Hikmat Manusia atau Hikmat Roh?

Manusia—termasuk orang Kristen—punya banyak alasan untuk membela perilaku dan tindakan mereka. Dalam konteks anak-anak Allah, kita juga punya alasan terhadap perilaku kita yang pada intinya tidak akan dilakukan oleh Tuhan Yesus kalau Tuhan Yesus hidup pada zaman sekarang. Tapi mengapa kita masih melakukan? Jawabannya dapat kita lihat dalam 1 Korintus 2:1-3, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.” Tentu “hikmat” di sini maksudnya adalah hikmat atau kecerdasan yang dia miliki sebagai teolog. “…sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Kemampuannya, kecerdasannya, kecakapan berbicaranya tidak akan berguna dalam menyampaikan kesaksian Allah, maka dia takut dan gentar. Maksudnya bahwa apa yang ia kerjakan itu tidak bisa dia kerjakan dengan kekuatannya, maka dia takut dan gentar. Selanjutnya di ayat ke-4, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan. Tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.”

Ini adalah sebuah rahasia penting yang membuat seseorang memiliki iman yang benar. Orang seperti ini tidak akan pindah agama dan terpengaruh dunia, sehingga tidak lagi berkarakter anak dunia. Namun kenyataan berbicara, ada pendeta pindah agama, anak pendeta pindah agama, tokoh Kristen, anak tokoh Kristen pindah agama, orang-orang Kristen yang berperilaku tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Ternyata masalahnya adalah ketika pemberitaan kebenaran Firman tidak disertai dengan kerendahan hati, tidak dengan takut dan gentar, tidak dengan keyakinan akan kekuatan Roh—namun disampaikan dengan kata-kata hikmat manusia yang meyakinkan—maka hasilnya adalah orang-orang Kristen yang tidak kokoh, tidak tangguh, tidak kuat. Sebab imannya bergantung pada hikmat manusia, bukan pada kekuatan Allah. Tetapi Paulus menyampaikannya dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar, sebab dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukan itu dengan kekuatannya sendiri.

Pada umumnya, semakin orang percaya diri, semakin orang memiliki pengalaman banyak—apalagi punya gelar, punya prestasi—semakin ia tidak mengandalkan kekuatan Roh, namun mengandalkan kekuatannya sendiri. Iman orang yang mendengar firman yang bergantung pada hikmat manusia—bukan pada hikmat Allah—tidak memiliki relasi dengan Tuhan. Hikmat Allah maksudnya adalah penempatan kata dan sikap yang tepat sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk disampaikan. Tapi masalahnya, bagaimana orang bisa memiliki pemberitaan yang disertai kekuatan Roh, kalau ia tidak berjalan dengan Tuhan setiap hari? Tidak ada koneksi antara pikiran orang itu dengan Allah. Semua terformat dalam kalimat atau menjadi perbendaharaan di dalam pikiran. Bisa khotbah 60 menit, satu jam setengah pun bisa; bukan tidak bisa. Memang ia terlatih untuk itu. Tapi apakah dilatih untuk memiliki keyakinan akan kekuatan Roh? Untuk itu, seseorang tiap hari harus berjalan dengan Tuhan.

Bagi para orangtua, coba perhatikan, mengapa nasihatmu kepada anak-anakmu seperti angin lalu? Dianggap ringan. Sama seperti pembicara Firman tadi, karena kita mengandalkan kekuatan diri sendiri; merasa telah memiliki pengalaman hidup dan hikmat manusia. Namun apabila kita mengandalkan kekuatan Roh—di dalamnya ada kekuatan Allah—pasti nasihat kita akan bergema lebih kuat. Di sisi lain, banyak orangtua yang pada saat berbicara kepada anak seperti senapan mesin—banyak kata dan tidak ada jeda–namun anak-anak tidak merasa tersentuh. Maka dalam hal ini, kita tidak boleh bicara sembarangan lagi. Kalau tidak perlu diucapkan, jangan diucapkan. Termasuk apa yang kita sampaikan melalui medsos atau gadget. Kalau tidak perlu membuat kalimat untuk orang tertentu, maka tidak perlu menulis sesuatu. Kadang-kadang kita bermaksud untuk “lucu-lucuan.” Kalau kita mau memiliki lidah yang berkuasa, tidak ada “lucu-lucuan” seperti itu. Belum lagi lucu-lucuan di situ mengorbankan orang atau ada unsur jorok atau porno. Kita bisa menyampaikan kata-kata hikmat yang meyakinkan dan orang jadi percaya. Misalnya: orang yang bekerja sebagai sales yang berpengalaman, ia bisa meyakinkan orang dari tidak bermaksud membeli, jadi membeli. Tapi jangan coba-coba dengan pekerjaan Tuhan. Ini Firman Allah. Bukan melulu hal seni bicara, tapi kekuatan Roh. Tidak salah dengan ilmu atau seni bicara, tapi semua hanya teori. Nyatanya, banyak orator atau pembicara hebat, tapi jemaat tidak berubah, malah pindah agama. Di mana letak salahnya?

Ketika pemberitaan kebenaran Firman tidak disertai dengan kerendahan hati, tidak dengan takut dan gentar, tidak dengan keyakinan akan kekuatan Roh—namun disampaikan dengan kata-kata hikmat manusia yang meyakinkan—maka hasilnya adalah orang-orang Kristen yang tidak kokoh, tidak tangguh, dan tidak kuat.