Kemuliaan Kekal

Keagungan atau kemuliaan yang dimiliki seseorang yang memiliki nilai kekal dan berharga di mata Allah adalah keberadaan diri yang berjalan seiring dengan Tuhan dalam segala hal. Keberadaan diri ini ditandai dengan kehendak seseorang yang berjalan seiring dengan kehendak Allah. Di sini tidak dituntut atau tidak dibutuhkan pendidikan tinggi atau memiliki karunia khusus. Tidak ada syarat-syarat duniawi yang dibutuhkan. Tetapi yang dibutuhkan adalah syarat-syarat rohani, artinya berangkat dari standar yang Allah kehendaki. Kalau kita bersedia memiliki keberanian untuk membayar berapa pun harganya; keberanian dari kesediaan yang tulus membayar berapa pun harganya untuk bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan, untuk bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Allah, maka Tuhan akan menuntun kita bagaimana mencapai hal tersebut. Jadi jangan berpikir bahwa menjadi berkenan kepada Tuhan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Bisa, tetapi memang sulit; berarti dibutuhkan pergumulan atau perjuangan. 

Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga itu sulit; banyak orang berusaha, tetapi tidak bisa masuk. Maka Tuhan berkata, “Berjuanglah.” Jadi, hal mencari Allah untuk hidup berkenan itu lebih sulit daripada mencari uang. Namun, kalau orang sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka ia akan menemukan, walaupun itu bukan sesuatu yang mudah. Sama dengan orang mencari uang. Memang ada orang yang mudah mendapatkan uang karena keluarga memang sudah kaya, memberikan warisan, atau memiliki peluang-peluang istimewa. Tapi pada umumnya, mencari uang bagi sebagian besar orang adalah hal yang sulit. Dari 1000 orang, mungkin hanya 10 orang yang bisa berkata “mencari uang itu gampang,” tetapi selebihnya akan mengatakan “sulit.” Faktanya memang demikian. Bahkan, orang-orang kaya yang sudah menjalani hidup sulit dalam perjalanannya, bisa mengatakan mencari uang itu sulit. 

Hidup dalam kesucian itu lebih sulit dari mencari uang. Tetapi sebelumnya kita harus mengerti apa itu kesucian. Kesucian itu memiliki dua aspek besar yang masing-masing bisa dijelaskan. Pertama, kesucian itu bicara mengenai integritas; dimana seseorang tidak terpengaruhi oleh dunia ini. Maka firman Tuhan dalam kitab Roma 12:2 memperingati kita, “jangan kamu serupa dengan dunia ini.” Kata “kudus” atau qadosh dalam bahasa Ibrani artinya “dipisahkan dari yang lain;” separate from common condition. Dipisahkan dari keadaan umum untuk dipakai. Jadi, harus berbeda. Maka kalau di Perjanjian Lama, ketika Allah mau menguduskan seseorang atau benda-benda di bait Allah, Allah berkata, “pisahkan dari yang lain.” Sedangkan kata “kudus” dalam Bahasa Yunani adalah hagios; memiliki arti “berbeda dari yang lain; tidak sama.” 

Yang kedua, bicara mengenai kepekaan. Selanjutnya, tentu seseorang harus memiliki kerelaan bertindak. Kepekaan di sini bicara mengenai kemampuan untuk mengerti apa yang Allah kehendaki agar kita lakukan. Sejatinya, itu tidak mudah. Ini merupakan sebuah perjuangan. Jadi kalau orang mengatakan kesucian itu sulit, bisa berarti orang tersebut memang tidak kudus. Tetapi juga bisa berarti orang itu telah melewati tingkat-tingkat kekudusan dan mengerti bahwa perjuangan itu sulit. Semua kita juga belum sempurna. Tetapi orang yang berjuang untuk memiliki kekudusan itu mengerti betapa tidak mudahnya kesucian itu

Kehormatan kita adalah jika kita bisa membuahkan kehendak yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Yang pada tingkat kedewasaan penuh, kita tidak merasa perlu punya keinginan apa pun, kecuali keinginan Tuhan yang diimpartasikan dalam diri kita. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, bukan kehendak-Ku.” Tentu ini tingkat penyangkalan diri yang sukses. Seperti puncak pergumulan Tuhan Yesus di taman Getsemani, “bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa, kehendak-Mu.” 

Sekarang coba bayangkan, suatu saat kita ada di hadapan Allah, Elohim Yahweh, di dalam hadirat-Nya yang dahsyat. Maka kita pasti akan bersedia melakukan apa pun. Tetapi kalau kita memiliki kesediaan melakukan apa pun yang Allah kehendaki ketika di hadapan Allah, itu sudah terlambat. Justru sekarang ini kita mulai melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Tetapi merupakan suatu kehormatan apabila kita dengan serius melakukan segala sesuatu demi perasaan Allah meski Allah seakan tidak mengawasi dan tidak memberi hadiah atau sanjungan atas hal tersebut. Inilah kehormatan dan kemuliaan kekal yang sesungguhnya. 

Keagungan atau kemuliaan yang dimiliki seseorang yang memiliki nilai kekal dan berharga di mata Allah adalah keberadaan diri yang berjalan seiring dengan Tuhan dalam segala hal; keberadaan diri dimana seseorang bisa melahirkan kehendak yang berjalan seiring dengan kehendak Allah.