Dimulai dari Hal-hal Kecil

Saudaraku,

Seiring dengan pertumbuhan pengenalan kita akan Tuhan, kita bisa mengerti betapa jauh berbedanya antara keberagamaan (dalam konteks agama Kristen) dengan kekristenan yang sejati. Hal ini sama dengan jauh sekali bedanya antara beragama dan ber-Tuhan. Hal ini juga paralel dengan betapa jauh bedanya antara berteologi dan mengalami Tuhan. Banyak orang berpikir dengan beragama Kristen berarti mereka sudah memiliki kekristenan. Dan itu benar-benar sesat. Sesat di dalam arti seseorang tidak mengalami Tuhan. Itu menyedihkan sekali. 

Banyak orang berpikir beragama berarti ber-Tuhan. Belum tentu! Banyak orang beragama tetapi tidak ber-Tuhan. Ada orang-orang yang berpikir dengan mengenal teologi berarti juga mengalami atau mendapatkan perjumpaan dengan Tuhan. Juga belum tentu! Tentu hal ini bukan berdasarkan kata orang atau dari buku yang ditulis orang, tetapi dari apa yang saya alami, saya jalani, juga yang saya lihat dalam kehidupan banyak orang di sekitar saya yang memang pada umumnya adalah orang-orang yang beragama, berteologi, dan mengaku sebagai orang-orang Kristen. 

Kalau kita sampai pada tingkat memiliki Kekristenan yang sejati, ber-Tuhan dengan benar, menemukan dan mengalami Tuhan, maka itu adalah harta kekayaan yang luar biasa. Kita akan menjadi kecanduan hebat terhadap Tuhan. Benar. Sekarang masalahnya bagaimana kita bisa ber-Tuhan dengan benar? Bagaimana kita bisa memiliki kekristenan yang sejati dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Ini yang saya pelajari, saya gumuli sepanjang tahun umur hidup saya. Sebagai orang Kristen dari sejak kecil dan menjadi pendeta, hamba Tuhan, pelayan Tuhan, sejak remaja pemuda. 

Syaratnya adalah kita harus rela kehilangan segala sesuatu. Ini yang sulit. Dan pada akhirnya, Saudara akan mengerti bahwa kita bisa bersikap sopan, bersikap pantas di hadapan Allah, kalau dari hal-hal kecil setiap hari kita mempertimbangkan perasaan Tuhan. Saya sering gagal. Hal-hal besar saya mau benar, tetapi hal-hal kecil saya pikir masabodo ini urusan saya tidak ada kaitannya dengan Allah atau perasaan Tuhan. Tetapi ini salah. Itu membuat saya kehilangan wajah Tuhan. Membuat saya kehilangan hadirat Tuhan. 

Saudaraku,

Memang pada waktu kita baru menjadi Kristen, ketika kita melakukan hal-hal salah dari hal-hal kecil, kita masih tetap bisa merasakan hadirat Tuhan. Tetapi dalam tataran atau level tertentu—ketika kita dipandang Tuhan sudah harus akil baliqh (dewasa)—ternyata dalam segala hal kita harus selalu mempertimbangkan perasaan Allah. Dari perkara kecil. Dari situlah kita bisa merajut kesucian hidup. Kita baru bisa membangun kesucian yang benar, yang berkualitas tinggi. 

Perkara-perkara kecil di dalam kehidupan kita; bagaimana kita memuaskan hobi-hobi kita, film apa yang kita tonton, lagu apa yang kita dengar, kata apa yang kita ucapkan waktu dalam percakapan-percakapan di meja makan, canda-canda kita, apa yang kita pikirkan waktu kita diam rebahan di tempat tidur? Atau pada waktu kita ada di luar rumah, ketika kita makan di restoran misalnya, bagaimana sikap kita terhadap pelayan-pelayan restoran itu kalau mereka berbuat salah? Terhadap tukang parkir, terhadap sekuriti yang berlaku atau bersikap kurang sopan terhadap kita misalnya, apa reaksi-reaksi kita? 

Itu yang bisa membuat kita kehilangan hadirat Allah. Dan sejujurnya, kita seringkali gagal. Kalau sudah di mal, kita memakai pakaian bagus, cara kita jalan sudah seperti bos; kita lupa kita ini siapa. Dan nanti kalau dilayani oleh pelayan toko yang kurang baik, maka kita bersikap merendahkan. Waktu kita bertanya arah kepada bagian keamanan (satpam) tapi dia tidak menjawab dengan baik, dimana mukanya tidak tertuju kepada kita bahkan sambil ngomong dia menunduk dia membaca buku atau menulis, itu bisa membuat darah kita mendidih. Juga dalam penggunaan uang kita. Apalagi kalau uang kita lagi banyak, bisa kita gunakan dengan sembarangan.  Dulu hal-hal itu bisa kita lakukan, atau mungkin sekarang pun masih?

Banyak lagi hal-hal kecil yang salah yang kita lakukan. Di situ kita sering gagal, namun di situ juga kita belajar. Kita tidak menjaga perasaan Tuhan. Tetapi melalui renungan ini kita mau belajar. Karena Firman Tuhan mengatakan dalam 1 Petrus 1:13-15, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penytaaan Yesus Kristus.  Hiduplah sebagai anak-anak yang taat, jangan turuti hawa nafsumu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperi Dia yang kudus, yang telah memanggil kami, sebab ada terlulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kita akan mengerti bahwa kita bisa bersikap pantas di hadapan Allah, kalau dari hal-hal kecil setiap hari kita mempertimbangkan perasaan Tuhan.