Jangan Mempermainkan Allah

Saudaraku sekalian yang kekasih,

Semakin banyak kita duduk diam di kaki Tuhan dan kita belajar kebenaran-kebenaran Firman yang Tuhan singkapkan, semakin kita menyadari betapa rusaknya kita di hadapan Allah. Kita memang tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang bejat seperti manusia pada umumnya, tetapi ketika kita di hadapan kekudusan Allah, kita bisa merasakan dan bisa mengerti betapa rusaknya kita. Kita bersyukur atas kesabaran Tuhan menantikan kita untuk bertobat dan berubah, guna bisa mengimbangi kesucian Allah, mengimbangi keagungan kepribadian-Nya. Betapa banyak kesombongan yang kita lakukan, baik terang-terangan terbuka maupun terselubung dalam hati kita. Betapa banyak ketidaktulusan, baik terbuka maupun hanya kita sendiri yang tahu.

Bapa sabar, panjang sabar, penuh kemurahan, tetapi tentu kita tidak boleh mempermainkan Allah karena kesabaran-Nya, lalu kita sembarangan hidup. Bahaya sekali, sebab setiap ketidaktaatan itu ada hukumannya, ada pukulannya. Kita harus sungguh-sungguh mau selalu mengoreksi diri. Jangan menunda pertobatan, jangan menunda meninggalkan segala kebiasaan dan semua kebiasaan hidup yang tidak sesuai kehendak Allah dan yang mendukakan hati Allah. Firman Tuhan mengatakan, di dalam Ibrani 12:4, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.” Artinya kita belum benar-benar serius, belum benar-benar maksimal, belum benar-benar all out. Jadi kalau Tuhan masih memberi kita kesempatan, kita tidak boleh menyia-nyiakannya. Jangan berkata, “Saya manusia yang penuh kekurangan dan kelemahan, jadi maklumlah.” Saudara bisa lemah, tapi Saudara juga bisa kuat; tergantung Saudara sendiri dan Tuhan akan memberikan kita kekuatan kalau kita menguatkan diri kita sendiri.

Seperti perkataan Tuhan kepada Yosua, “Kuatkan dan teguhkan hatimu, jangan tawar hati, maju terus, taklukkan Kanaan.” Kita juga tidak boleh tawar hati dan lemah. Taklukkan kedaginganmu, taklukkan manusia lamamu, harus bergairah dan kuat; “Dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah.” Jadi kita harus maksimal, harus all out, smapai “mencucurkan darah.” Ini bicara soal nyawa, kehidupan, titik klimaks. Ibrani 12:5, “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.”  Jangan kita anggap remeh perkara ini. Kita tidak mau segera bertobat membenahi diri, kita mengulur-ulur waktu mau berubah, jangan sampai dipukul, jangan sampai diperingatkan, sakit nanti, sakit luar biasa; Jangan main-main dengan Tuhan!

Dengan kebenaran ini kiranya kita membangkitkan gairah kita, semangat kita untuk keluar dari keadaan kita yang bobrok, yang rusak. Dan Roh Kudus pasti menuntun kita yang akan membawa kita kepada kebenaran, kesucian Allah, kesempurnaan Bapa dan keserupaan dengan Yesus. Jangan berhenti berdoa, jangan berhenti mencari Firman Tuhan agar kita lebih menghayati kekudusan Allah dan kita terpacu untuk mengejarnya. Kejarlah kasih, sama dengan kejarlah kekudusan. Kita yang harus mengejar, kita yang harus memburu, kita yang harus benar-benar mengusahakan itu dengan mempertaruhkan darah, mencucurkan darah. Berarti kita maksimal, all out.

Kita sudah pernah all out untuk pendidikan, demi gelar. Kita sudah all out tentunya dalam mencari nafkah, mengembangkan karier, mengembangkan usaha. Tetapi apakah kita sudah all out untuk menemukan Tuhan? Artinya kita all out untuk menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan agar kita layak bertemu dengan Tuhan dan hidup dalam persekutuan dengan Bapa. Itu namanya menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan bukan hanya menemukan pengetahuan tentang Tuhan lalu mengaku beragama, tetapi bagaimana kita terus mengembangkan diri untuk hidup tak bercacat, tak bercela, hidup kudus tidak mencintai dunia, supaya kita bisa krek dengan Allah. Di situlah sebenarnya kita baru benar-benar menemukan Allah. Di situlah kita baru benar-benar menggenapi yang dikatakan Firman Tuhan di dalam Yohanes 17:20-21, “Bapa tinggal dalam Yesus, Anak Putra Tunggal-Nya dan Yesus tinggal dalam Bapa dan orang percaya tinggal di dalam Bapa dan Anak.”

Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Kalau engkau tinggal dalam Aku, Aku dalam kamu, mintalah apa saja.” Artinya kalau kita sudah tinggal di dalam-Nya, Tuhan di dalam kita, maka pasti tidak ada permintaan yang salah. Pasti kita mengerti apa yang memang Allah kehendaki untuk kita minta dan Allah akan berikan. Sehingga kita tidak meleset dalam seluruh perilaku, tindakan dan perbuatan kita. Semakin kita ada di hadirat Allah, semakin kita belajar kebenaran, ada kegentaran dalam diri kita. Dan ketika kita menyadari betapa tidak layaknya kita di hadapan Allah, maka di situ kita bertumbuh dalam kesadaran betapa terhormatnya Allah dan betapa sepatutnya kita menghormati Dia. Allah melayakkan kita untuk menjadi anak-anak-Nya dan hidup di hadirat-Nya. Ini luar biasa. Mari kita mulai hari ini bangkit, serius untuk hidup tak bercacat, tak bercela, serius tidak mencintai dunia.

Tuhan Yesus memberkati

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Bapa itu panjang sabar, tetapi jangan kita mempermainkan Allah karena kesabaran-Nya, lalu kita sembarangan hidup.