HIDUP BARU YANG SEJATI

Saudaraku,

Prinsip yang sangat penting dalam hidup kekristenan adalah pengertian bahwa Yesus dibangkitkan bukan karena Allah adalah Bapa-Nya. Jika Tetapi seperti yang dikatakan dalam Ibrani 5, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Ia belajar taat sampai mati bahkan mati di kayu salib, dan ketaatan-Nya itu dibuktikan dengan kebangkitan-Nya, sehingga Ia bisa menjadi pokok keselamatan.Jadi kalau Tuhan Yesus didesain tidak bisa bersalah, itu tidak adil. Justru, kita melecehkan Tuhan dengan pengertian yang salah itu.

Kita bersyukur kepada Bapa di surga atas pemberian Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus. Dan kita juga berterima kasih kepada Tuhan Yesus yang telah berjuang sehingga Ia dibangkitkan. Itulah sebabnya dalam Roma 8:28-29 dikatakan agar kita menjadi serupa dengan Yesus. Yang karenanya, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.” Jadi kalau hari ini kita memperingati Hari Kebangkitan Tuhan Yesus, jangan hanya bersukacita—yang oleh karena kebangkitan-Nya kita juga nanti akan mengalami kebangkitan dari antara orang mati—tetapi kita juga harus melihat tanggung jawab dan konsekuensi mengikut Yesus dan memercayai kebangkitan-Nya. Sebab dengan kebangkitan Tuhan Yesus dan kalau kita mau memiliki kebangkitan seperti Dia, berarti kita juga harus memiliki ketaatan seperti Dia.

Hidup baru yang sesungguhnya itu bukan sekadar dari agama A pindah menjadi Kristen lalu ke gereja. Atau yang tadinya suka main judi, lalu berhenti berjudi; yang tadinya seorang yang suka ribut, berantem, bahkan membunuh, berzina atau melakukan banyak perbuatan amoral, sekarang menjadi santun. Hidup baru yang sesungguhnya adalah bagaimana hidup Yesus kita peragakan utuh, penuh. Maka kita harus memiliki perasaan krisis: “Apakah sampai di tarikan nafas terakhirku, aku sudah memiliki wajah, potret batiniah seperti yang dimiliki Yesus?” Itu harus menjadi kegundahan kita, kekhawatiran kita, kecemasan kita. Tetapi tidak banyak orang yang benar-benar memiliki perasaan krisis terkait dengan hal ini, karena banyak orang hanya fokus kepada perkara duniawi. Yesus sendiri sebagai Anak Allah belajar taat dari apa yang diderita-Nya, sampai kesempurnaan.

Saudaraku,

Makanya, kita akhiri jalan hidup kita. Di tengah-tengah hiruk pikuk kehidupan ini, kita memilih menjadi seperti Yesus. Dan itu agenda kita satu-satunya. Saudara studi, karier, menikah, berkeluarga, punya anak, dan melakukan segala kegiatan hidup, tetapi semua harus terfokus kepada satu tujuan, yaitu seperti Kristus. Memang tidak ada tujuan lain dalam hidup panggilan kita sebagai orang percaya, kecuali ini. Jadi dengan menjadi orang percaya, kita memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang berat. Hidup baru yang sejati itu yang dikatakan Tuhan dalam Matius 19, hidup berkualitas. Artinya bukan jadi orang beragama Kristen saja, bukan hanya mengaku Yesus Tuhan dan Juruselamat saja, melainkan mengikuti cara hidup dan gaya hidup-Nya. Maka jika kita belum seperti Yesus berarti kita belum memiliki hidup baru yang sesungguhnya dan kita harus meratapi keadaan kita.

Hidup baru yang sesungguhnya itu seperti Yesus. Kita harus melihat ini sebagai tujuan. Lalu kalau kita sudah mengerti tujuan ini, kita harus mengalami progresivitas atau perkembangan setiap hari. Caranya bagaimana? Periksa diri. Jangan hanya berkata, “saya belum sempurna,” apanya yang belum sempurna? Hal mana kamu tidak sempurna? Salah apa yang masih kamu lakukan? Temukan, gumuli, selesaikan. Jangan berkata, “Suatu hari nanti saya berkenan. Aku tidak bermaksud mau mengkhianati Tuhan. Suatu hari nanti, aku akan sempurna.” Saudara tidak pernah sempurna, tidak akan pernah berkenan. Harus digarap sehingga hidup baru yang kita miliki nyata pertumbuhannya. Ini adalah anugerah dimana Tuhan memberi kita potensi, peluang, kemungkinan untuk memiliki hidup baru yang sesungguhnya, yang semua mengarah kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Kesempatan ini terbatas, singkat, dan kita tidak tahu kapan berakhir.

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Hidup baru yang sesungguhnya adalah ketika seseorang benar-benar memperagakan kehidupan Tuhan Yesus secara utuh.