Hidup yang Berpengharapan 

Dalam Lukas 20:36 tertulis, “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Kalimat penting yang harus kita perhatikan dari deret kata, kalimat dalam ayat ini adalah “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Allah semua orang hidup.” Allah orang hidup, artinya bahwa Allah menciptakan manusia agar berkeadaan hidup. “Hidup” artinya memiliki fisik atau tubuh yang bergerak dan beraktivitas; makan, minum, dan melakukan segala kegiatan, serta dapat bersentuhan atau berinteraksi dengan Allah dan ciptaan-Nya. 

Tentu pula dengan kehendak bebas, bukan robot yang diatur dengan remote control. Betapa indahnya kehidupan ini kalau manusia berkeadaan demikian; memiliki fisik atau tubuh yang dapat bergerak, makan, minum, dan melakukan segala aktivitas, serta dapat berinteraksi dengan Allah; berinteraksi dan bersentuhan dengan ciptaan Allah lain, baik hewan, tumbuh-tumbuhan, dan segala sesuatu dalam tatanan Allah. Dan disertai dengan kehendak bebas. Selanjutnya, dengan keadaan seperti ini, manusia dalam kesadaran penuh, dan kerelaan di dalam kehendak bebasnya selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sesuai dengan kehendak Tuhan. Kehidupan seperti ini menyukakan hati Allah yang menciptakan. Dan inilah sebenarnya rancangan Allah semula. Kehendak dan rencana-rencana-Nya dipercayakan kepada makhluk ciptaan yang agung, yang diciptakan menurut gambar dan direncanakan serupa dengan Allah. 

Tetapi ternyata rancangan Allah ini tertunda, sebab manusia telah menjadi manusia yang tidak bisa berinteraksi dengan Allah secara benar; manusia tidak mampu berbuat sesuatu yang selalu sesuai dengan kehendak Allah (Rm. 3:23). Sehingga, manusia tidak bisa memproduksi kehendak-kehendak yang tepat seperti yang Allah inginkan. Ini namanya “kehilangan kemuliaan Allah.” Tetapi bukan berarti manusia menjadi bejat. Memang, ada yang menjadi bejat. Tetapi tidak semua orang menjadi bejat. Manusia bisa tetap menjadi baik, tetapi kebaikan manusia bukanlah kebaikan standar Allah karena masih berkeadaan meleset. Dan ciptaan Allah yang sempurna ini, yang dikatakan “sungguh amat baik,” tidak bisa dikelola oleh makhluk yang meleset.

Itulah sebabnya tidak ada kejadian yang lebih tragis dari kehidupan manusia di bumi ini, selain ketika manusia makan buah yang dilarang Allah untuk dimakan atau dikonsumsi. Tuhan berkata, “Pada hari kamu makan buah itu, kamu mati.” Di sini berarti manusia mengalami proses penuaan yang akan berujung kepada kematian (fisik). Tetapi selain itu, dengan makan buah yang dilarang Allah untuk dikonsumsi, manusia kehilangan kemampuan untuk memiliki ketepatan bertindak seperti yang Allah inginkan. Dan manusia yang tidak memiliki ketepatan bertindak, tidak mungkin bisa mengelola alam semesta ini dengan sempurna, karena alam semesta ini diciptakan Allah dengan sempurna. Jadi, bumi ikut terhukum. Maka, Allah menumbuhkan onak dan duri, dan bumi menjadi hunian yang tidak ideal, yang nanti akan berujung menjadi lautan api. Oleh karenanya, harus ada hunian lain. Dan Yesus berkata, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu, supaya di mana Aku ada, kamu ada.”

Kematian manusia membuat manusia tidak lagi memiliki pengharapan. Proses penuaan yang berujung kepada kematian, itu membuat manusia tidak lagi memiliki pengharapan. Sejatinya, begitu manusia lahir, ia sudah dieksekusi hukuman mati. Bisa 3 hari, 30 hari, 3 bulan, 3 tahun, 30 tahun, atau lebih. Manusia dilahirkan untuk mati, yang Alkitab katakan “ditetapkan untuk mati.” Dan manusia hidup di bawah bayang-bayang maut, artinya manusia bisa berkemungkinan bukan hanya mati secara fisik, tapi juga bisa mengalami kematian kedua: terpisah dari hadirat Allah. Inilah kehidupan manusia yang tidak berpengharapan. Kita bersyukur karena kita mengenal Tuhan Yesus, Juruselamat yang menderita mati, menebus dosa-dosa kita, dan bangkit. Kebangkitan Yesus dari kematian memberi pengharapan, membuat kehidupan ini berpengharapan. Rancangan Allah untuk memiliki makhluk hidup bisa terwujud. Manusia yang berfisik, memiliki tubuh, makan, minum, beraktivitas, tapi juga bisa berinteraksi secara ideal dengan Allah, Bapanya. Manusia dapat berinteraksi dan bersentuhan dengan ciptaan Allah yang lain. Karenanya, kita harus mengerti bahwa langit baru bumi baru bukan hanya tempat orang kumpul-kumpul memuji, menyembah Tuhan dengan nyanyian, tapi sebuah kehidupan yang berlangsung sesuai rancangan Allah semula dimana tidak ada onak duri yang ditumbuhkan, tetapi manusianya harus kembali dulu sesuai rancangan Allah semula.

Kebangkitan Yesus dari kematian membuat kehidupan berpengharapan.