Jejak Anak Allah

Selagi kita masih punya kesempatan untuk “menyangkal diri”—yang dikalimatkan sebagai mematikan keinginan, hasrat, minat, cita-cita, tujuan untuk diri sendiri—selagi masih punya kesempatan untuk itu, lakukan. Sebab, ada saatnya diri kita menjadi monster yang begitu kuat, sampai kita tidak akan mampu mematikan diri sendiri. Itu berarti kita memilih untuk tidak sampai kepada Bapa. Yang merusak banyak kehidupan iman Kristen adalah ketika mengesankan bahwa masuk surga itu mudah. Sehingga, kita lebih fokus kepada banyak hal, kita tidak pernah selesai dengan diri sendiri. Masih banyak keinginan, cita-cita, ambisi. Belum ego, harga diri, prestise, gila hormat, gila panggung, sampai tidak mengenal diri sendiri. Kita harus berubah. Berbahagialah orang yang menyenangkan Tuhan. Kita menjadi biji mata Tuhan, dan kematian kita menjadi berharga. 

Ada Pribadi yang Mahacerdas, yang menciptakan langit dan bumi dengan segala tatanannya yang sempurna; bumi dengan siklus alam dan hukum-hukumnya, manusia dengan metabolisme tubuh yang sempurna, yang masih menyimpan banyak misteri bagi manusia itu sendiri. Karenanya, tidak pernah berhenti penyelidikan; research mengenai tubuh manusia. Dia adalah Allah. Satu-satunya Allah yang menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah atau Elohim yang namanya Yahweh; Allah Israel. Dialah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Allah dan Bapa kita semua. Dialah sumber kehidupan. Dialah yang menciptakan manusia. 

Yesus datang ke dunia menebus dosa kita. Mengajarkan Injil, memberi contoh peragaan hidup bagaimana seharusnya manusia hidup. Dan kita semua tahu bahwa inilah model manusia yang Allah kehendaki. Kedatangan Tuhan Yesus untuk memperdamaikan kembali antara Allah dan manusia. Ini bukan suatu wacana pasif, melainkan sebuah panggilan aktif dimana manusia bukan hanya ditebus oleh Tuhan Yesus, diampuni dosanya, dibenarkan atau dianggap benar, melainkan juga dimuridkan, didewasakan, diubah untuk memiliki kualitas hidup yang bisa bersekutu dengan Allah Bapa. Karena Allah Bapa memiliki tatanan, Dia tidak bisa menyangkali tatanan-Nya. Hanya orang kudus yang bisa melihat Allah. Hanya orang suci yang bisa bersekutu dengan Allah. Makanya, orang percaya harus suci seperti Allah. “Akulah jalannya, ikuti jejak-Ku. Belajar kebenaran yang Kuajarkan, dan kenali hidup yang Kuperagakan. Supaya engkau memiliki hidup seperti hidup yang Kumiliki.” 

Kualitas hidup manusia ditentukan bukan pengetahuan yang dia pahami tentang Allah, melainkan perilakunya serupa dengan Yesus, dan karakter Bapa yang dimilikinya. Dan Allah Bapa ingin berjalan serta bersekutu dengan orang yang sekarakter dengan diri-Nya. Karena, memang rancangan Allah semula menciptakan manusia segambar dan serupa dengan Dia. Inilah sebabnya, gereja harus menjadi sekolah Alkitab yang benar. Yang studinya bukan 5-6 jam di bangku kuliah, tapi 24 jam setiap hari; 7 hari seminggu, 30-31 hari sebulan, dan sepanjang tahun umur hidup kita. Yang setiap kita harus evaluasi, “seberapa jauh aku telah memiliki peningkatan atau pertumbuhan?” Kalau kita masih tidak menyukai kematian, takut menghadapi kematian, berarti ada yang salah. Kita pasti tidak bersuka menyambut kedatangan Tuhan. Padahal, bumi ini bumi yang terkutuk, yang menumbuhkan onak dan duri. 

Tuhan sudah menetapkan “dengan berpeluh, engkau hidup di bumi.” Karenanya, kita menantikan langit baru bumi baru. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita hari ini, tidak masalah. Yang penting, kita bertumbuh terus. Sampai pada tingkat: “setiap tarikan nafasku, setiap detak jantungku, denyut dan nadiku, untuk Tuhan.” Dan Dia alasan kita hidup. Baru kita ditempatkan pada tempat yang benar, dimana kita hidup hanya untuk kesukaan Allah. Pada umumnya, orang berkhotbah mau membagikan pengetahuan tentang Tuhan. Tidak salah, memang. Tapi spirit yang harus disalurkan, spirit yang harus dibagikan, haruslah spirit yang menantang orang untuk kembali kepada gambar semula Allah, untuk serupa dengan Dia. 

Kita mesti dengan jujur periksa diri sendiri. Model manusia seperti kita ini, layak tidak masuk istana Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, dimuliakan bersama Yesus? Mungkin kita sering gentar, dalam hati nurani kita merasa bahwa kita belumlah menjadi manusia yang layak. Apalagi kalau kemudian ditunjukkan beberapa kelemahan atau kekurangan kita yang muncul ketika merespons sebuah keadaan, dan kita sadar, “ada yang salah dengan ini. Mestinya aku sudah tidak bersikap demikian.” Maka, dengan kerendahan hati, kita harus minta diubahkan. 

Banyak orang sibuk dengan dirinya sendiri, dan mau hidup wajar seperti manusia lain dengan segala kesenangan dan kesukaannya. Padahal, kita orang-orang istimewa yang dipanggil, dipilih untuk menjadi umat Allah. Pertarungannya adalah segenap hidup kita. Yesus memberikan segenap diri-Nya, maka kita juga harus memberikan segenap diri kita untuk bisa mencapai kehidupan seperti yang dicapai oleh Yesus. Hendaknya sebelum kita meninggal, kita menorehkan kisah jejak anak Allah. Dan orang yang menorehkan kisah jejak anak Allah, akan punya jejak kekal di Kerajaan Surga. 

Orang yang menorehkan kisah jejak anak Allah, akan punya jejak kekal di Kerajaan Surga.