Masih Terhilang

Perumpamaan mengenai anak yang terhilang di Lukas 15:11-32 menggambarkan sosok anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orangtua. Ia ingin bebas di luar pengawasan orangtua, dan bebas menggunakan harta milik yang diklaim sebagai miliknya. Menjadi kesukaan kalau bisa memboroskan hartanya untuk apa yang dipandangnya sebagai kesenangan atau kebahagiaan. Model sosok anak seperti ini kita jumpai di kehidupan banyak orang Kristen, termasuk mereka yang rajin ke gereja. Tentu saja mereka tidak merasa sebagai anak yang terhilang, sebab menurut konsep mereka, anak atau orang yang terhilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam pelanggaran moral. Jadi, kalau mereka sudah ada di gereja, berarti sudah bertobat. Banyak orang Kristen yang merasa sudah bertobat dan berbalik kepada Tuhan seperti anak bungsu, hanya karena mereka datang ke gereja dan meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan norma hukum dan etika umum. Mereka yang tadinya terlibat dalam perjudian, tidak berjudi lagi. Mereka yang tadinya hidup dalam perzinaan, tidak lagi hidup dalam perzinaan, dan lain sebagainya. Mereka merasa sudah berbalik seperti anak bungsu, sehingga merasa tidak perlu lagi mengalami atau melakukan pertobatan lagi.

Padahal, pertobatan yang dikehendaki oleh Tuhan lebih dari itu. Tidak hanya berhenti melakukan praktik hidup yang melanggar norma umum dan mulai datang ke gereja, tetapi harus sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan sepenuhnya. Selama seseorang masih hidup dalam pemerintahan diri sendiri, berarti ia masih tergolong terhilang. Memang secara lahiriah orang-orang Kristen tersebut tidak ada di luar gereja. Mereka adalah orang-orang Kristen yang setiap Minggu datang ke gereja. Tetapi sejatinya, mereka tidak bersedia hidup dalam pengawasan dan kontrol atau kendali Tuhan. Ciri dari orang yang terhilang seperti anak bungsu, antara lain: masih hidup dalam kendali diri sendiri, yaitu apa yang mereka ingini, mereka usahakan untuk diperoleh, mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang mereka miliki sesuka hati sendiri karena merasa berhak menggunakannya sesuai dengan selera mereka.

Pertobatan adalah kesediaan untuk datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa. Si Bungsu yang bertobat menyatakan: “… jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Pernyataan si Bungsu ini menunjukkan kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba. Hal ini menunjukkan bahwa pertobatan yang benar ditandai dengan kesediaan untuk melepaskan semua haknya dan menyediakan diri dengan rela menjadi hamba yang hidup dalam kekuasaan Tuhan sebagai Majikan. Si bungsu tetap pada pendiriannya untuk bertobat dengan kerelaan melepaskan haknya. Walau ketika sampai di rumah, orangtuanya menyambutnya dengan sangat meriah, ia tidak diperlakukan sebagai orang upahan tetapi sebagai anak, tetapi ia tetap dalam pendiriannya seperti ketika masih di perantauan bahwa ia rela menjadi orang upahan, bukan lagi sebagai anak. Ini bukti dan tanda pertobatan yang benar, bersedia hidup dalam dominasi bapanya.

Betapa malangnya, banyak orang Kristen merasa sudah ada di dalam Rumah Bapa, sehingga tidak termasuk orang yang perlu pertobatan. Keadaan ini sama seperti anak Sulung yang tidak menerima cara ayahnya menerima kepulangan adiknya. Si Sulung marah terhadap apa yang dilakukan ayahnya. Si Sulung unjuk perasaan atau demonstrasi dengan sikap serta tindakan tidak mau masuk rumah. Tentu saja hal ini mempermalukan orangtuanya. Memang si Bungsu juga pernah secara tidak langsung mempermalukan orangtuanya, tetapi si Sulung ternyata secara langsung mempermalukan ayahnya di depan para pembantu serta seisi rumah ayahnya. Hal ini menunjukkan bahwa si Sulung tidak memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan ayahnya. Sampai pada akhir kisah, tidak ditunjukkan bahwa si Sulung bertobat. Orang seperti si Sulung ini bisa berkeadaan lebih parah dari si Bungsu. Ia bersama-sama dengan ayahnya, tetapi ia tidak bisa menerima impartasi spirit ayahnya. Ini pasti disebabkan—tanpa disadari—si Sulung memiliki dunia sendiri di dalam rumah ayahnya.

Hal ini menjadi gambaran dari kehidupan orang-orang Kristen yang walaupun ada di lingkungan gereja, tetapi masih memiliki dunianya sendiri. Ia tidak masuk dalam dunia Tuhan. Masuk dalam dunia Tuhan, artinya bersungguh-sungguh mau mengenal Pribadi-Nya dan sungguh-sungguh mencari Tuhan untuk menemukan Pribadi-Nya. Dalam hal ini, banyak orang Kristen sebenarnya yang belum memiliki Allah Bapa. Sebab, jikalau seseorang tidak memiliki pikiran dan perasaan Kristus, berarti belum memiliki Bapa. Kalau seseorang belum memiliki Bapa, berarti belum menjadi anak yang benar di hadapan-Nya. Untuk ini, diperlukan usaha untuk sungguh-sungguh berbalik kepada Allah. Menjadi pertanyaan bagi kita semua: “Apakah kita termasuk orang yang masih terhilang dalam rimba pelayanan atau gereja? Maukah kita kembali memberi diri kepada Tuhan sebagai satu-satunya Majikan hidup kita?“ Jangan kita mengeraskan hati dan membiarkan waktu berlalu sehingga kita tidak mampu lagi untuk bertobat. Kesempatan kita terbatas.

 Selama seseorang masih hidup dalam pemerintahan diri sendiri, berarti ia masih tergolong terhilang.