Dipandang Hina

Orang yang tidak tulus, pada akhirnya akan dipandang hina (Mzm. 73:20). Dipandang hina oleh manusia tidak masalah, tapi jangan sampai kita dipandang hina oleh Allah, karena itu kekal. Dipandang hina oleh manusia hanya sementara waktu. Tapi kalau dipandang hina oleh Allah, itu kekal. Kita harus mempersoalkan hal ini. Kira-kira, kita itu dipandang Tuhan hina atau tidak? Berapa nilainya? Dan itu adalah hal yang darurat, penting, dan mungkin satu-satunya. Salah satu penyakit jiwa manusia pada umumnya adalah mau dipandang orang lebih; merasa butuh penghargaan. Adalah tidak salah jika kita berharga di mata manusia. Tapi semua keberhargaan itu harus kita persembahkan untuk kepentingan pekerjaan-Nya, bukan untuk kepuasan diri semata. Maka, proses untuk menghancurkan karakter buruk itu luar biasa. Prosesnya sangat berat. Kenyataannya, banyak orang yang tidak rela dipandang hina oleh sesamanya, dipandang rendah, dipandang salah, dipandang sesat, dipandang bidat. Tidak rela. Maka, biasanya kita menggeliat, berusaha agar pandangan hina itu dihapus. Minimal direduksi, dikurangi, diminimalis.

Dipandang hina artinya dipandang salah, dianggap lebih rendah, dianggap tidak terhormat, mendapat perlakuan tidak adil. Kita itu seperti dilucuti. Padahal, kita sudah membangun banyak mahkota sebelumnya, lalu mahkota itu dilucuti. Ketika kita diperlakukan seperti ini, justru inilah kesempatan kita dibentuk untuk memiliki wajah yang tidak hina di mata Allah. Ketika kita dipandang hina oleh orang-orang yang tidak kita kenal, sama sekali tidak masalah. Tapi kalau dipandang hina oleh orang-orang dekat, itu berat. Maka, di sini kita hanya bisa diam dan menunggu pengadilan Tuhan. Dan itu jadi indah, karena kita mencari perkenanan Allah. Supaya kita jangan berkeadaan seperti yang orang katakan itu. Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan menghadapi keadaan seperti ini, dan kita harus berani menganggap ini sebagai berkat kekal. Kalau tidak mengalami ini, kita mungkin tidak bertobat atau masih sombong; kalau kita tidak mengalami ini, kita merasa diri lebih dari orang lain.

Jadi, bersyukur kita yang dibuat terkapar oleh Tuhan lewat masalah apa pun. Karena di situ, kita diajar untuk memandang Tuhan. Ketika kita berada di lembah kekelaman, lalu kita meratap begitu rupa, tidak ada jalan keluar manapun, di situ baru satu hubungan adikodrati dengan Allah. Yang nanti akhirnya kita bisa berkata, “yang kuingini Engkau saja.” Dari masalah fana, sampai ke masalah kekekalan. Jadi, itu berkat kekal. Melalui semua itu, Tuhan mengajarkan jalan-jalan-Nya. Jadi, kita bukannya takut melawan manusia. Bukan juga karena kita tidak punya kemampuan. Kita bisa balas, tapi tidak membalas. Itu indah sekali. Kita tidak menjadi manja, kolokan. Kita “manja” di hadapan Tuhan saja, jangan “manja” di hadapan manusia. Allah itu hidup. Pasti kita dibela Tuhan. Makanya kita belajar Alkitab, mengerti apa isi Alkitab, dan menghidupinya. Hanya itu andalan kita, tidak ada yang lain.

Kita memilih menjadi orang tulus. Orang tulus mengupayakan kebaikan orang lain. Ini yang wajahnya tidak dipandang hina. Indah sekali. Tidak membutuhkan uang milyar, triliun untuk menolong orang. Ketika kita memberi senyum dan sapa yang tulus, itu sudah cukup membuat Anda menjadi seorang yang berwajah indah di mata Allah. Maka, Tuhan pasti akan mengirimkan “Lazarus-Lazarus” dalam hidup kita. Jadi, orang-orang tulus itu pasti istimewa di mata Allah. Jangan mengupayakan kejahatan orang lain. Jangan ikut-ikutan orang mengata-ngatai, apalagi memfitnah orang lain, dan jangan sekali-kali berbuat itu. Karena, ada perhitungan di dalam kekekalan. Jika kita yang menjadi korbannya, jangan membalas. Banyak orang Kristen lancar berbicara tentang “keselamatan hanya oleh anugerah,” tapi tidak menggarap manusia batiniahnya. Tidak pernah menjadi orang yang tulus.

Mari kita memilih menjadi orang tulus, agar kita tidak dipandang hina oleh-Nya. Kita diajar Tuhan, “apa yang kamu suka orang perbuat kepadamu, lakukan.” Ini aktif. Bukan “apa yang kamu tidak suka buat untuk orang lain, jangan kamu lakukan,” itu masih defensif, masih pasif. Tapi banyak orang yang berprinsip: “apa yang kamu tidak suka orang perbuat kepadamu, buatlah untuk orang lain.” Itu jelas bukan anak Allah. Dan itu bisa terjadi di lingkungan gereja. Mengerikan sekali. Maka, selagi masih ada kesempatan, kita bertobat.

Tidak masalah jika kita dipandang hina oleh manusia, karena hanya sementara; tapi jangan sampai kita dipandang hina oleh Allah, karena itu kekal.