tidak akan pernah mengerti kasih Allah yang besar kepada kita, dan pengurbanan Yesus di kayu salib 

Kita merasa bertobat dengan ukuran pertobatan yang tidak tepat. Banyak kasut yang kita kenakan, tapi kita merasa sudah benar. Itu karena kita tidak pernah berurusan dengan Tuhan. Karena kita tidak pernah berurusan dengan Tuhan, kita tidak tahu ada kasut-kasut yang melukai dan menyakiti hati-Nya dan yang membuat kita tidak layak menginjak Kerajaan Surga, yang harus kita lepaskan. Kita semua punya persoalan, tapi persoalan tersebut jangan menenggelamkan hidup kita. Setan berusaha membuat kita gagal fokus. Apakah itu dengan kesukaran, apakah itu dengan masalah, atau kelimpahan uang, dan segala kesenangan. Hari ini, yang kita harus lakukan adalah datang kepada Tuhan, buka kasut kita. Sebab, tempat di mana kita berdiri itu kudus. 

Jangan sombong, sebab kita bukan siapa-siapa. Allah mau kita berubah. Sebesar apa pun kesalahan kita, sekotor apa pun diri kita, Dia bisa membasuh dengan darah-Nya, dan Dia akan memberi kekuatan, kesanggupan bagi kita melepaskan kasut-kasut dosa; kasut-kasut kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki. Melepaskan kasut itu tidak enak, kadang-kadang sakit sekali. Kasut kebiasaan, kasut kesenangan di dalam jiwa dan daging kita, itu sakit sekali. Tuhan tidak menuntut apa-apa. Dia sudah mati di kayu salib bagi kita. Dia hanya ingin kau melepaskan kasutmu, supaya engkau bisa menyenangkan hati Bapa di surga. 

Yesus telah membahagiakan hati Bapa sehingga Bapa berkata, “Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Dan ketika kita menyenangkan nanti Bapa, Yesus dipuaskan karena kita ikut Yesus. Yesus bisa berkata, “Aku senang karena engkau telah ikut jejak-Ku. Aku bisa memuaskan hati Bapa di surga.” Yesus punya perasaan, dan kita mau menyenangkan perasaan-Nya dengan menanggalkan kasut-kasut yang Tuhan tidak berkenan. Jangan pernah merasa puas telah menanggalkan 1-2 kasut. Semua kasut-kasut yang kita kenakan, harus kita tanggalkan agar kita menyenangkan hati-Nya! Tapi mungkin ada di antara kita yang tidak pernah mengerti hal ini, “menyenangkan Tuhan apa?” Sebab yang dia ketahui selama ini Tuhan itu ajaib, Tuhan itu baik, Tuhan itu luar biasa, Tuhan itu mau memberkati, lalu ia hanya mau diberi tapi tidak pernah peduli perasaan Tuhan. 

Suatu hari ketika kita berhadapan dengan Bapa di surga, kita akan menyaksikan Tuhan Yesus duduk di atas takhta kemuliaan-Nya. Kita akan sangat menyesal kalau kita tidak menyenangkan dan membahagiakan Dia. Menyenangkan dan membahagiakan Tuhan Yesus adalah kehormatan. Jangan kita anggap itu sebagai kewajiban, tetapi harus sebagai kebutuhan. Seperti seorang ibu yang berjuang begitu rupa untuk anak-anaknya. Bagi sang ibu, itu kebutuhannya. Dia berdagang di pasar, dia menghadapi preman-preman pasar, itu kebutuhannya; kebutuhan anaknya, bukan kebutuhan dirinya. Demikian pula sebagai anak-anak yang mengerti kebaikan orangtua, ketika anak sudah mulai bisa mencari nafkah, bekerja, maka ia bekerja, dia menikah, dia juga mau melakukan itu untuk orangtuanya. Itu baru anak yang baik. Demikian pula kita. Kalau sekarang kita hidup, kita bekerja, kita melakukan segala sesuatu, kita lakukan itu untuk Tuhan. 

Semua kasut-kasut yang tidak berkenan, harus kita tanggalkan agar kita menyenangkan hati-Nya.