Gaya Hidup yang Berbeda

Kita harus melatih diri untuk tidak memiliki dosa sekecil apa pun di dalam diri kita. Dengan melatih ini, keyakinan bahwa Allah itu ada, akan bertambah. Kita harus dalam keadaan terus berurusan dengan Allah. Itulah sebabnya, kita bisa menjadi kokoh di tengah badai yang menerpa hidup kita. Kita bisa menjadi kokoh karena kita yakin ada Allah yang hidup. Dan kita juga percaya bahwa kita dibela Allah, karena Allah di pihak kita. Jangan ada sesuatu yang kita lakukan yang melukai hati Tuhan. Kehidupan seseorang yang melatih diri meyakini ada Allah adalah kehidupan yang pasti menjadi berbeda dengan orang lain. Mengapa bisa berbeda? Karena ia hidup di dalam pemerintahan Allah. Di balik pemerintahan manusia, di balik pemerintahan suatu negara, ada pemerintahan Allah di dalam hidup kita. Dan pemerintahan Allah itulah yang membuat kita memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup orang yang tidak hidup dalam pemerintahan Allah. Gaya hidup seseorang yang ada dalam pemerintahan Allah, berbeda dengan orang yang tidak hidup di dalam pemerintahan Allah.

Maka jangan heran kalau orang yang berjalan dengan Allah itu bisa dianggap tidak wajar. Karena, kita sepertinya susah dimengerti. Kita sibuk dengan apa yang orang tidak sibuk. Ini bisa membingungkan orang di sekitar kita. Jadi, kita seperti hidup di bawah ketidakwajaran, dengan perilaku yang tidak bisa dimengerti orang lain. Firman Tuhan mengatakan di dalam Roma 12:2, “janganlah serupa dengan dunia ini, berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dengan kata lain, kita harus memiliki cara hidup yang berbeda. Yang untuk itu, kita harus terus mengalami perubahan. Pertobatan bukan hanya sekali, melainkan setiap kali kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah, sekecil apa pun kesalahan itu, harus diakui dan minta ampun kepada Tuhan. Perubahan terus-menerus menjadikan seseorang paranoia, paranoid. Kita bisa paranoid, tapi bukan kepada manusia, melainkan terhadap dosa. Kita dianggap nyentrik. Orang lain korupsi, kita tidak korupsi; orang bercanda jorok, kita tidak bercanda jorok. Orang disakiti membalas menyakiti, kita disakiti namun tidak membalas.

Sekarang, pasti kita banyak memiliki persoalan atau mungkin sedang terancam oleh suatu bahaya tertentu. Tapi percayalah, ada Allah yang hidup. Cobalah merapat kepada Tuhan, percayalah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang hidup dan Tuhan pasti menolong. Tidak mungkin Tuhan tidak menolong. Sebab, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan pasti selalu menyertai kita. Dan kita tidak boleh menjadi takut. Kalau kita takut, kita khawatir, kita seperti melecehkan Allah. Kita seperti menghina dan meremehkan kekuasaan Allah, karena Allah itu kuat dan berkuasa. Kalau kita adalah anak-anak Allah yang baik—yang hidup suci, hidup berkenan di hadapan Allah—Allah pasti membela kita. Masalahnya, bagaimana kita tahu bahwa Allah di pihak kita atau tidak? Jawabannya, “Kita ada di pihak siapa sekarang?” Kalau kita tidak di pihak Allah, jangan harap Allah di pihak kita. Tetapi kalau kita hidup di pihak Allah, Allah pasti di pihak kita.

Pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana kita bisa hidup di pihak Tuhan?” Pertama, hidup suci, hidup tidak bercacat, tidak bercela. Yang kedua, lakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Seperti misalnya: anak-anak menghormati orangtua, orangtua mengasihi anak-anak, suami mengasihi istri dan sebaliknya, hormati mertua, mertua sayang menantu dengan tulus. Dan Tuhan pasti akan mengirimkan orang-orang yang kita harus tolong. Di situ Tuhan mengajar kita untuk ada di pihak Tuhan. Bersyukurlah kalau Tuhan sering membawa kita kepada keadaan-keadaan dimana kita “direpotkan,” bertemu orang-orang yang menyusahkan. Dulu mungkin kita sering mengeluh, tapi sekarang kita mulai mengerti bahwa ada maksud Tuhan di balik semua ini. Karena, ternyata Tuhan memberi kesempatan kita menyenangkan hati Dia.

Yang ketiga, berusaha membuat orang lain menjadi seperti kita, yang takut akan Allah, mengasihi Tuhan, dan tidak mencintai dunia. Kalau Tuhan berkenan kita masih hidup hari ini, kita mendapat Firman, yakin Allah ada, dan bertumbuh dalam keyakinan Allah itu ada agar menjadi pengaruh untuk orang lain, ini merupakan suatu anugerah yang tidak ternilai. Tidak ada orang yang berharap kepada Tuhan, lalu tidak diperhatikan. Pasti Tuhan memperhatikannya. Tetapi ingat, kita harus di pihak Tuhan. Jangan hidup suka-suka sendiri. Kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah. Kalau Tuhan di pihak kita, Tuhan membela kita, maka tidak ada lawan. Oleh karenanya, kita harus di pihak Tuhan. Hidup suci, menolong orang di sekitar kita yang membutuhkan pertolongan, dan berusaha membantu orang lain untuk menjadi seperti kita.

Kehidupan seseorang yang melatih diri meyakini ada Allah adalah kehidupan yang pasti menjadi berbeda dengan orang lain.