Bukan sebagai Jerat

Kepedulian terhadap dunia ini akan membuat seseorang terhanyut, sehingga tidak lagi memedulikan hal-hal rohani atau perkara-perkara yang di atas. Kita harus memilih, kepada apa atau siapa hidup kita diarahkan. Kita harus memilih, apakah sungguh-sungguh 100% mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang, atau mengurangi? Tidak boleh dan tidak bisa kurang dari 100%. Kita harus memilih. Dulu kita kurang berani tegas seperti itu. Kenapa tidak tegas? Kita sendiri juga takut, mau hidup model apa kalau menuruti yang disampaikan ini? 

Firman Tuhan mengatakan, “supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Maksudnya apa? ‘Hari Tuhan’ memang bisa berbicara mengenai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali: akhir zaman. Tapi, ‘hari Tuhan’ juga bisa merupakan penjemputan Tuhan kepada seseorang, apakah dia pulang ke surga atau dibuang ke neraka. Hari Tuhan adalah hari akhir kehidupan atau akhir sebuah masa. Tapi di konteks ini hari Tuhan itu menunjukkan hari Tuhan datang kembali, atau orang itu meninggal. Akhir kehidupan; bisa kehidupan dunia ini, berarti kiamatnya dunia, tapi juga akhir kehidupan individu. Berarti tamatnya, kiamatnya hidup seseorang. 

“Supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Mengapa hal itu bisa terjadi, “Seperti suatu jerat?” Kalau seseorang tidak mempersiapkan diri menghadapi atau menyongsong kedatangan Tuhan, atau tidak mempersiapkan diri menghadapi hari kematiannya, maka hari Tuhan itu menjadi seperti suatu jerat. Seperti lima gadis bodoh tidak mempersiapkan minyak untuk pelitanya, sehingga ketika mempelai datang, ia tidak bisa menyambut sebab pelitanya mati. Karena pelitanya mati, dia harus pergi mencari minyak untuk pelitanya. Akhirnya, ia tidak mendapat kesempatan masuk ke dalam pesta perjamuan. Kasihan. 

Dalam teks aslinya, kata “jerat” itu tidak ada. Kata “jerat” itu sebenarnya aiphnidios (αἰφνίδιος), yang artinya unexpected, unaware, atau suddenly. Hal ini menunjuk bahwa hari Tuhan tersebut tidak diharapkan; unexpected, unaware. Tidak diharapkan, kemudian tiba-tiba datang, tidak diharapkan; suddenly. Ini pasti orang yang tidak berjaga-jaga. Lalu bagaimana supaya hari Tuhan jangan menjadi jerat? Baik hari Tuhan dalam arti kiamat dunia, atau kiamat masing-masing, kiamat individu. Bagaimana supaya tidak menjadi jerat? Nantikan hari kedatangan itu. Bukan unexpected, tapi expected. Kita mau expect; berharap. 

Hari Tuhan tidak menjadi suatu jerat bagi seseorang, kalau ia menantikan dan merindukan hari itu. Sehingga, hari Tuhan bukan sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi justru diharapkan. Bagi orang yang mengharapkan hari Tuhan, pasti ia menanti-nantikan dan tidak terkejut menghadapi hari itu, bahkan dia sukacita. Makanya, kita harus menjaga diri dari pesta pora, kesenangan-kesenangan dunia, kemabukan; keracunan, dan kepedulian terhadap hidup. Merimnais biotikais; anxiety of this life atau of this world, itu harus kita lakukan sejak dini, sampai kita benar-benar mengharapkan hari kematian kita. 

Mana ada orang yang senang mati? Hampir tidak ada. Tapi kita justru harus senang menyambut kematian, walaupun tidak mau buru-buru mati. Karena, pekerjaan Tuhan masih harus kita emban, dan tunaikan. Kita memburu, bagaimana bisa menjadikan hari kematian kita bukan sebagai suatu jerat. Kita nantikan hari itu. Kalau mau jujur, orang yang takut mati itu belum beres hidupnya. Belum memenuhi standar. Kalau umur sudah lanjut tapi masih takut mati atau tidak ingin mati, kenapa? Ada kenyamanan, kenikmatan yang masih dinikmati di dunia. Sering orang tidak bisa membedakan antara melakukan sesuatu untuk Tuhan demi tugas, atau demi kesenangannya sendiri. 

Dunia bukan rumah kita. Kita harus kerja keras, studi, harus maksimalkan diri untuk Kerajaan Allah. Supaya hari Tuhan jangan datang menjadi suatu jerat. Yang kita khawatirkan, atau takutkan itu orang-orang sekitar kita belum selamat. Segala sesuatu bisa terjadi. Tetapi kalau sampai terjadi sesuatu yang membahayakan dan mengancam seperti perang dan sebagainya, kita tidak takut sama sekali karena kita sudah bersiap menyambut kematian kita.

Hari Tuhan tidak menjadi suatu jerat bagi seseorang, kalau ia menantikan dan merindukan hari itu.