Cara Memandang Masalah

Hidup ini bisa kita pandang dan kita jalani secara rumit dan kompleks, tetapi juga bisa kita pandang secara sederhana. Karenanya, satu hal yang memang harus menjadi prinsip hidup kita, yaitu kita harus memandang bahwa hidup ini memang tragis. Bagaimana pun hidup di dunia tidak bisa membuat kita bahagia, lengkap, dan utuh. Kita hidup di dunia yang sudah jatuh. Ibarat produk, ini produk yang gagal atau produk yang rusak. Bukan karena Tuhan tidak mampu membuat hidup ini menjadi lengkap, sempurna, atau utuh, melainkan dosa manusia dan pemberontakannya kepada Allah yang membuat hidup ini menjadi tragis. Sehingga, pertama, kita selalu menghadapi problem. Yang kedua, makin hari makin tua dan ada sakit penyakit; Yang ketiga, kematian. 

Realitas ini, kalau sudah kita bisa terima dengan lapang, paling tidak 50% dari kerumitan, kompleksitas hidup kita sudah tertanggulangi. Jangan mimpi hidup tanpa masalah. Sebab kalau kita berharap hidup ini tanpa masalah, maka ketika tiba-tiba ada masalah, jiwa kita pasti terguncang, damai sejahtera kita pun hilang. Tetapi, kalau kita sudah menerima realitas bahwa hidup ini memang pasti ada masalah, maka ketika kita menghadapi masalah, kita bisa tenang dan kita percaya pada Firman Tuhan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Persoalan yang kita hadapi pasti bisa kita tanggulangi walaupun memerlukan waktu. Dan persoalan ini tidak akan melampaui kekuatan kita, serta pasti selesai pada waktunya. Jadi jangan berpikir bodoh, kanak-kanak, dan tidak dewasa. 

Waktu masalah datang menghampiri, jangan terguncang, tetapi terimalah. Dan ingat, bahwa masalah hidup itu membuat kita menjadi dewasa. Pasti ada hal di dalam kekurangan kita yang Tuhan mau perbaiki lewat masalah, dan paling tidak, masalah itu akan membuat kita mengingat bahwa dunia bukan rumah kita supaya kita bisa memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Sebaliknya, jika kita khawatir dan takut, masalah itu akan menenggelamkan hidup kita. Dan sejatinya, kita tidak menghormati Tuhan, meremehkan, dan melecehkan Tuhan. Sebab, pertama, Dia berjanji setia menyertai kita. Kedua, pencobaan tidak melampaui kekuatan kita. Ketiga, pasti selesai pada waktunya. Keempat, persoalan itu mendewasakan kita. Semua ini supaya kita mempersiapkan diri menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. 

Firman Tuhan mengatakan dalam Matius 6:32-33, bahwa setiap hari selalu ada masalah, maka cari dulu Kerajaan Allah. Maka, masalah hidup jangan membuat kita berbuat dosa, tenggelam, jadi takut dan khawatir, kecewa, apalagi membuat kita jadi meremehkan dan melecehkan Tuhan. Tentu kita harus berpikir dan berusaha bagaimana menyelesaikan masalah ini, di samping kita juga berdoa minta pertimbangan dan pertolongan Tuhan. Kita harus memandang masalah dengan cara pandang yang benar supaya hidup kita tidak menjadi kompleks. Apa pun yang akan terjadi dan mungkin sedang terjadi, berpikirlah sederhana: memang harus dihadapi. Kita harus punya sikap tanggung jawab dalam menghadapinya. Memang terkadang Tuhan tidak segera menolong kita karena Tuhan membiarkan masalah itu untuk mendewasakan kita, sehingga kita juga memikirkan perkara-perkara yang di atas. Tuhan pasti menolong pada waktu-Nya sesuai jadwal-Nya. Ingat bagaimana Abraham dijanjikan punya anak banyak, tetapi dia harus menunggu selama 25 tahun seakan-akan Allah lupa janji-Nya. Demikian juga Yusuf.

Kita bisa menerima perlakuan tidak adil, dijahati, tapi kita jangan membalas. Justru Tuhan mau kita dewasa dengan belajar mengampuni, rendah hati, dan berdiam. Tuhan akan ubahkan semua yang menimpa kita itu agar jadi berkat untuk kita. Daging kita berkata, “Kalau kita diam terus dia tambah kurang ajar. Jadi pertahanan yang baik itu menyerang,” tapi itu filosofi dunia. Sebagai anak Tuhan, pertahanan yang baik adalah diam. Karena dengan kita diam, Allah akan bertindak. Hanya, kita perlu sabar menunggu waktu dan cara pertolongan Tuhan. Jangan berpikir melewatinya dengan mudah. Kita sering terengah-engah, seperti berjalan di tebing atau di tepi jurang, namun Tuhan membiarkan. Mengerikan memang, tapi kita harus jalan terus. 

Mari kita berjalan dengan Tuhan dalam kesederhanaan, karena kita dipersiapkan untuk memasuki Langit Baru Bumi Baru. Jangan mengeluh, karena itu berarti kita meremehkan dan melecehkan Tuhan seakan-akan Tuhan tidak menyertai. Ketika kita khawatir, takut, cemas, itu membuat kita tidak bisa memuliakan Tuhan. Buktikan Allah itu hidup. Suatu saat, kita akan melihat kemuliaan Allah, tapi kita harus hidup suci, tidak bercacat, dan tidak bercela. Roh Kudus akan menolong kita. Hiduplah dalam kemerdekaan: “Aku bisa melewatinya.”

Cara pandang kita terhadap masalah harus benar, sehingga tidak membuat kita berbuat dosa, tenggelam, menjadi takut dan khawatir, kecewa, apalagi membuat kita jadi meremehkan dan melecehkan Tuhan.