Hari Terakhir

Dalam 2 Petrus 3:10a tertulis, “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri.” Maksudnya, Tuhan tidak memberitahu dengan tepat tentang waktu kedatangan-Nya. Tuhan memberikan tanda-tanda bahwa kedatangan-Nya sudah dekat, tetapi tepat waktu kedatangan-Nya, Tuhan tidak memberitahu. Ayat ini mengajarkan agar kita memiliki sikap berjaga-jaga setiap saat. Pertanyaannya, apakah kita benar-benar setiap saat telah berjaga-jaga, menyambut kedatangan Tuhan yang kita tidak tahu tepat waktu-Nya, atau hari kematian kita yang juga menjadi hari Tuhan yang khusus bagi kita, di mana kita akan menghadap Tuhan? Orang yang berpikir jika nanti mendekati hari kematian barulah ia akan sungguh-sungguh bertobat dan mencari Tuhan adalah orang yang sebenarnya meliciki Allah. Dia mau berbuat curang, dia tidak serius dengan Tuhan, dia meremehkan Tuhan. Kemungkinan kecil orang-orang seperti ini selamat. Sebab selama dalam masa sebelum mendekati hari kematiannya, selain ia juga tidak tahu kapan hari kematiannya, ia tidak bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Kita mungkin berkata, “Saya tidak seperti itu. Buktinya, saya datang ke gereja, berdoa puasa. Saya bukan seperti orang-orang yang bertobat dan mencari Tuhan nanti kalau sudah tua atau mendekati hari kematian.” Tetapi apakah kita sungguh-sungguh berjaga-jaga? 

Sejujurnya, sangat sedikit orang yang berjaga-jaga, yang mau bertobat dan sungguh-sungguh mencari Tuhan. Kalau seseorang tidak sungguh-sungguh memiliki sikap berjaga-jaga, selain dia tidak memiliki kesiapan maksimal untuk menghadap takhta pengadilan Tuhan, dia pun tidak bertumbuh secara benar. Sebab sementara berjaga-jaga, setiap hari kita mengoreksi diri; kalau ada salah, kekeliruan, kejahatan yang kita lakukan. Kita akan mengenali keadaan diri kita sendiri. Seiring berjalannya waktu, ketika mengalami masalah, kita mengoreksi diri lagi apakah melewati pencobaan-pencobaan itu kita bereaksi dan bertumbuh dengan benar. Kita harus belajar untuk berpikir bahwa setiap hari bisa menjadi hari terakhir kita, sehingga kita akan memiliki sikap berjaga-jaga yang benar. Tuhan sudah memperingatkan kita bahwa kedatangan-Nya seperti pencuri, tapi sering kali kita menganggap ringan; “Belum, belum datang. Belum kiamat. Masih jauh. Saya masih hidup, belum meninggal dunia.” Jadi, kita tidak sungguh-sungguh memburu kesucian. Kalau kita berpikir dan sungguh-sungguh dalam memburu kesucian, barulah kita menghormati Tuhan. 

Kita memang tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran moral berat yang membuat kita malu atau terpidana, tetapi kita tidak benar-benar berusaha untuk hidup sebersih-bersihnya. Kita harus sungguh-sungguh setiap hari datang kepada Tuhan, seakan-akan sedang mempertanggungjawabkan bagaimana kita mengisi hidup ini. Apakah ada tugas yang telah Tuhan percayakan bagi kita yang belum ditunaikan? Banyak orang sibuk dengan masalah pribadinya saja. Kalau kita sibuk dengan diri sendiri, maka kita tidak pernah sibuk dengan Tuhan. Sementara kita punya masalah, kita jalani hidup ini dengan bertanggung jawab, dan kita harus menemukan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Pasti tugas itu sangat spesifik, sangat khas. Memang, kuasa kegelapan akan berusaha mengacaukan hidup kita. Tetapi kita harus terus bertekun, tidak terganggu. Di situ nampak kepiawaian kita sebagai anak-anak Allah, kesetiaan kita kepada Bapa. Di tengah-tengah persoalan-persoalan berat yang kita hadapi, kita tetap berusaha untuk menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada kita. 

Selanjutnya, 2 Petrus 3:10b, “Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap.” Mari kita membayangkan keadaan atau peristiwa dahsyat yang pasti akan terjadi, dan seakan-akan kita ada di dalam suasana itu. Banyak orang tidak mau memikirkan hal-hal yang mengerikan seperti itu, padahal itu pasti terjadi. Kuasa kegelapan berusaha untuk menutup-nutupi, sehingga orang merasa aman-aman saja. Padahal, kita semua sedang menghadapi kedahsyatan keadaan itu. Jadi, kalau kita menghormati Tuhan—entah kiamat akan datang besok atau hari kematian kita nanti malam—kita harus bersikap seakan-akan kita tidak memiliki waktu untuk membenahi diri kecuali saat ini. Selalu “saat ini.” Jangan “besok,” juga bukan “nanti.” 

Firman Tuhan mengatakan berikutnya, 2 Petrus 3:11, “Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.” Kalimat ini maksudnya adalah kita harus menjadi kudus atau berbeda dengan dunia dalam cara hidup, perilaku, kebiasaan kita. Kita mau serupa dengan Yesus, mau berkodrat ilahi. Tuhan menghendaki agar kita bisa mencapai tingkatan kesucian paling tinggi atau tahapan kesempurnaan paling maksimal. Hal ini kebalikan dari konsep banyak orang yang mengatakan bahwa tidak mungkin seseorang sempurna. Hanya dengan keadaan di mana seseorang tidak bercacat dan tidak bernoda, barulah ia bisa hidup dalam perdamaian dengan Dia. 

Kita harus berpikir bahwa setiap hari bisa menjadi hari terakhir, sehingga kita akan memiliki sikap berjaga-jaga yang benar.