Kasih yang Bertumbuh Melalui Pengalaman

Saudaraku,

Harus diakui tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dengan kasih yang pantas. Kalau untuk pasangan hidup, anak-anak, orangtua dan objek lain dalam hidup, seseorang bisa mengasihi secara limpah, maka seharusnya untuk Tuhan bisa diberikan secara lebih berlimpah. Tetapi faktanya, sering Tuhan hanya diberi remah-remahnya, bukan kasih yang tulus dalam porsi yang pantas untuk Pribadi yang telah memberikan diri-Nya untuk menyelamatkan kita. Manusia (termasuk di dalamnya banyak orang kristen) telah terbiasa dengan irama mengasihi apa yang kelihatan, yang bisa dirasakan secara jiwani dan fisik. Irama ini kalau sudah menyatu kuat di dalam diri seseorang, maka ia tidak akan pernah bisa lepas sampai menutup mata. Ini berarti ia tidak pernah mengasihi Tuhan secara pantas. Betapa malangnya. Kalau pun ia bisa menyatakan mengasihi Tuhan dengan mulutnya, sebenarnya ia belum mengerti apa yang dimaksud dengan mengasihi Tuhan itu. Kasihnya kepada Tuhan hanyalah manipulasi perasaan yang dibuat-buat sesaat. Dalam hal ini Tuhan sering dipermainkan dalam liturgi kebaktian. Tuhan menerima pengakuan, pujian dan penyembahan yang bernilai semu; hanya fantasi. Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun, sampai seseorang tidak mengenali antara ketulusan dan kepura-puraan.

Sejatinya, pengalaman “berkasih-kasihan dengan Tuhan” adalah pengalaman terindah dalam hidup ini. Seharusnya berkenaan dengan hal ini setiap kita mencapai level yang ideal dalam berkasih-kasihan dengan Tuhan. Untuk ini kita harus menetapkan hati untuk mengasihi Dia dan berusaha mewujudkannya dengan perjuangan yang serius. Harus disadari bahwa kekuatan musuh juga berusaha menarik hati orang untuk memberikan cintanya bagi yang lain. Objek lain ini bisa siapa pun dan apa pun. Kalau ada sesuatu atau seseorang yang menarik perhatian, memikat dan berharga lebih dari Tuhan berarti itu adalah berhala, sebuah ketidaksetiaan. Biasanya orang seperti ini mencari Tuhan hanya karena mau memanfaatkan-Nya. Mengasihi Tuhan adalah bagian dari tujuan iman, seperti yang dikatakan oleh Petrus dalam suratnya: “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan,karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:8-9). Dengan demikian orang yang benar-benar beriman menurut Alkitab adalah orang-orang yang rela mempertaruhkan apa pun dalam hidup ini demi kepentingan Tuhan dan kemuliaan nama-Nya. Mereka pasti mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan apa pun bentuknya yang memberkati orang lain. 

Saudaraku,

Sejatinya, seberapa besar ruangan hati dan hidup seseorang yang harus disediakan bagi Tuhan? Harusnya adalah tanpa batas. Tepatnya adalah tidak ada tempat yang disediakan bagi siapa pun dan apa pun kecuali bagi Tuhan. Setelah seseorang ditebus oleh darah Tuhan Yesus, maka tidak boleh ada ruangan yang diisi oleh apa pun dan siapa pun tanpa seizin Tuhan. Mengapa? Sebab ruangan hati dan hidup kita adalah milik Tuhan sepenuhnya. Kehadiran seseorang atau sesuatu dalam hidup dan hati seharusnya untuk kesukaan-Nya. Jadi, kalau seseorang memiliki orangtua, pasangan hidup, anak dan sahabat-sahabat serta segala kekayaan dunia, semua itu dihadirkan untuk kepentingan-Nya. Bukan sebaliknya, memanfaatkan Tuhan untuk kepentingan manusia. Ini namanya memperdaya dan memanfaatkan Tuhan. Kadang sampai pada sikap memanipulasi Tuhan. Dalam hal ini kita bergumul setiap hari untuk membersihkan ruangan hati kita dari sampah-sampah yang tidak disukai oleh Tuhan. Kalau seseorang itu adalah pasangan hidup atau anak atau orangtua bukan berarti kita harus membenci dan membuang mereka, tetapi sikap hati kita yang harus diubah. Kalau sesuatu itu adalah harta, bukan berarti kita membuang harta kita, tetapi sikap terhadap harta tersebut. Sikap yang salah adalah sampah yang melukai hati Tuhan

Ketika kita harus mencabut sesuatu atau seseorang dari hati dan kehidupan kita ini, maka ada penderitaan atau sakit yang dirasakan. Tetapi melalui proses ini seseorang mencangkul hatinya untuk menumbuhkan cinta yang membara kepada Tuhan. Komitmen untuk mengasihi Tuhan dimatangkan melalui peristiwa kehidupan setiap hari (Rm. 8:28-29). Dengan pengalaman seperti itu kasih yang benar dan tulus kepada Tuhan akan tertanam kuat. Dalam hal ini kasih kepada Tuhan membutuhkan proses pertumbuhan. Dalam kenyataan hidup dapat dibuktikan bahwa kasih kepada Tuhan bertumbuh melalui peristiwa dan pengalaman hidup yang dialami seseorang. Itulah sebabnya mengasihi Tuhan tidak bisa ditumbuhkan dalam satu hari. Pengalaman-pengalaman hidup juga merupakan latihan untuk mengasihi Tuhan secara konkret dan membuktikan apakah kita benar-benar mengasihi Dia. Dalam perjalanan menumbuhkan kasih kepada Tuhan itulah terjadi pengalaman berkasih-kasihan dengan Tuhan. Semakin banyak pengalaman belajar mengasihi Tuhan dan membuktikan kasih itu, maka pertumbuhan kasih kepada Tuhan semakin cepat. Hal ini akan menciptakan suatu perasaan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Dalam kenyataan hidup dapat dibuktikan bahwa kasih kepada Tuhan bertumbuh melalui peristiwa dan pengalaman hidup yang dialami seseorang.