Dimensi Hidup Yesus

Banyak orang yang sampai hari tuanya tidak berhasil mengubah dimensi hidupnya; dimensi yang benar sebagai anak-anak Allah. Atau memang karena tidak ada usaha, sehingga kita tidak bisa mengatakan ia tidak berhasil, tetapi ia tidak mengubah dimensi hidupnya. Orang-orang yang dipilih oleh Allah mendengar Injil, yang juga disebut sebagai umat pilihan, dikehendaki Allah untuk memiliki dimensi hidup yang berbeda dengan dimensi orang yang bukan umat pilihan. Dimensi hidup orang percaya yang sesuai dengan kehendak Allah, berbeda sekali dengan dimensi hidup orang yang bukan umat pilihan Allah, yang tidak menjadi anak-anak Allah. Dimensi hidup kita sebagai anak-anak Allah, dimensi hidup yang tidak dikenal oleh cara berpikir dan logika manusia. Kalau kita memperhatikan dimensi hidup Yesus ketika Ia menjadi manusia, itulah seharusnya dimensi hidup kita. Kurang dari itu, hidup kekristenan kita salah, berarti bukan anak-anak Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” itu jauh dari sekadar: “Jadilah orang Kristen,” atau “jadilah aktivis gereja, rajinlah kebaktian, jadilah pendeta.” 

Sejatinya, ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” artinya kita harus memiliki dimensi hidup seperti dimensi hidup yang dijalani oleh Tuhan Yesus. Paulus memahami hal ini. Maka, dalam Filipi 1:21 ia berkata, “bagiku hidup adalah Kristus.” Yang berarti “bagiku hidup adalah mengenakan dimensi hidup-Nya Yesus.” Di dalam bagian lain, Paulus mengatakan, “Ikutilah teladanku sama seperti aku mengikut Dia.” Dan ditegaskan dengan pernyataannya yang mengatakan, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Lalu yang lebih tegas lagi dinyatakan dalam Kolose 3:4, “Apabila Kristus yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Sejatinya, inilah dimensi hidup yang normal, yang wajar sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus juga berkata dalam Yohanes 17:21, “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Jadi, ada satu kesatuan. Tentu kita yang larut di dalam Tuhan, bukan Tuhan yang larut di dalam kita. Kita yang larut mengikut jejak Tuhan Yesus. 

Murid-murid Yesus disebut ‘Kristen’ karena mereka memiliki gaya hidup yang tidak sama seperti masyarakat pada waktu itu. Mereka mengenakan hidup-Nya Kristus. Maka kalau Alkitab mengatakan, “Kristus tinggal di dalam aku,” bukan pribadi Yesus tinggal di dalam diri kita. Jika demikian, berarti kita berpribadi ganda. Melainkan cara berpikir-Nya, gaya hidup-Nya, paradigma-Nya, dimensi hidup-Nya menjadi dimensi hidup kita; dimensi hidup Anak Manusia yang diurapi. Jadi, ketika orang Kristen abad mula-mula teraniaya, mereka justru melestarikan kekristenan yang sejati. Mereka mempertahankan kekristenan yang sejati; kehidupan sebagai orang-orang yang diurapi. Namun sebaliknya, ketika kekristenan menjadi agama negara, para uskup, pemimpin-pemimpin gereja, dan orang-orang Kristen “seakan-akan memperoleh kemenangan,” justru kekristenan mengalami kemerosotan. Perjuangan mempertahankan iman menjadi keributan mempertahankan doktrin. Begitu sejarah gereja mencatat. Cela-mencela, saling mengasingkan, sampai pada bunuh-membunuh. Dan itu terjadi selama berabad-abad. 

Sampai kemudian orang-orang Kristen—yang dipelopori oleh para pemimpinnya—mendeklarasikan perang salib, yang pasti tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dan itu menjadi luka; luka yang tidak pernah kering. Menjadi kenangan pahit bagi dua agama besar di dunia: Kristen dan Islam. Perang salib dikatakan sebagai perang terlama di dunia. Tidak pernah juga diajarkan bahwa kita boleh memaksa orang beragama Kristen. Kekaisaran Roma, ketika dipimpin oleh kaisar-kaisar yang masuk Kristen, memaksa semua warga di bawah kekuasaan kekaisaran Roma beragama Kristen. Yang hasilnya adalah begitu besar jumlah orang ramai-ramai menjadi Kristen, namun Kristen gadungan; Kristen palsu. Dan itu berlangsung berabad-abad. Dan kita sebagai orang-orang Kristen yang mewarisi kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad dari generasi ke generasi—bahkan mungkin sejak kita dalam kandungan—kita menyadari bahwa itu adalah kekristenan yang sudah mengalami degradasi atau kemerosotan. 

Kristen yang benar itu serupa dengan Yesus. Memiliki dimensi hidup seperti dimensi hidup yang dimiliki Tuhan Yesus. Jadi, setiap orang Kristen itu harus memiliki Kristus di dalam hidupnya. Kristus artinya “Yang Diurapi.” Dan hari ini pengurapan itu diwujudkan dalam perilaku konkret serupa dengan Yesus. Kalau makin tahun kita tidak berubah, berarti kita tidak pernah mengenakan dimensi hidup ini. Jadi, kekristenan kita harus merupakan kehidupan yang direnggut sepenuhnya untuk belajar memasuki dimensi ini. Ketika seseorang tidak memiliki harapan kesenangan dunia, dia baru bisa bulat berubah. Jadi, jangan menyesal tidak punya jodoh, tidak punya anak, miskin, terbuang, terhina. Jangan menyesal, kecuali kita tidak menjadi serupa dengan Yesus.

Sejatinya, ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” artinya kita harus memiliki dimensi hidup seperti dimensi hidup yang dijalani oleh Tuhan Yesus.