Dua Tugas Akhir 

Ada dua tugas akhir yang harus segera selesai, yang tidak boleh ditunda, harus segera kita penuhi sebelum kita menutup mata. Yaitu, pertama, melepaskan ikatan-ikatan dengan dunia. Misalnya, segala bentuk kesenangan-kesenangan yang tidak berguna untuk pelayanan pekerjaan Tuhan yang masih saja mengambil waktu kita atau mencuri perhatian kita. Mungkin hal itu kelihatannya wajar, tidak menyalahi hukum sama sekali, tetapi membuat kita kurang, bahkan tidak efektif bagi Tuhan. Kita harus lepaskan, kita harus tinggalkan. Kita harus benar-benar bisa fokus. Hal yang sia-sia tidak boleh mencuri waktu, perhatian, tenaga, apalagi uang dan harta kita. Yang kedua adalah kita harus benar-benar memeriksa diri jika masih ada dosa yang kita lakukan. Atau kalau bukan dosa yang jelas-jelas melanggar hukum, melanggar norma; hal-hal yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Perkataan yang sia-sia, canda yang melukai, pikiran yang kotor dan jahat, dan banyak lagi, yang mana Roh Kudus akan ingatkan kita bahwa kita tidak patut melakukan hal tersebut. 

Kita harus menjadi komunitas yang benar-benar khusus. Bukan untuk angkat diri, bukan untuk mau tebar pesona, bukan mau menjadi orang yang kontroversial, bukan supaya kita mendapat perhatian, tetapi memang seharusnya kita mempersiapkan diri untuk masuk Kerajaan Surga. Jangan sampai nanti kita kehilangan kesempatan, dimana kita belum berkenan di hadapan Allah. Jangan sampai kita menghadap takhta pengadilan Kristus dalam keadaan yang belum beres, belum tuntas. Kita harus semakin mengerucut untuk menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan. Doa-doa kita akan terus mengerucut ke hal tersebut. Masalah-masalah yang kita hadapi, kita doakan dan kita serahkan di dalam tangan Tuhan, dan kita berusaha untuk menyelesaikan dengan seluruh tanggung jawab dengan mengerahkan semua usaha yang kita bisa lakukan, artinya kita memenuhi bagian kita. Di luar itu, kita serahkan kepada Bapa di surga. Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Jadi, berserah saja, selama kita sudah memenuhi bagian kita sehingga tidak ada sesuatu yang membuat kita menjadi kacau, susah, dan lain sebagainya.

Kita harus berubah, kita harus tinggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kita harus benar-benar hidup suci. Kita harus memiliki benar-benar positioning. Sejujurnya, selama ini kita masih memiliki kompromi-kompromi, pembenaran-pembenaran diri yang sebenarnya itu salah. Sekarang kita harus benar-benar mencapai seklimaks-klimaksnya apa yang Allah kehendaki yang harus kita lakukan. Hari ini, kita mau menjadi manusia baru di dalam Tuhan, kita harus nekat, senekat-nekatnya. Mungkin kita akan dianggap kurang waras, berlebihan, ekstrem, dan orang bisa menyerang kita, tetapi itu tidak menjadi masalah sama sekali, tidak boleh menjadi masalah sama sekali. Kita harus berjalan terus ke depan. Dulu kita memahami kata “menoleh ke belakang” berarti kita kembali lagi dalam kesibukan dunia, tidak melayani, tidak ke gereja, itu namanya menoleh ke belakang. Tetapi sebenarnya yang dimaksud dengan “menoleh ke belakang” seperti yang dikatakan dalam Lukas 17:31-33 adalah ketika kita masih menyediakan hati kita untuk kesenangan-kesenangan diri sendiri. Apa pun bentuk kesenangan itu, walaupun kelihatannya kesenangan tersebut tidak melanggar hukum, tidak menyakiti orang lain; tetapi sesuatu itu tidak membuat kita efektif bagi Tuhan. Jadi masih ada distorsi-distorsi yang membuat kita tidak fokus 100% kepada Tuhan. Tentu masing-masing orang memiliki tuntutan dari Tuhan yang berbeda-beda.

Namun standar yang Bapa tentukan, sama bagi semua orang percaya, yaitu serupa dengan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Maka, di sisa akhir hidup kita, mari kita fokus akan kedua tugas akhir kita ini. Selesaikan secepat mungkin dan semaksimal mungkin. Penundaan berarti pemberontakan, karena penundaan bisa mengakibatkan kita tidak punya kesempatan lagi atau kita tidak mampu lagi untuk melepaskan kodrat dosa dalam jiwa kita ini. Kuasa jahat pasti mencoba menahan kita untuk menunda menyelesaikan kedua tugas akhir tersebut. Tawaran kenyamanan dan fasilitas akan disodorkan kepada kita, namun jangan kita terperangkap jerat mautnya! Beranilah untuk menolak demi keselamatan kekal kita.

Dua tugas akhir yang harus segera selesai; melepaskan ikatan-ikatan dengan dunia dan memeriksa diri jika masih ada dosa yang kita lakukan.