Bukan Kualitas Rendah

Penciptaan manusia berbeda dengan makhluk lain. Makanya standar hidup kita tidak seperti binatang. Kalau binatang, makan-minum, besok mati, selesai. Hari ini hidup, besok mati, dikubur, selesai. Penciptaannya berbeda dengan manusia. Karena manusia waktu diciptakan, Allah menaruh nafas-Nya, meniup nishmat chayyim ke dalam hidung. Dan manusia menjadi makhluk hidup, artinya makhluk yang memiliki kesadaran kekal. Maka tidak heran, kalau manusia menjalani hidupnya tanpa menghayati kekekalan, maka mereka memiliki kualitas hidup tidak jauh beda dengan binatang. Tentu manusia berakhlak, lebih santun, lebih beretika, dan manusia tentu berbudaya karena memiliki rasio. Tetapi kesewenang-wenangan terhadap sesama, tidak berbelaskasihan, tidak beda dengan binatang, atau beda sedikit. Maka ada istilah homo homini lupus; manusia menjadi serigala bagi sesamanya. 

Ada binatang-binatang kalau begitu disentuh, cakarnya keluar. Ada orang-orang yang seperti itu. Tersinggung sedikit, mengeluarkan cakarnya. Cakarnya bukan ada di tangan. Cakarnya berada di mulutnya. Jika tersinggung, bicaranya kasar, tidak memedulikan perasaan orang. Ini tidak agung. Tetapi kalau manusia menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, maka dia pasti juga sadar bahwa ia harus berkualitas serupa dengan Penciptanya; karena Penciptanya adalah Tuhan semesta alam yang sempurna, maka ia belajar untuk berakhlak sempurna. 

Di Matius 5:48 Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga.” Allah menciptakan manusia sebagai makhluk kekal bukan dengan kualitas rendah. Untuk sebuah kekekalan, maka kualitas yang dimiliki harus kualitas terbaik. Dan kualitas yang mestinya dicapai oleh manusia itu sempurna seperti Bapa; must be perfect. Ini yang harus dipahami oleh setiap orang percaya. Manusia sudah rusak karena memberontak kepada Allah dan mati. Setelah mati, manusia sebenarnya punya kesempatan, apakah mengalami kematian kedua atau tidak. Kalau dia berperilaku tidak seperti manusia rancangan Allah, maka dia akan mengalami kematian kedua; terhilang selama-lamanya. Kematian kedua artinya terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Tetapi kalau dia seperti Allah, dia tidak akan terhilang. 

Mengapa ada keselamatan? Supaya manusia yang rusak diperbaiki, dan tidak terhilang selama-lamanya. Kalau tidak, akan terhilang selama-lamanya. Jadi kalau Tuhan berkata, “Kamu jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh,” Dengan kata lain Tuhan mau mengatakan, “Soal kematian jasmani, masih bukan masalah besar. Belum, bukan masalah besar. Tapi kematian kedua itu yang masalah besar.” Sungguh mengerikan. Kematian kedua itu yang lebih mengerikan. Jadi, jangan sampai kita mengalami kematian kedua. Bagaimana supaya kita tidak mengalami kematian kedua? Bertobat, sempurna seperti Bapa. Kalau tidak bertobat dan sempurna seperti Bapa, bisa terhilang selama-lamanya. Itu mengerikan. 

Itulah sebabnya kita bisa memiliki kesadaran, apakah kita ini berkeadaan sempurna seperti Bapa atau belum. Mestinya kita bisa mengenali diri kita sendiri dengan baik. Tidak mungkin kita tidak bisa mengenali diri sendiri dengan baik, lalu nasib kekal kita itu berdasarkan spekulasi atau gambling, atau untung-untungan. Manusia diberi pikiran supaya manusia bisa mempertimbangkan sesuatu. Banyak orang yang pertimbangannya hanya dihabiskan untuk hal yang sia-sia. Ini yang mengerikan. Ini yang membuat seseorang membuang kesempatan yang begitu berharga, yang mestinya digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu guna keselamatan kekal, tetapi hanya untuk berpikir terkait dengan masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. 

Kalau binatang, kecerdasannya hanya diarahkan untuk survive (bertahan) bagi pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Memang ada binatang-binatang yang cerdik. Namun biar bagaimanapun kecerdikan binatang pasti tidak mampu membuat ia mempertimbangkan apakah dia nanti mengalami kematian kedua atau tidak, karena binatang tidak pernah memiliki kesadaran kekal. Hari ini hidup, besok mati, selesai. Ia tidak perlu mempertimbangkan apakah nanti di kekekalan, ia hidup atau mati. Tetapi manusia tidak demikian. Manusia bisa mempertimbangkan apakah dia bisa mengalami kehidupan kekal bersama dengan Allah, atau akan terbuang di kematian kedua. Itulah sebabnya, pada kesempatan ini mari kita mengingat kembali bahwa kita adalah manusia yang memiliki keberadaan kekal. 

Mari kita lebih serius berurusan dengan Allah. Banyak orang berurusan dengan Allah itu tidak dalam rangka dia mempersoalkan bahwa dirinya makhluk kekal. Yang dipersoalkan itu dirinya makhluk yang butuh pakaian, kehormatan, rumah tempat tinggal, jodoh, dan anak. Bukan salah punya rumah, pakaian, jodoh, dan anak. Bukan salah, tidak keliru. Tetapi itu bukanlah tujuan. Seandainya seseorang diperkenan memiliki semua itu, maka semuanya juga hanya dimiliki sementara. Dan mestinya semua itu digunakan dalam rangka mau berurusan dengan Allah. Namun sebagai makhluk yang bertanggung jawab, kita harus bekerja atau mencari nafkah. Maksudnya supaya kita bisa berurusan dengan Allah tanpa gangguan. Namun kita tidak fokus pada pemenuhan kebutuhan jasmani. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Bukan kerajaan dunia, bukan pemenuhan kebutuhan jasmani. 

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk kekal bukan dengan kualitas rendah.