Kawasan Rohani

Dalam Kejadian 39, terdapat kisah mengenai pergumulan Yusuf menghadapi istri Potifar yang berhari-hari membujuk dia untuk berbuat dosa. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh Yusuf kala itu, dimana kalimat tersebut menunjukkan bahwa ia hidup dalam kawasan rohani. Orang percaya yang hidup di kawasan rohani tidak bisa berbuat dosa lagi atau sangat sukar melakukan kesalahan. Dalam Kejadian 39:9 tertulis Yusuf mengatakan: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Kita tidak tahu secara detil kehidupan keseharian Yusuf, tetapi dari pengalaman hidupnya, kita menemukan bahwa Yusuf bersentuhan dengan Allah. Hal ini dibuktikan bahwa sejak kanak-kanak, Yusuf tidak terlibat dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Itulah sebabnya ia bisa mengadukan kesalahan kakak-kakaknya kepada orangtuanya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki integritas untuk hidup dalam kebenaran (Kej. 37:2). Dalam pergaulan dengan Allah, ketika Yusuf di dalam penjara, ia bisa menafsirkan mimpi pejabat minuman dan pejabat makanan Firaun. Bahkan kemudian hari, ia menafsirkan mimpi Firaun. Semua ini menunjukkan bahwa Yusuf adalah seorang yang bergaul dengan Allah dan peka mendengar suara-Nya. 

Yusuf menghayati keberadaan Allah atau menghayati realitas. Hal ini membuat ia memiliki kegentaran terhadap Allah yang membuat dirinya tidak berbuat berdosa. Tentu saja ini berbeda dengan kegentaran roh-roh jahat. Roh-roh jahat gemetar di hadapan Allah karena tidak memiliki relasi yang baik dengan Allah, dan roh-roh jahat memang tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan hubungan dengan Allah. Orang yang benar-benar memiliki perjumpaan atau pertemuan dengan Allah—sehingga dapat memiliki hubungan interaksi dan interpersonal dengan Allah—pasti memiliki kegentaran akan Allah dalam seluruh perilakunya, dan dapat dilihat secara konkret. Hal tersebut pasti dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya, yaitu dari setiap kata yang diucapkan, sikap, dan perbuatan, serta segala sesuatunya. 

Dalam hal ini, perlu diingatkan bahwa berteologi bukan berarti telah mengalami perjumpaan dengan Allah. Seorang teolog belum tentu memiliki rasa takut akan Allah yang benar, dan benar-benar hidup dalam kesucian. Bahkan, tidak sedikit mereka yang memisahkan diri dari Allah dengan alasan teologi tersebut. Tidak sedikit di antara mereka yang telah disesatkan oleh dirinya sendiri. Mereka merasa bahwa dengan berteologi, mereka sudah ada di pihak Allah dan memiliki perkenanan-Nya. Inilah yang menjadi kausalitas prima (penyebab utama) dari kemerosotan gereja-gereja di dunia, khususnya di dunia Barat. Melalui hal ini, saya mengajak para teolog untuk berjuang menemukan Allah di dalam kehidupan secara konkret, sehingga kita bisa membagikan atau mengimpartasikan spirit kepada jemaat dengan benar.

Dewasa ini, di media sosial tampil banyak pembicara yang mengaku sebagai orang yang mengerti doktrin paling benar, bahkan mengaku sebagai pembela kebenaran dengan menuduh dan mencap orang lain sebagai sesat dan bidat. Dari pernyataan-pernyataan mereka, bisa ditimbang: “Apakah mereka memiliki kesantunan hidup dan tindakan arif sebagai seorang yang pernah menerima edukasi formal?” Ternyata, dari sikapnya saja sudah tidak menunjukkan mereka memiliki kesantunan dan kearifan sebagai seorang yang pernah memiliki pendidikan yang baik. Dari pernyataan-pernyataan mereka, banyak orang Kristen yang telah tergarami spirit atau gairah yang tidak memancarkan pribadi Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan teologi tidaklah menjamin perilaku santun, apa lagi kesucian berstandar Allah. Seorang teolog atau pendeta bisa ada dalam kawasan teologi, tetapi belum tentu ada di kawasan rohani. Bila seorang teolog atau pendeta terjebak dalam area teologi tanpa perjumpaan dengan Allah, perilaku mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka dapat mengubah konsep berpikir orang lain sekitar doktrin, tetapi mereka tidak dapat mengubah perilaku orang menjadi seperti Yesus, karena mereka sendiri juga tidak bertumbuh makin seperti Yesus.

Kepada jemaat, perlu diingatkan bahwa tidak semua orang yang membawa Alkitab pasti memancarkan kebenaran Allah yang murni. Tidak semua orang yang berjabatan rohaniwan, pendeta, penginjil, atau mereka yang mengaku sebagai hamba Tuhan, benar-benar hamba Tuhan. Dunia ini sudah begitu gelapnya sampai kegelapan bukan hanya menyelimuti dunia sekuler, tetapi juga menyelimuti kehidupan orang-orang Kristen di lingkungan gereja, sinode, lembaga-lembaga Kristen, pendidikan Kristen, dan berbagai aktivitas yang terbungkus label “pelayanan,” tetapi sebenarnya banyak agenda pribadi manusia yang memotorinya. Kalau yang memotori adalah pribadi manusia atau apa yang dipikirkan manusia, berarti itu bukan yang dipikirkan oleh Allah. Maka, mereka tidak pernah menjadi utusan Kristus yang sejati. Mereka dapat mengubah konsep berpikir orang lain sekitar doktrin, tetapi mereka tidak dapat mengubah perilaku orang menjadi seperti Yesus, karena mereka sendiri juga tidak bertumbuh makin seperti Yesus.