Dunia yang Kristis dan Krisis

Saudaraku,

Kita sedang dalam suasana krisis. Banyak orang tidak merasakan suasana krisis dan kritis ini. Bersyukur kalau kita masih dicelikkan oleh Tuhan melihat suasana krisis dan kritis ini. Kita melihat dunia kita benar-benar sudah menjadi fasik. Tuhan itu seakan-akan tidak ada di mata mereka. Itulah sebabnya kita melihat tindakan-tindakan banyak orang di sekitar kita yang begitu bengis, begitu kejam terhadap sesamanya.  Kadang-kadang mungkin kita juga dianggap bengis atau kejam, tetapi Tuhan nanti yang akan menjadi Hakim. Apakah benar tindakan kita itu bengis? Karena kadang-kadang orang menuntut kita untuk melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan, kesenangan mereka, kita tidak bisa penuhi, lalu orang bisa menjadi kecewa. Atau orang bisa dalam suatu keadaan tertentu lalu kita dianggap sebagai penyebab dari keadaan itu lalu kita dibenci. Kita jangan membalas, kita harus diam, karena kita berurusan dengan perasaan Allah bukan perasaan manusia. Jangan kita membiarkan ada dendam, kebencian di dalam diri kita; apalagi usaha untuk membalas kejahatan orang terhadap kita dengan menyakiti orang lain. Itu menyakiti hati Bapa di surga.

Kita melihat dunia kita ini kritis dan krisis. Kejahatan luar biasa. Ketegangan di wilayah Ukraina, ketegangan yang bisa menyulut perang, ini bisa perang dunia. Saya tidak mengharapkan, tapi ketegangan antara Amerika (NATO) dengan Rusia, negara Ukraina yang sekarang diguncang oleh konflik antara pemerintah Ukraina dengan kelompok orang-orang yang disebut pemberontak yang pro Rusia. Dan Rusia di balik pemberontak yang anti pemerintahan Ukraina itu. Sementara Amerika di belakang pemerintah Ukraina. Dan sudah memperingatkan Rusia untuk tidak melakukan aksi militer; kalau tidak mendapatkan sanksi. Ketegangan China dengan Taiwan juga masih terus. Orang mencatat atau memberikan berita bahwa Amerika China makin kuat di lautan Hindia; dan seterusnya. Ini dunia kita yang tidak pernah tenang dan nyaman. Belum lagi dengan kejahatan manusia, praktik korupsi sewenang-wenang, penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat keamanan di dunia ini bukannya di satu negara tetapi di seluruh dunia. Mereka yang memiliki senjata, mereka sewenang-wenang terhadap sesamanya yang lemah. Keadaan Myanmar hari ini, di mana para petinggi sebelumnya sebagian masih di penjara dan Militer mengambil alih pemerintahan. Di beberapa negara, aparat yang menegakkan keadilan seperti kepolisian; diisi pula oleh orang-orang yang sewenang-wenang terhadap sesamanya. Ini dunia kita jahat sekali, tega.

Sesuai dengan yang dikatakan oleh Alkitab di dalam firman Tuhan itu jelas. Di dalam firman Tuhan di 2 Timotius 3:2-4, “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua (tidak menghargai senioritas. Orangtua bukan hanya bapak dan ibu tetapi orang yang mestinya dituakan) dan tidak tahu berterima kasih (lupa budi baik orang), tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” Inilah dunia kita. Kita jangan sampai masuk, ikut-ikutan masuk di kelompok ini. Bahaya, mengerikan! Memang kalau kita melakukan hal-hal ini seakan-akan kita aman. Bahkan kita merasa sedang membela Tuhan. Jangan sampai kita masuk dalam praktik hidup seperti ini.

Saudaraku,

Karenanya kita merendahkan diri di kaki Tuhan. Kita minta Tuhan tolong ubahkan hidup kita untuk menjadi anak kesukaan-Nya. Jangan kita melakukan praktik-praktik yang bertentangan dengan kesucian Allah. Inilah keprihatinan kita, inilah beban kita, inilah passion kita. Dunia yang sedang bergulir menuju kegelapan abadi dan banyak orang yang sekarang sedang menuju kegelapan abadi. Kita mau menjadi anak-anak kesukaan Allah. Kita terus berusaha, belajar untuk mencari wajah Tuhan. Untuk bisa mengalami Tuhan, memiliki hubungan dengan surga, hidup di hadapan Allah, selalu ada di hadirat Allah, supaya kita takut akan Allah secara benar, takut akan Allah secara tepat. Inilah yang kita lakukan. Kita benahi diri kita sendiri. Kalau saya sering mengatakan tiarap, tiarap; artinya kita membenahi diri kita sendiri. Makanya kita doa puasa, kita mau mengerti apa kehendak Tuhan untuk negeri ini, untuk dunia ini. Apa peran kita? Kita bukan siapa-siapa, kita tidak punya apa-apa. Tetapi kalau Tuhan berkenan menjadikan kita alat kemuliaan bagi nama-Nya, luar biasa.

Tuhan Yesus memberkati

Dr. Erastus Sabdono

Dunia yang jahat sedang bergulir menuju kegelapan abadi —suatu keadaan yang kritis dan krisis— namun jangan kita ikut dalam gelombang kejahatan mereka.