Kontrak Perjanjian

Kalau tidak mulai sekarang kita memindahkan hati di dalam Kerajaan Surga, kita tidak akan pernah bisa memindahkan hati. Maka, kita harus bertekad untuk memindahkan hati kita di dalam Kerajaan Surga. Di dalam Kolose 3:3-4 dikatakan, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Sejatinya, sebagai orang percaya, kita sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Tuhan, yaitu ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ada kontrak perjanjian bahwa hidupnya sudah mati tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Artinya, kita sudah tidak boleh lagi memiliki cita-cita, keinginan, dan ambisi apa pun. Kalau kita memiliki keinginan, cita-cita, ambisi, hal itu harus lahir dari hati Allah yang ditaruh di dalam hati kita, sehingga keinginan kita benar-benar merupakan keinginan Tuhan. Ini memang sulit. Bahkan, kalau bisa dikatakan, ini mustahil. Tetapi Tuhan akan memimpin kita; “Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.”

Alkitab menceritakan bahwa orang kaya di Matius 19 itu tidak bersedia menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Mengapa? Karena di dalam kekayaan, di dalam kehidupan yang dia jalani, dia masih bisa menyalurkan keinginan, cita-cita, dan ambisi. Kalau dia menyerahkan seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, dia seperti orang yang dikubur, seperti orang yang dieksekusi hukuman mati. Tetapi sejatinya, itulah kontrak perjanjian orang percaya dengan Tuhan. Kiranya kita makin menyadari, bahwa di hari-hari terakhir ini, kita sering melanggar kontrak perjanjian kita kepada Tuhan. Kita masih menikmati kesenangan-kesenangan yang menurut kita membuat hidup kita lengkap dan bahagia. Mestinya hidup kita lengkap dan bahagia hanya di dalam Tuhan. Ini yang harus kita latih terus, yaitu bagaimana memindahkan hati di Kerajaan Surga, bahwa hidup kita telah mati hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, tidak ada yang kita harapkan lagi dari dunia ini. Ini akan menjadi hal yang sangat sulit, dan bahkan mustahil. 

Dalam kehidupan umum, kita melihat orang-orang yang sudah sangat sulit berubah, bahkan mungkin tidak bisa berubah lagi. Mereka bukan orang-orang jahat, mereka bukan orang-orang yang berada di luar lingkungan gereja dan pelayanan. Mereka adalah orang-orang yang ada di dalam kegiatan pelayanan dan memiliki kedudukan di dalam pelayanan. Entah sebagai aktivis, pengerja gereja, bahkan gembala sidang atau gembala gereja; tetapi sudah tidak mampu memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Hal ini bisa kita lihat dari gejala jiwa yang terekspresi dalam sikap dan tindakannya. Jadi, gejala jiwa yang terekspresi dalam tindakan-tindakan yang itu menunjukkan kita sudah atau belum memindahkan hati di Kerajaan Surga. Kebanggaan-kebanggaan terhadap sesuatu, ucapan yang mau menonjolkan diri, kata-kata sembarangan yang ditujukan kepada seseorang, teganya kita melukai dan mengkhianati sesama, itu merupakan gejala jiwa dari orang-orang yang belum memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Ini yang menjadi keprihatinan kita.

Ketika seorang seorang gembala sidang berambisi memiliki gereja besar, itu saja menunjukkan bahwa dia belum memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Tidak salah punya gereja besar, tidak salah aktif untuk memajukan gereja. Tetapi kalau indikasinya adalah karena mau menjadi seseorang yang terhormat, itu salah. Masalahnya, jarang orang mau jujur melihat diri sendiri. Lebih banyak orang terbiasa untuk meliciki dirinya sendiri. Kebanggaan terhadap barang-barang yang kita miliki, kesenangan kita tampil di depan umum, punya kedudukan, orang yang masih mencari panggung sekecil apa pun, sependek apa pun panggung itu. Dia belum memindahkan hatinya di dalam Kerajaan Surga. Kalau di lingkungan gereja saja tidak sedikit orang-orang yang seperti ini, apalagi di luar gereja dengan kasus yang berbeda. Tetapi, intinya sama. Itulah kejahatan yang juga kita lakukan. Tetapi, hari ini mari kita bertobat. Kita mau berubah. Kita berkemas-kemas untuk pulang bersama ke surga, selagi masih ada kesempatan.

Sejatinya, sebagai orang percaya, kita sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Tuhan bahwa hidup kita sudah mati tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.