Skip to content

Harus Dihadapi

Dalam hidup ini, kita dapati ada 2 jenis masalah, yaitu: pertama, masalah yang menyangkut hal-hal fana; seperti kebutuhan jasmani. Kedua, masalah yang membawa kita kepada kesempurnaan. Dua ini tidak bisa dipisahkan. Tapi orang yang masih tenggelam dalam masalah-masalah yang menyangkut hidup fana, biasanya belum dewasa. Agama-agama di dunia mengajarkan ketegaran dalam menyelesaikan masalah jenis pertama ini. Setelah melewati kawasan pertama, kita masuk ke dalam kawasan kedua, dimana lewat ketegaran kita dibentuk Tuhan menjadi sempurna. Masalah tetap Tuhan izinkan karena ini menjadi katup pengaman; khususnya bagi orang-orang tertentu. Dimana kalau tidak ada masalah sama sekali, bisa bablas. 

Tegar artinya kuat, kokoh, tahan menghadapi badai; dalam hal ini persoalan hidup. Kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang sebenarnya tidak ideal lagi untuk dihuni. Dan hidup seperti yang kita jalani hari ini, sebenarnya bukanlah hidup yang Allah kehendaki. Jadi jangan kita berharap memiliki kebagiaan yang ideal di bumi ini; tidak akan pernah. Orang yang memaksa untuk bisa memiliki kebahagiaan yang ideal merupakan mangsa empuk kuasa kegelapan. Seperti ikan yang sudah siap untuk dijaring atau dipancing. Jadi, jangan sampai kita terjebak oleh pemikiran yang keliru ini. 

Kita tidak mungkin tidak punya persoalan. Jadi kalau kita ikut Tuhan Yesus supaya bebas dari masalah; kita salah, kita keliru, dan kita pasti menjadi rapuh. Masalah tidak mungkin tidak kita alami. Tapi Allah itu mengatur semua dengan sempurna, apalagi untuk anak-anak-Nya. Maka jangan lawan Dia. Dia sediakan yang terbaik untuk kita. Kok kita marah? Mungkin kita pernah dengar orang berkata—atau kita yang mengucapkan—”Tuhan jahat!” Pasti ada masalah, tapi Tuhan kontrol semua. Dan pencobaan tidak melebihi kekuatan manusia; bukan kekuatan anak Tuhan. Jadi manusia manapun sebenarnya ditopang, dilindungi oleh Tuhan, karena Tuhan itu Allah atas semua makhluk manusia. Tuhan menopang. 

Jadi kita harus mempersenjatai diri dengan pikiran: masalah harus dihadapi. Memang ada ayat yang mengatakan, “Tuhan berperang ganti kita.” Kalau bangsa Israel begitu. Yang dilawan itu manusia. Israel lemah, Tuhan turun. Tapi itu pun tidak selalu. Nah, kalau Kristen yang dilawan adalah daging kita sendiri. Bagaimana cara Allah berperang ganti kita? Kita yang mesti mematikan diri kita sendiri. Ada setan di pikiran yang harus kita matikan. Kalau tidak dimatikan, dia bisa berbisik; “Maka berbisiklah Iblis kepada Yudas…” Kalau orang setiap hari bersekutu dengan setan, yang didengar adalah suara setan. 

Sebaliknya, kalau setiap hari bergaul dengan Roh Kudus, dengan Firman Tuhan, maka Roh Kudus yang ditaruh dalam diri kita akan mendewasakan lewat setiap kejadian dan masalah. Ini prinsip penting, fundamental. Jadi kita persenjatai diri dengan pengertian bahwa kita hidup di dunia sudah jatuh, tidak ideal. Jangan harapkan kebahagiaan di bumi ini. Tapi ajaibnya Tuhan, persoalan diberikan supaya kita diubah, karena Allah bisa mengubah kita lewat persoalan. Bagaimana kita bisa tegar kalau kita tidak punya pengertian yang benar? Seperti seseorang yang mau sembuh tanpa pengobatan; mau dapat ijazah tanpa sekolah; tidak bisa! 

Jadi bagi kita, masalah harus dihadapi. Tidak usah minta tolong pun, Tuhan pasti tolong. Namun masalahnya adalah bagaimana masalah ini melahirkan kedewasaan. Ketika seorang Kristen baru mendapat masalah, Tuhan segera tolong, karena Tuhan mau menunjukkan, “Aku ada, Aku hidup.” Kadang-kadang, malah belum jadi Kristen dikasih masalah, lalu diberi mukjizat. Dari mukjizat tersebut, dia mengenal ada Allah yang hidup. Jadi, tujuan Tuhan mengizinkan masalah dalam hidup kita adalah: Pertama, mendewasakan mental. Kedua, membuktikan bahwa Allah itu hidup. Ketiga, supaya kita memiliki empati kepada orang lain. Keempat, supaya tahu bahwa dunia ini bukan tempat yang ideal untuk dihuni. 

Bagi orang Kristen baru yang punya masalah, kita tidak bisa berkata, “Itu mendewasakan,” kadang-kadang belum bisa. Sebaliknya, kita serukan: “Tuhan, tolong buka jalan, nyatakan kemuliaan-Mu.” Dan itu tidak salah. Tapi kalau kita sudah ikut Tuhan 20-30 tahun, sakit, kita harus bertanggung jawab. Jadi, masalah Tuhan izinkan terjadi supaya kita tegar. Tapi ingat, tidak hanya orang Kristen yang bertumbuh dewasa lewat masalah, pergumulan dan pengalaman, orang non-Kristen pun dapat mengalaminya. Proses penderitaan membuat kita berempati kepada sesama. 

Kita harus mempersenjatai diri dengan pikiran: masalah harus dihadapi