Kita Bisa

Ketika kita menghadap Allah, kita meminta ampun atas suatu dosa atau kesalahan, seharusnya fokus kita bukan lagi pada kesalahan itu yang kita pandang sebagai kesalahan, tetapi kita ia melihat perasaan Allah. Seperti seorang anak yang melakukan kesalahan, ketika dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan orangtuanya, yang menjadi pertimbangan adalah perasaan orangtuanya. Dia telah melukai orangtua. Jadi, ketika kita mempersoalkan dan menangani masalah dosa, hal itu bukan hanya masalah yang ada di pihak kita—”aku masih punya kesalahan”—melainkan juga yang kita harus kita pikirkan adalah perasaan-Nya yang terlukai. Sampai ketika kita akan melakukan suatu kesalahan, kita gentar dan gemetar. Ini adalah tingkat yang paling tinggi. Dengan demikian, biasanya kita akan terhindar dari kesalahan itu. Ada suara dalam hati, “Jangan-jangan keadaanku belum benar di mata Allah.” Ini bukan berarti lalu kita kehilangan damai. Kita tetap ada di dalam damai, namun waspada terhadap kesalahan yang dapat terjadi.

Kita telah dilatih begitu rupa oleh dunia sekitar kita ini menjadi orang-orang yang cerdik. Cerdik dan licik. Cerdik untuk memperoleh pujian, sanjungan, keuntungan, untuk menikam, menyakiti orang lain, mencari keuntungan, dan lain sebagainya. Maka kalau kita mau memiliki kesucian hidup, hal itu harus merupakan perjuangan kita hari ini. Jangan berpikir mistik mengenai perjuangan hidup. Dari setiap pesan yang kita tulis di gadget, Instagram, Facebook, YouTube, semua itu harus kita lakukan dalam pertimbangan: apakah ini berkenan atau sesuai dengan kehendak Allah? Memang ini memiliki berbagai tahapan dan bersifat batiniah. Hari demi hari, kita tidak melakukan kesalahan lagi, tetapi kita tetap gemetar dan gentar di hadapan Allah. Kenapa? Karena kita mau tahu apakah perasaan Allah dipuaskan oleh hidup kita setiap hari, yang mungkin kita merasa tidak punya kesalahan apa pun, tapi mungkin belum tepat benar. Biasanya kemudian Tuhan juga mengizinkan kita diuji dengan keadaan-keadaan tertentu, dan yang penting adalah bagaimana reaksi kita terhadap keadaan-keadaan tersebut. 

Hal ini mengarahkan kita kepada kehidupan yang disebut teosentris. Kalau dulu kita minta pengampunan, kita puas dan yakin bahwa Tuhan sudah mengampuni, hati kita sudah dibersihkan dari dosa. Hal itu benar adanya. Tapi setelah kita beranjak dewasa, pernahkah kita mempersoalkan bagaimana perasaan Allah terhadap keadaan kita hari ini? Kalau kita bisa diangkat sebagai anak Allah Bapa, itu luar biasa. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi berkenan menjadikan kita anak. Sebagai anak, perbuatan kita pasti membangkitkan reaksi Bapa. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan, “kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Di sini kita melihat bedanya agama dengan kekristenan. Mudah seseorang menyadari suatu kesalahan, kalau kesalahan itu terukur oleh hukum. Seperti bangsa Israel memiliki hukum Taurat dan terukur. Misal, membunuh adalah menghabisi nyawa orang; berzina ditandai dengan melakukan hubungan seks di luar nikah dengan yang bukan pasangannya. Tapi sangat sulit disadari kalau dosa tersebut menyangkut sikap hati; sikap batin dan cara berpikir. Kalau seseorang belum dewasa, mereka masih “akusentris,” tapi kalau orang sudah mendekati dewasa—apalagi sudah mendekati hari kematian—ia sudah harus teosentris 100%.  

Pertanyaannya, apakah hal itu bisa kita lakukan? Tuhan Yesus melakukannya. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, harus juga melakukannya sebagaimana Tuhan Yesus telah lakukan. Semua kita belum ada yang sempurna, tetapi kita sedang berjuang ke arah itu. Jadi kalau Tuhan berkenan memberi kita umur panjang, kita ingin bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan. Tetapi karena irama hidup kita sudah salah selama puluhan tahun, maka hari ini masih saja ada melesetnya. Tapi hari demi hari, lambat laun kita bisa menemukan kehidupan selalu ada di hadirat Allah, menyenangkan hati Allah. Tidak mudah memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaan, tetapi kalau kita biasa dan serius memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaan, kita bisa. Hal ini harus dimulai dengan membiasakan diri memeriksa diri di hadapan Tuhan sejak dini. Kalau orang sudah terlanjur berumur, bertahun-tahun tidak biasa memeriksa diri, maka ada wilayah-wilayah gelap dalam dirinya yang tidak dapat disadarii. Sampai tahap dia tidak tahu kalau dia tidak tahu. Pada akhirnya dia diliciki dirinya sendiri. Dia bicara soal kerendahan hati, tapi sombong. Dia bisa menegur orang lain, bisa mengingatkan orang lain, padahal yang diucapkan itu perbuatannya sendiri. Sampai dia tidak sadar bahwa itu adalah “kelakuannya.” 

Tidak mudah memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaan, tetapi kalau kita biasa dan serius memeriksa setiap gerak pikiran dan perasaan, kita bisa