Kedahsyatan Allah

Allah itu dahsyat! Sering kita mendengar dan juga mengucapkan bahwa Allah itu dahsyat, dan memang Allah itu dahsyat. Suatu saat, kita akan membuktikan kedahsyatan Allah bukan hanya pada kekuatan-Nya yang luar biasa, bukan hanya pada mukjizat-Nya, melainkan bahwa hanya Dia yang kita butuhkan. Pada waktu itulah kita menghayati kedahsyatan Allah dengan benar. Hari ini orang berbicara tentang kedahsyatan Allah, namun biasanya selalu dikaitkan dengan kuasa-Nya, kasih-Nya, mukjizat-Nya, dan tidak menghayati bahwa kedahsyatan Allah juga terkait pada kenyataan bahwa Dialah satu-satunya yang kita butuhkan. Betapa beruntungnya orang yang sejak hidup di bumi sekarang ini benar-benar bisa memahami dan mengerti bahwa hanya Dialah satu-satunya kebutuhan yang tidak tergantikan. Orang bisa mengatakan dan menyatakan itu berdasarkan konsep, tetapi tidak berdasarkan apa yang dia rasakan. Orang bisa mengatakan bahwa air itu kebutuhan, tapi tidak haus. Orang bisa mengatakan bahwa “jika tidak ada makanan, orang akan mati,” tapi dia tidak lapar. 

Berbahagialah orang yang bisa menyatakan bahwa Allah itu satu-satunya kebutuhan, dengan kehausan dan kelaparan akan Dia, serta rasa membutuhkan yang benar. Ia baru bisa berkata “Allah itu dahsyat.” Tentu orang-orang seperti ini tidak akan memanfaatkan Allah atau memanipulasi Dia, sebab dia tidak membutuhkan yang lain selain Allah, kecuali Allah sendiri. Kalau Allah sendiri yang dibutuhkan, Allah menjadi pemuas dahaga jiwanya, dan ia tidak akan memanipulasi Allah. Dia tidak memerlukan yang lain dari Allah, kecuali diri-Nya sendiri. Hal ini tidak bisa dibagikan atau diajarkan kepada orang lain. Hal ini harus dirasakan dan dialami. Namun, sayangnya tidak banyak orang yang bisa mengerti hal ini dan mengalaminya. Kalau kita membaca Mazmur 73, pemazmur melihat kenyataan orang-orang fasik yang menambah harta benda, senang selamanya; senang di bumi. Banyak orang mengikut dia seperti air bah, sementara rasanya sia-sia baginya mempertahankan hati yang bersih dan berusaha untuk hidup suci. Dia kena pukulan, dia kena hajaran. 

Tetapi matanya terbuka ketika memperhatikan hidup manusia, ketika masuk ke dalam tempat kudus Allah. Dalam sekejap mata, manusia lenyap dalam kedahsyatan: “Seperti mimpi pada waktu terbangun, rupa mereka dipandang Tuhan hina.” Lalu, bagaimana pemazmur merasa hatinya pahit, buah pinggangnya menusuk-nusuk rasanya. Ini adalah gambaran penderitaan fisik. Ia tidak mengerti mengapa keadaan itu ada. Dikalimatkan dengan kalimat: “seperti hewan, aku di dekat-Mu,” artinya aku tidak mampu menganalisa, aku tidak mampu memecahkan mengapa hal ini terjadi. Tetapi, ia tetap di dekat Allah sehingga ia memiliki pengalaman bagaimana Allah memegang tangannya. Lalu Tuhan menuntunnya dan mengangkatnya ke dalam kemuliaan; ini tentu saja bukan kemuliaan duniawi. “Kemuliaan” berbicara mengenai nilai hidup dan nilai diri. Nilai diri ini dikalimatkan di ayat 25, “siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau.” Artinya, “hanya Engkau yang kumiliki.” 

Ada orang-orang yang diberi Tuhan kasih karunia melewati kesulitan-kesulitan hidup, tekanan-tekanan hidup yang sangat berat, yang sampai akhirnya dia bisa berkata: “hanya Engkau yang kubutuhkan, Tuhan.” Tetapi mestinya kita tidak harus dibawa kepada keadaan-keadaan kelam, baru kita bisa menyadari ini. Dengan mengerti Firman Tuhan ini, kita bisa bertekad bahwa dalam hidup ini kita hanya ingin memiliki Dia. Menyadari bahwa hanya Allah yang kita butuhkan. Itulah sebabnya pemazmur kemudian mengatakan di ayat 25, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi. Kalau aku mengingini yang lain, percuma. Aku mengingini yang lain dan memilikinya, sia-sia. Tetapi yang ada padaku di surga, hanyalah Engkau.” Jadi, “hanya Engkau yang kuingini di bumi.” Kita tidak dapat menjadikan Allah itu harta kita kalau kita masih merasa memiliki harta lain selain Allah.

Bukan tanpa alasan kalau Rasul Paulus oleh ilham Roh berkata, “Tetapi aku takut kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular dengan kelicikannya.” Ada banyak versi kesetiaan, tapi belum tentu sejati. Perawan suci di hadapan Tuhan adalah orang-orang yang memiliki kesetiaan sejati kepada Kristus. “Perawan” di sini artinya tidak ternoda; orang yang tidak membagi hatinya; “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Maka, jangan menunggu sekarat, di ujung maut, atau pada waktu roh keluar dari tubuh, baru menyadari kedahsyatan Allah. Kedahsyatan Allah yaitu bahwa hanya Dia yang kita butuhkan, tidak tergantikan. Mestinya hari ini kita mulai menyadari bahwa hanya Dia yang kita butuhkan, seperti Ayub berkata, “Aku datang telanjang, dan akan pergi kembali telanjang.” 

Suatu saat, kita akan membuktikan kedahsyatan Allah bukan hanya pada kekuatan-Nya yang luar biasa, bukan hanya pada mukjizat-Nya, melainkan bahwa hanya Dia yang kita butuhkan.