Kedewasaan Rohani

Kedewasaan rohani adalah tanggung jawab. Ini adalah sebuah perjuangan yang harus dijalani setiap individu. Tidak ada mukjizat untuk pembentukan proses pendewasaan rohani. Kedewasaan rohani yang dapat dicapai bukanlah karunia, melainkan buah kehidupan. Kalau Tuhan menganggap proses pendewasaan ini adalah urusan penting bagi-Nya, maka kita juga harus memiliki pikiran yang sama. Menyadari hal ini, maka kita harus mengucap syukur untuk setiap kejadian, termasuk hadirnya orang-orang di sekitar kita yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Allah memakai manusia di sekitar kita untuk pertumbuhan kedewasaan rohani kita. Banyak orang merasa, dengan belajar sebanyak-banyaknya dari buku-buku, melaluinya bisa menjadi dewasa rohani. Ini pemikiran yang salah.

Kita harus menyadari dan menerima bahwa Allah memroses kita melalui orang dekat di sekitar kita. Dalam kenyataan hidup ini, selalu saja ada orang yang melukai dan mengkhianati kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh berharap ada tempat di mana kita tidak bertemu dengan orang yang tidak menyakiti kita. Maka, seseorang harus mengerti kebenaran dan mengakuinya, serta berkomitmen dengan teguh menjadikan perjalanan hidup ini sebagai sekolah kehidupan. Hal ini dimaksudkan agar waktu umur hidup yang Tuhan sediakan dapat digunakan untuk membawa diri kita kepada kedewasaan rohani yang serupa dengan Yesus. Bagi mereka yang menganggap perjalanan hidupnya hanyalah kesempatan untuk memuaskan diri dengan berbagai kesenangan dan berharap tidak pernah dilukai orang, tidak akan pernah menjadi serupa dengan Yesus. Serupa dengan Yesus berarti menjadi anak yang sah. Kalau tidak serupa dengan Yesus, bukanlah anak yang sah.

Pergumulan orang percaya yang ada dalam proses pengesahan berstatus sebagai anak Allah, harus tampak jelas dalam kehidupannya setiap hari. Orang yang tidak ada dalam proses ini, tidak akan mengalami atau tidak menerima didikan Bapa. Bapa menginginkan setiap umat yang terpilih menerima didikan-Nya untuk diubah menjadi anak-anak-Nya. Kalau akhirnya seseorang menolak didikan-Nya walaupun sudah diberi kesempatan, orang tersebut akan ditolak dari hadirat Bapa atau terbuang ke dalam api kekal. Kesalahan tentu bukan terletak pada Bapa, melainkan pada orang itu sendiri. Firman Tuhan berkata, kalau seseorang tidak menerima didikan Bapa, berarti ia adalah anak gampang (Ibr. 12:6-8). Tentu saja orang-orang Kristen yang menolak didikan Bapa tidak mengalami perubahan. 

Biasanya, orang-orang yang menolak didikan Bapa, jika menghadapi persoalan yang tidak membuat mereka nyaman seperti dilukai orang, barulah akan berurusan dengan Tuhan meminta pembelaan-Nya. Mereka ke gereja pun hanya supaya terlindungi dari berbagai kesulitan hidup di bumi ini. Mereka tidak mengerti bahwa kehidupan yang singkat di dunia ini merupakan proses untuk bagaimana menjadi anak Allah yang sah. Tentu saja mereka tidak peduli, apakah dirinya sudah sah sebagai anak Allah atau belum. Mereka hanya mau senang-senang saja hidup di bumi ini, dengan standar manusia pada umumnya. Padahal, Firman Tuhan mengajari agar kita tidak serupa dengan dunia ini. Termasuk tidak serupa dalam sikap batin juga. 

Biasanya, orang-orang seperti ini hanya sibuk dengan perkara dunia. Bagi mereka, belajar Firman Tuhan dengan serius dan tekun bukan hal yang penting. Mereka menikmati rumah, mobil, hiburan dunia, perhiasan, barang branded, wisata, dan kesenangan dunia ini sebagai hal penting dan utama dalam hidup. Mereka akan berusaha menambah kekayaan mereka sebagai kesenangan atau kebahagiaan, dan jaminan ketenangan hidup. Dengan cara hidup demikian, mereka merendahkan nilai-nilai rohani dan kekekalan. Mereka terjebak dalam siklus kehidupan yang monoton, sampai jantung mereka berhenti berdetak. Orang yang tidak mengalami didikan Bapa karena menolaknya, akan sangat menyesal ketika sadar bahwa kejadian-kejadian hidup dimana dirinya dilukai dan dikhianati adalah cara Bapa mendewasakannya agar ia memperoleh berkat kekal

Mereka hanya mau menikmati kesenangan dalam hidup ini sebagai berkat Allah, tetapi tidak menerima didikan dari Bapa. Didikan dari Bapa yang sering berupa kesulitan-kesulitan dan keadaan yang tidak menyenangkan melalui orang-orang di sekitarnya, dipandang sebagai kecelakaan atau serangan Iblis. Padahal, melaluinya Bapa mau mendewasakan mental dan rohaninya. Harus diingat, bahwa orang percaya tidak akan pernah dapat menjadi dewasa tanpa proses yang menyakitkan melalui orang-orang di sekitarnya. Ini berarti memang tidak mudah menjadi anak Allah yang sah. Harus selalu diingat, bahwa keselamatan merupakan proses mengubah manusia dari anak gampang atau anak yang tidak sah, menjadi anak yang sah. Proses keselamatan adalah proses dilahirkannya seseorang oleh Allah, dari berkarakter manusia, menjadi seorang yang berkarakter anak Allah yang sempurna seperti Bapa.