Hidup Terasa Ringan

Saudaraku sekalian yang kekasih,

Saya berharap kita semua terus bertumbuh sampai kita benar-benar bisa memindahkan hati kita di surga. Tuhan Yesus sendiri yang mengatakan di dalam Matius 6:21, “Di mana ada hartamu di situ hatimu berada.”  Kita telah begitu lama meletakkan hati di bumi ini. Sudah tertanam, terikat, terbelenggu; yang kita pandang sebagai harta, kekayaan, kesenangan, kelengkapan hidup; yaitu apa yang ada di bumi saat ini. Dan kita sudah terbelenggu selama belasan tahun. Bagi yang sudah berusia lanjut, sudah puluhan tahun. Dalam stadium tertentu, seseorang bisa berkeadaan tidak bisa terlepas lagi dari ikatan-ikatan dunia tersebut. Puji Tuhan kalau kita masih bisa terlepas. Ini sulit sebenarnya. Tetapi kebenaran demi kebenaran yang kita dengar memperbaharui pikiran kita.

Hadirat Tuhan yang kita rasakan dan proses pertumbuhan rohani melalui setiap peristiwa dan keadaan yang terus kita alami bisa mencabut hati kita dari ikatan dunia ini. Dan kalau kita bisa makin terlepas, maka hidup kita menjadi ringan. Saldo di rekening bank kita, tidak akan banyak memengaruhi kita; bahkan bisa tidak memengaruhi kita sama sekali. Ya sudah seadanya itu, yang penting kita lewati dari hari ke hari. Kita tidak lagi mengingini barang-barang apa pun kecuali barang itu memang kita gunakan untuk pelayanan, untuk kegiatan hidup. Tidak salah nonton film yang bagus, kalau itu memiliki atau memberi inspirasi yang bagus, tapi kalau kemudian menjadi ikatan, itu salah.

Kita harus makin hari makin terlepas; “Di mana ada hartamu di situ hatimu berada.” Satu hal yang Tuhan ajarkan kepada kita adalah kalau kita tidak sungguh-sungguh, kita tidak mungkin merindukan bertemu dengan Tuhan Yesus. Hanya orang yang benar-benar mengenakan kehidupan Tuhan Yesus yang merindukan Dia. Kalau dulu kita ditampar, kita pasti membalas menampar dengan cara kita. Paling tidak, kita membela diri kita dengan membicarakan orang yang menampar kita itu. Tetapi kalau kita ikut teladan Tuhan Yesus; kita ditampar, kita diam seribu bahasa. Orang berkata, “Pak, kalau kita ditampar, lalu kita diam, malah makin kurang ajar dia.”  Sama seperti ketika Saudara memiliki kesempatan berbuat dosa, Saudara bisa menghindari tidak melakukannya, walaupun itu menyakiti daging kita. Lebih baik tidak ada kesempatan berbuat dosa daripada ada, tapi tidak boleh.Seperti orang puasa di padang pasir, itu tidak apa-apa; tapi puasa di tengah foodcourt, itu berat.

Saudara tidak berzina karena tidak ada kesempatan berzina, tidak ada partner untuk diajak berzina; tidak berat. Tapi ada kesempatan berbuat zina, punya kesempatan, punya tempat; tapi Saudara berkata tidak; itu sakit. Dan Tuhan sering membawa kita ke keadaan-keadaan seperti itu supaya kita ini memiliki kesucian yang permanen. Ibarat orang berenang, ia tiadk berenang di kolam renang yang kedalamannya hanya 1,2 meter, tapi berenang di lautan yang bergelombang 4meter; berat, tapi itu membuat ia jadi ahli renang. Kesucian itu juga harus begitu. Kalau Saudara hanya dibenci orang di dalam hati atau orang membuang muka, Saudara tidak tahu dan masih tidak berat. Tapi kalau Saudara sampai digampar, diludahi, itu berat. Tetapi kalau bisa kita lalui, baru kita bisa merindukan Tuhan Yesus Kristus. Kita akan dibawa ke situasi seperti situasi yang dialami Tuhan Yesus. Dan itu sebenarnya sebuah isyarat bahwa kita sedang diproses.

Nah, saya mengajak akhirnya Bapak/Ibu/Saudara sekalian menjadi pemberita-pemberita kebenaran seperti yang dikatakan dalam 2 Petrus 2:5. Nuh adalah seorang pemberita kebenaran; “Ayo masuk bahtera.” Kita mengajak orang, “Ayo kita ke LB3. Berhenti dari percintaan dunia.” Dan ini yang sebenarnya Tuhan ingin kita lakukan. Pokoknya akan terasa ringan nanti, kalau kita sudah tidak ingini dunia. Kita pastilah masih perlu rumah, mobil, uang; makanya, kita harus bekerja rajin, tidak boleh malas, tidak boleh malu kerja apa saja asal itu hahal. Walaupun kita sarjana, kita jualan tempe atau nasi goreng; tidak usah malu, yang penting halal.  Kerja diomelin bos, direndahkan, dihina; tidak apa-apa; yang penting anak-anak bisa makan di rumah, yang penting anak-anak bisa sekolah. Kita dikhianati kolega bisnis, dikhianati teman sekerja yang mau menyingkirkan kita di perusahaan, tidak usah membalas, diam saja. Saudara akan berkata, “wah saya tambah hancur, Pak!” Tidak akan hancur. Tuhan pasti melindungi Saudara kalau Saudara berkarakter baik, kalau Saudara itu benar. Ada Allah yang hidup!

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Hidup akan terasa ringan ketika kita sudah tidak mengingini dunia lagi