Melawan Iblis

Sejatinya, Iblis bukan musuh yang lemah. Ia adalah musuh yang kuat dan berbahaya. Harus disadari, bahwa setiap hari kita diperhadapkan dengan musuh ini. Bujukan Iblis membuat kita sering mengambil keputusan dan pilihan yang tidak tepat, serta perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sering kita tidak menuruti kehendak Allah, tetapi kehendak diri sendiri yang sangat dipengaruhi dunia sekitar kita, dimana ada Iblis di baliknya. Banyak keputusan yang kita ambil tidak berdasarkan pimpinan Roh Kudus, tetapi keinginan dan hikmat manusia; di baliknya, ada Iblis. Padahal, standar hidup yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan adalah standar hidup yang berbeda dengan anak-anak dunia. Ini berarti sebuah kemelesetan dari kehendak Tuhan. Kemelesetan adalah dosa

Dalam 1 Korintus 9:26-27 tertulis, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Rasul Paulus berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Sebagai hamba Tuhan, Paulus bersikap jujur, ia sadar bahwa ia tidak kebal terhadap dosa. Paulus pun bisa terpeleset dan berbuat kesalahan. Kalau seorang hamba Tuhan sekaliber Paulus mengatakan ini, dimana masih ada kemungkinan baginya bisa berbuat salah, maka kita harus lebih berhati-hati.

Memang diri kita sendiri tidak bisa dikatakan sebagai musuh, tetapi kedagingan kita harus disadari sebagai ancaman yang membahayakan. Sebab, diri kita sering memiliki keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan lebih sesuai dengan keinginan Iblis. Keinginan-keinginan manusia lama kita yang bertentangan dengan kehendak Allah, bila dituruti, akan membawa kita makin jauh dari kesucian Allah. Dalam hal ini, pergumulan sejati adalah pergumulan untuk menggantikan kehendak diri sendiri yang meleset, kepada ketepatan melakukan kehendak Allah. Pergumulan untuk mencapai ketepatan ini adalah pergumulan seumur hidup yang tidak boleh berhenti. Semakin kita tua, seharusnya semakin tepatlah pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan kita. 

Harus selalu diingat, bahwa tujuan hidup kita bukan dunia ini melainkan kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, di tengah-tengah kesibukan hidup ini, kita tidak boleh lengah. Kita harus mengarahkan pandangan kita pada tujuan hidup yang benar, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak menuruti keinginan diri sendiri dari manusia lama kita yang menjadi kendaraan Iblis membinasakan kita. Banyak orang Kristen yang tertipu oleh kuasa dunia ini. Mereka sibuk dengan berbagai urusan, sampai melupakan bahwa mereka harus selalu mengerti kehendak Bapa dan melakukannya. Oleh sebab itu, selagi ada kesempatan, kita harus mencari Tuhan agar kita memiliki fokus hidup yang benar dan tidak terperdaya oleh Iblis. Mencari Tuhan di sini wujudnya adalah belajar Firman Tuhan dan berusaha terus-menerus mengerti kehendak Bapa untuk dilakukan, supaya hidup tepat seperti yang dikehendaki-Nya. 

Kalau kita selama ini tidak hidup dalam fokus yang benar seperti yang Tuhan kehendaki, kita harus mengambil keputusan saat ini, sebelum terlambat dan tidak mempunyai kesempatan lagi. Kalau seseorang mendengar suara Tuhan hari ini untuk berbalik kepada Tuhan, tetapi menolaknya, maka lain waktu kalau ada ajakan atau panggilan untuk bertobat, hati orang itu sudah semakin keras sehingga tidak pernah bisa bertobat lagi. Semakin menunda, semakin Iblis akan menguasai kehidupan seseorang. Sampai pada stadium tertentu, seseorang tidak akan pernah bisa mengerti kehendak Allah, apalagi melakukannya. Dalam hal ini, kuasa gelap atau Iblis berusaha menyimpangkan perjalanan hidup kita agar tidak tertuju kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Hal ini harus disadari, bahwa kalau seseorang rajin ke gereja, menjadi aktivis bahkan menjadi pendeta, bukan berarti hidupnya sudah terarah kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Kekristenan yang sejati—yaitu kehidupan yang diperagakan Yesus—sudah nyaris tidak ada lagi, sebab kebenaran ini telah digantikan dengan kebenaran manusia yang berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Ironisnya, ajaran yang salah tersebut justru yang laris di pasaran, diminati sebagian besar orang Kristen. Sebagai akibatnya, bangunan iman Kristen yang benar tidak pernah bisa terbangun dalam kehidupan orang-orang percaya. Penyesatan ini begitu meluas di seluruh dunia. Sampai-sampai, malah ajaran yang benar yang dianggap sesat. Hal ini terjadi sebab standar kebenaran mereka adalah ajaran yang meleset dari kebenaran. Harus ditegaskan, bahwa satu-satunya ukuran kebenaran adalah kehidupan Yesus. Kalau seseorang sungguh-sungguh mengusahakan hal ini dalam hidupnya, Allah Bapa pasti menunjukkan bagaimana kehidupan Yesus dikenali dan dikenakan. Hanya dengan hal ini, Iblis dapat dikalahkan.