Legalitas dari Allah

Setiap kita harus memiliki ambisi yang kuat dan mestinya menjadi satu-satunya ambisi di dalam hidup kita, yaitu bagaimana menjadi anak kesukaan Bapa. Sampai kita bisa menerima pengakuan bahwa kita adalah anak yang berkenan di hadapan Allah. Kebaikan kita di mata manusia—nilai baik kita di mata manusia—bukanlah legalitas pengakuan dari Allah. Jangan kita takabur, jangan kita sombong, jangan sampai kita lupa diri bahwa penilaian manusia itu bukanlah legalitas yang kita cari. Kita sering lupa bahwa seakan-akan dengan penilaian baik dari manusia, kita ini sudah benar-benar baik. Di sini kita tertipu oleh diri kita sendiri. Jadi kita harus punya ambisi yang sekuat-kuatnya. Dan kalau kita mau benar-benar menghormati Allah, menghargai Allah, maka tidak boleh memiliki ambisi apa pun selain ini: “bagaimana bisa menjadi anak kesukaan Allah yang setiap saat, dalam segala hal, menyenangkan Dia.” Mungkin akan ada banyak yang menilai kita sebagai orang benar-benar tidak waras. Tetapi ini adalah kebahagiaan yang luar biasa. Dan suatu hari nanti, kita pasti akan menuai mahkota dengan keindahan yang tiada tara.

Jadi pengakuan orang bagi kita—dipandang suci, dipandang saleh, dipandang rohani, dipandang lebih baik dari orang lain—itu bukan legalitas sama sekali di hadapan Allah. Itu bahkan sering malah menipu kita. Kalau kita dianggap suci, dianggap kudus, lalu kita lupa diri sehingga kita merasa sudah punya legalitas yang baik. Itu belum tentu. Bukan tidak; belum tentu! Tetapi kalau kita menjadi benar-benar saleh di mata Allah, maka orang-orang di sekitar kita yang juga memiliki Roh Kudus, akan mengakui itu. Kalau kita menjadi orang saleh Tuhan, maka orang-orang yang rohani bisa menilai kita secara benar; tapi orang duniawi pasti salah menilai. Tentu hal ini ada dalam konteks sesame orang Kristen. Kita harus memaksakan diri kita. Jadi kalau ada keinginan-keinginan sesuatu yang muncul, kita harus buang. Ada pikiran-pikiran yang tidak patut—kebencian, dendam, kemarahan dan lain-lain—segera kita buang. Karena itu bisa merusak kerinduan atau ambisi kita untuk menjadi anak kesukaan Allah.

Kita harus fokus ke hal ini. Ini tidak akan mengganggu kinerja kita, etos kerja kita. Bahkan kita akan bersemangat bekerja, bersemangat olahraga, bersemangat menjaga kesehatan, bersemangat memaksimalkan potensi, karena kita melakukan semua itu untuk kemuliaan Allah. Mari kita benar-benar membuat diri kita membara dalam ambisi untuk menjadi anak kesukaan Allah. Dan itu harus sudah kita capai sebelum kita menutup mata. Jadikan ini sebagai suatu kebutuhan yang mendesak. Jangan sampai hasrat kita terarah, terfokus kepada yang lain. Jangan sampai hati kita tercuri oleh sesuatu atau seseorang atau apa pun, sehingga gairah kita untuk menjadi anak kesukaan Allah menjadi lemah, kecil, surut. Harus membara dan menjadi satu-satunya yang menjadi kebutuhan kita.

Oleh sebab itu, kita harus melipat gandakan jam-jam doa kita. Setiap hari ada waktu untuk bertemu dengan Tuhan dan lipat gandakan waktunya selama tidak mengganggu pekerjaan, tugas-tugas yang harus kita tunaikan. Kita gandakan waktu kita mendengar Firman. Percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ketidakmustahilan tersebut termasuk mengubah kita menjadi pribadi yang baru seperti Dia. Dalam Kolose 3:10 Paulus katakan, “… dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” Bagi manusia, perubahan seperti ini tampak mustahil. Bagaimana mungkin seorang manusia yang penuh cela dengan masa lalu yang kelam bisa menjadi seperti gambaran Khaliknya? Bagi manusia ini mustahil, namun bagi Allah tidak.

Allah dalam kedaulatan-Nya dapat mengubah manusia menjadi anak kesukaan-Nya. Menjadi anak kesukaan-Nya sama dengan memiliki karakter Sang Putra Tunggal. Untuk ini, Allah akan mengajarkan berbagai kebenaran dalam hidup orang percaya dalam bentuk pengalaman hidup yang mendewasakan. Dalam menjalani pengalaman hidup tersebut, ada Roh Kudus yang menuntun orang percaya dalam segala kebenaran yang hendak Allah ajarkan. Akumulasi dari berbagai pengalaman bersama dengan Roh Kudus itulah yang kelak membentuk manusia menjadi seperti Yesus. Semakin hari semakin disempurnakan dan diserupakan dengan-Nya. Sampai akhirnya ketika waktu telah usai, kita ditemukan serupa dengan Tuhan Yesus dalam berbagai aspek. Di sinilah kita memperoleh legalitas atau pengakuan dari Allah menjadi anak yang dikenan sebagai kesukaan. 

Kebaikan kita di mata manusia, nilai baik kita di mata manusia bukanlah legalitas dari Allah; bahkan kadang di sini kita tertipu oleh diri kita sendiri.