Melakukan Kehendak Bapa

Keselamatan orang percaya tidak berhenti sampai pada percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saja. Setelah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita harus dimuridkan, didewasakan, dan bertumbuh agar menjadi seorang yang “melakukan kehendak Bapa.” Kebenaran ini hanya dapat dipahami dan dikenakan untuk orang yang sudah dikuasai kasih Kristus. Harus disadari sedalam-dalamnya bahwa Kristus mati bukan bagi keuntungan-Nya sendiri, melainkan demi keselamatan kita. Tanpa kematian-Nya, kita dikurung dalam kekuasaan Iblis, dan digiring ke dalam kegelapan abadi. Ia datang untuk membebaskan kita. Pembebasan itu juga harus sampai dari keadaan tidak melakukan kehendak Bapa, menjadi orang yang melakukan kehendak Bapa. Kalau kita tidak mengerti hal ini dan tidak memperjuangkannya, kita tidak pernah mengalami keselamatan sebagai milik yang pasti. Menjadi milik yang pasti bukan berdasarkan kepercayaan pada suatu doktrin, melainkan benar-benar telah mengalaminya sebab melakukan kehendak Bapa. 

Pernahkah kita menanyakan kepada Tuhan, apakah kita sungguh-sungguh sudah diakui oleh Tuhan bahwa kita sudah melakukan kehendak Bapa? Menjadi orang percaya bukan hanya untuk menerima fasilitas berkat-Nya, melainkan juga untuk melakukan kehendak Bapa. Paulus adalah sosok manusia yang benar-benar telah melakukan kehendak Bapa. Kehidupan seperti itulah yang dikatakan sebagai “berpadanan dengan Injil.” Injil yang merasuki seseorang akan menjadikan orang itu “pelaku kehendak Bapa.” Inilah yang diharapkan dan dikehendaki oleh Tuhan, bahwa kebenaran Tuhan menjadikan kita melakukan kehendak Bapa. Bila tidak demikian, berarti Injil yang diterima salah, atau kita menolak Injil yang murni. Tidak ada orang yang menerima Injil yang benar yang tidak menjadi pelaku kehendak Bapa, seperti Yesus.

Dalam hal ini, orang Kristen dewasa berpendirian bahwa ia tidak berhak menuntut Tuhan apa pun, dan menerima bahwa Tuhanlah yang berhak menuntut dirinya untuk melakukan kehendak Bapa. Inilah yang disebut “berutang untuk hidup menurut Roh.” Harus disadari bahwa setiap orang yang telah ditebus, hidupnya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Dia yang sudah mati bagi dirinya. Hidup bagi Yesus berarti melakukan kehendak Bapa, sebab Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah. Dengan melakukan kehendak Bapa, seseorang benar-benar memuliakan Allah Bapa.

Keagungan hidup kekristenan bukan karena menjadi aktivis atau menjadi pendeta, melainkan senantiasa melakukan kehendak Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Anak-anak Allah harus memiliki posisi atau keberadaan yang berbeda dengan mereka yang bukan anak-anak Allah. Perbedaan yang paling fundamental adalah melakukan kehendak Bapa. Orang yang tidak mengalami dan memiliki keselamatan, tidak pernah bisa melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa hanya dapat terjadi atas orang-orang yang menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Gaya hidup seperti ini, jika dikembangkan terus akan sampai pada kualitas hidup yang disebutkan sebagai “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kalau Kristus hidup dalam diri seseorang, ia pasti melakukan kehendak Bapa. Orang itu barulah pantas disebut sebagai pengikut Kristus, dan layak disebut sebagai “Kristen” yang artinya seperti Kristus. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:10, yaitu supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami

Dengan mengenakan gaya hidup Yesus, yaitu melakukan kehendak Allah Bapa, seseorang barulah menjadi saksi yang dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mati dan bangkit. Kehidupan seperti itu terwujud di dalam hidup orang percaya yang bertumbuh dewasa secara benar. Kehidupan seperti inilah yang diingini oleh Allah Bapa. Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup bangsawan surgawi yang bisa diajak menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu saja hanya orang-orang seperti ini yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Inilah kehidupan yang luar biasa yang hanya dapat dimiliki oleh orang percaya yang sungguh-sungguh menjadi pengikut Yesus yang sejati.

Untuk mewujudkan kehidupan yang luar biasa ini, seseorang harus berani meninggalkan pola hidup wajar yang dimiliki manusia pada umumnya. Standar yang benar atau tepat seperti yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang dikenakan oleh Yesus. Kehidupan Yesus adalah kehidupan dalam ketaatan yang tidak bersyarat kepada Allah Bapa, penghormatan yang sempurna kepada Bapa, dan kasih cinta-Nya yang sangat mendalam kepada Allah Bapa tanpa batas. Walaupun status seseorang di mata masyarakat adalah orang baik, sukses dalam studi, karier, ekonomi, rumah tangga, dan lain sebagainya, tetapi jika tidak pernah mengenakan gairah hidup yang dimiliki oleh Yesus, yaitu melakukan kehendak Bapa, maka sesungguhnya mereka belum memiliki keselamatan.