Jaga Dirimu

Kita harus menjaga diri secara benar, yang memang itu menjadi bagian kita. Ini terkait dengan keselamatan kekal. Tuhan tidak menghindarkan kita dari hal-hal yang dapat menggagalkan kita sampai ke Kerajaan Surga, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Hal ini sama dengan Allah tidak menghindarkan bangsa Israel dari berbagai halangan dan rintangan dalam perjalanan mereka dari Mesir ke Kanaan. 1 Korintus 10:6 mengatakan, “Semua itu ditulis sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita mengingini hal-hal jahat seperti yang telah mereka perbuat.” 1 Korintus 10:11, “semua ini telah menimpa mereka sebagai contoh. Dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu dimana zaman akhir telah tiba.” 

Allah tidak melarang ular yang adalah personifikasi dari Iblis, ada di taman Eden. Allah juga yang memberikan ‘lisensi’ kepada setan untuk mencobai Ayub. Bapa juga tidak menghindarkan Yesus dari pencobaan, sampai di kayu salib. Tuhan tidak menutup pintu Iblis berbisik dan merasuk ke Yudas. Bahkan, Iblis tidak dilarang oleh Tuhan untuk menampi Petrus. Ini ada semacam hukum atau tatanan yang Allah tidak bisa batalkan, dan harus ditegakkan. Iblis mendapat bagian untuk mencobai, guna menggagalkan keselamatan dalam hidup seseorang. Ingat, hal ini juga terjadi dalam pelayanan Yesus. Dalam Injil dikatakan, “Roh membawa Yesus ke padang gurun untuk dicobai.” Namun Yesus menang. Bagaimana dengan kita supaya tidak kalah? Jaga dirimu! 

Lukas 21:34, “Jagalah dirimu supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi, dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini.” Kalau secara otomatis orang bisa selamat, maka Tuhan tidak perlu berkata “jaga dirimu.” Dan Tuhan tidak berkata, “Kujaga kamu dari hal-hal itu.” Tidak. Berarti kita yang harus menjaga diri kita sendiri. Itu tugas dan tanggung jawab kita. Di luar kesanggupan kita, itu adalah bagian Tuhan. Tapi kamu tidak perlu tahu bagian Allah di mana. Pokoknya, Allah punya bagian. Yang kamu harus tahu, di mana bagianmu dan bagaimana kamu memenuhinya. 

Pertama, pesta pora; kraipale (κραιπάλῃ). Hal ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang tidak membahayakan. Di dalam bahasa aslinya, pengertian kata itu secara etimologis adalah “sesuatu yang membuat kepala pusing.”  Kata ini sebenarnya lebih terkait dengan “kemabukan oleh anggur.” Kalau zaman dulu, orang pesta pora selalu diwarnai dengan minum anggur sampai mabuk. Apakah salah minum anggur? Tidak. Kalau kita minum untuk mabuk, itu yang salah, apalagi sampai kecanduan. Sebenarnya ini juga bisa menjadi gambaran bagi anak-anak dunia, berbagai kesenangan yang membuat mereka menjadi mabuk. Dalam kacamata orang benar, itu kemabukan. Tapi bagi mereka yang sedang mabuk, itu kesenangan. Jadi, orang mabuk tidak sadar dirinya mabuk. Ataupun kalau dia sadar, itu merupakan kesenangan baginya. Justru itulah dunianya. Dan kalau sudah ada di situ, tidak mau dia keluar dari keadaan itu. Itu kenikmatan. 

Kedua, kemabukan; methe (μέθῃ), artinya keracunan. Kata methe ini menunjuk pada keadaan yang benar-benar parah ketika seseorang dalam tingkat keracunan. Dunia ini dengan segala suasananya telah meracuni banyak orang, sehingga mereka tidak lagi memiliki kesadaran untuk mengenal perkara-perkara rohani. Pesta pora pasti menunjuk kepada kesenangan-kesenangan dalam menikmati. Lalu methe ini bicara soal kecanduan. Kalau dari minuman keras dan lain-lain, secara harfiah, yang membuat seseorang sampai keracunan. Dan ilustrasi yang paling tepat, kalau orang mengonsumsi narkoba. Keracunan tubuhnya. Kalau dia tidak mengonsumsi, sakit dia. 

Dunia ini dengan segala suasananya telah meracuni. Tapi banyak orang Kristen yang ke gereja—apalagi aktivis, teolog, bahkan pendeta—tidak merasa keracunan. Ini mengerikan. Ketika seseorang mengingini sesuatu yang Allah tidak kehendaki dia ingini, keracunan. Ketika seseorang senang dihormati, dia sudah keracunan. Sehingga kalua dia tidak punya posisi, sakit. Dia harus dianggap penting. Dia sudah keracunan. Banyak hal yang bisa meracuni kita. Uang juga bisa meracuni. Uang itu sendiri tidak salah, tapi ketika orang merasa tidak nyaman ketika tidak punya uang, berrati dia sudah keracunan. 

Yang ketiga, kepentingan dunia; merimnais biotikais (μερίμναις βιωτικαῖς), yang menunjuk kepada kekuatiran atau kecemasan dunia; cares of this life atau anxiety of this world or anxiety of this life. Kepedulian atau kekhawatiran terhadap hidup. Kita harus memilih: peduli dengan hidup hari ini, atau dengan kehidupan yang akan datang. Apakah kita peduli dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, atau pemenuhan kebutuhan rohani? Jadi, “Jaga dirimu,” artinya perhatikan kebutuhan rohanimu!

“Jaga dirimu,” artinya perhatikan kebutuhan rohanimu.