Kepuasan Hidup

Berhubung keadaan dunia sudah semakin rusak, mengalami dekadensi atau kemerosotan moral yang semakin dalam, maka standar kebaikan orang semakin rendah. Kebaikan relatif bukanlah kebaikan mutlak yang berstandar kesucian Allah. Oleh karena pengaruh dunia yang sangat kuat merasuk dalam jiwa orang Kristen dan mereka tidak bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan, maka mereka merasa sebagai orang Kristen yang normal. Padahal, keadaan mereka sangat jauh dari standar kekristenan yang diajarkan oleh Injil. Oleh karena Tuhan seakan-akan diam, mereka merasa aman-aman saja menjalani hidup dengan cara hidup demikian. Dan banyak orang beragama—termasuk orang Kristen—sudah merasa puas dengan keberadaan hidupnya yang dihiasi dengan moral baik di mata masyarakat, padahal kehidupan moral manusia semakin jauh dari standar yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini, bagi mereka, kepuasan hidup bukan terletak pada kerinduannya untuk mencapai kesucian hidup seperti yang Allah kehendaki, melainkan kehidupan normal yang suasana jiwanya tertumpu pada hal-hal duniawi. Bagi mereka, yang penting tidak melanggar moral yang dipahami oleh masyarakat. Hal ini bukan hanya berlaku di lingkungan orang-orang non-Kristen, melainkan juga di kalangan orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Kenyataan bahwa sekarang ini kesucian seperti barang langka bisa dimengerti, karena dunia di mana kita hidup ini semakin jahat. Hal ini sudah dinyatakan sendiri oleh Tuhan Yesus, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12). Ketika Tuhan menyatakan hal ini, Ia sedang berbicara mengenai hari-hari menjelang kedatangan-Nya, yaitu keadaan manusia pada akhir zaman. Kalau pelaku kehidupan—dalam hal ini manusia—semakin durhaka, maka dunia juga akan berkeadaan semakin rusak dalam berbagai aspeknya. Sebuah dunia yang sama sekali tidak menjanjikan untuk dihuni. Dunia yang semakin mendukakan hati Allah. Dunia yang semakin mendekati hari penghukumannya. Keadaan dunia seperti yang dikemukakan oleh Tuhan tersebut mengondisi manusia mengalami degradasi moral yang parah. Tuhan Yesus menyamakannya dengan keadaan manusia pada zaman Sodom dan Gomora, yaitu keadaan manusia yang pantas untuk dibinasakan. Moral manusia secara umum mengalami kemerosotan yang sangat parah. Tidak mengherankan kalau dunia hari ini diwarnai dengan tindakan-tindakan manusia yang sangat bejat, seperti perkosaan oleh orangtua terhadap anak kandungnya sendiri, dalam intensitas jumlah yang semakin besar; pembunuhan anak terhadap orangtua; pembunuhan orangtua terhadap anak; penyimpangan seks (LGBT); pemalsuan obat; pembantaian terhadap orang tidak bersalah, terorisme; praktik mencari keuntungan materi dalam gereja, munculnya nabi dan pengajaran palsu yang marak, dan lain sebagainya.

Kondisi dunia seperti yang dikemukakan di atas ini pasti juga memengaruhi kehidupan moral banyak orang Kristen sehingga mereka juga ikut terhanyut hidup dalam dosa. Memang faktanya, banyak orang Kristen telah terbawa oleh cara berpikir dan gaya hidup manusia di sekitarnya. Ini menunjukkan kualitas iman banyak orang Kristen sudah banyak merosot. Bahkan wilayah yang tadinya seratus persen Kristen, sekarang sudah tidak lagi demikian. Keadaan ini tentu saja menunjukkan bahwa banyak orang Kristen tidak lagi militan dalam kesetiaannya kepada Tuhan. Tidak heran kalau banyak orang Kristen semakin merasa tidak mungkin bisa mencapai kesucian di dalam dunia yang seperti ini. Bahkan, kesucian sering dipandang sebagai keberadaan yang hanya dapat dimiliki oleh orang-orang khusus yang memiliki kawasan hidup berbeda dengan manusia pada umumnya. Sehingga, untuk hidup yang suci, seseorang harus hidup dalam biara atau sejenis pertapaan. Padahal, kesucian semacam itu justru kesucian yang tidak natural dan tidak proporsional. Kesucian bukan hanya berarti bersih dari noda. 

Kesucian juga menunjuk kepada integritas diri yang kokoh, tidak terhanyut oleh pengaruh pola hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, walaupun hidup di tengah-tengah masyarakat dunia yang rusak ini. Harus diingat bahwa Tuhan Yesus tidak memerintahkan orang percaya meninggalkan dunia untuk bisa mencapai kesucian. Justru Tuhan mengutus orang percaya untuk hadir di tengah-tengah dunia ini. Dalam doa Tuhan Yesus kepada Bapa, Ia berkata, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat” (Yoh. 17:15). Kesucian seseorang teruji ketika ada di tengah-tengah kemungkinan dan kesempatan berbuat dosa, tetapi tetap memilih untuk tidak melakukan pelanggaran terhadap kehendak Tuhan. Ini adalah kesucian yang berkualitas tinggi. Kesucian seperti itu adalah kesucian yang natural dan proporsional. Kesucian di tengah godaan berbuat dosa adalah kesucian yang disertai dengan sikap hormat kepada Tuhan, dan hati yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya.

Kepuasan hidup terletak pada kerinduan untuk mencapai kesucian hidup seperti yang Allah kehendaki, dan bukan pada kehidupan normal yang tertumpu pada hal-hal duniawi.