Berurusan dengan Allah

Hal yang terpenting dan utama dalam hidup ini bahkan sebagai satu-satunya yang harus diupayakan adalah berurusan dengan Allah. Usaha untuk berurusan dengan Allah adalah sesuatu yang mutlak, yang harus dikerjakan sedini mungkin atau sesegera mungkin dan tidak boleh ditunda. Penyesatan yang paling berhasil dari kuasa gelap dalam kehidupan manusia adalah memiliki standar yang salah dalam ber-Tuhan. Dalam surat Yakobus 2:19 tertulis: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Pernyataan Yakobus di dalam tulisannya ini sangat jelas menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki standar yang salah dalam ber-Tuhan. Merasa sudah percaya kepada Allah atau sudah ber-Tuhan, tetapi sebenarnya belum atau tidak. 

Tulisan Yakobus di atas seakan-akan hendak mengatakan, kalau hanya percaya bahwa Allah itu ada, apa bedanya kamu dengan setan? Tidak heran banyak orang beragama kelakuannya seperti setan. Memang percaya adanya Allah, tetapi mereka tidak memiliki relasi yang benar dengan Allah. Mereka tidak melakukan kehendak Allah dan hidup dalam pengabdian kepada Allah. Kalau kita memeriksa diri kita sendiri dengan jujur, apakah kita telah memiliki kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan hidup dalam pengabdian kepada Allah secara benar? Standar hidup dalam pengabdian yang benar kepada Allah adalah mengabdi segenap hidup, sebab kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, artinya sepenuhnya kepada Allah atau tidak sama sekali. Mengabdi sepenuhnya kepada Allah bukan berarti harus menjadi pendeta. Tetapi dalam segala hal yang kita lakukan, dalam prinsip kita melakukannya untuk kepentingan Kerajaan Allah.

Penyesatan juga disebabkan karena mereka merasa sudah berjuang dengan melakukan kegiatan-kegiatan agama dalam bentuk seremonial. Padahal, ber-Tuhan adalah sebuah hubungan interaksi konkret dengan pribadi Allah yang tidak kelihatan. Interaksi konkret itu pasti sangat berdampak di dalam kehidupan seseorang. Yang tidak dapat kita bantah dalam kehidupan ini adalah banyak orang beragama, namun kelakuannya adalah kelakuan orang yang tidak mengenal Allah. Adalah jahat kalau menggunakan agama atau Tuhan untuk kepentingan politik, kekuasaan, dan uang. Dalam lingkungan gereja, oleh sebagian pendeta atau rohaniwan, mereka menjadikan agama dan Tuhan sebagai alat untuk aktualisasi diri, memperoleh kehormatan dan kekayaan dunia. Paling tidak, mereka mau memiliki hidup yang wajar seperti manusia lain dengan menggunakan profesi sebagai hamba Tuhan. Orang-orang seperti ini sebenarnya bukan hamba Tuhan, tetapi hamba uang atau hamba diri sendiri.

Kata “setan-setan” dalam teks Yakobus 2:19 “… Tetapi setan-setan pun…” itu sebenarnya tidak tepat, sebab kata “setan-setan” tersebut dalam teks aslinya adalah daimonia, yang lebih tepat diterjemahkan “roh-roh jahat,” dalam bahasa Ibraninya shedim. Kalau “setan” dalam teks asli bahasa Ibrani adalah satan, sedangkan dalam bahasa Yunani diterjemahkan satan juga dan diabolos. Kalimat bahwa “roh-roh jahat percaya dan gemetar” menunjukkan bahwa mereka merasakan atau sama dengan memiliki penghayatan, walau tentu penghayatan yang salah atau menyimpang mengenai keberadaan Allah itu, sehingga hal tersebut berdampak dalam diri mereka yaitu gemetar. Roh-roh jahat bukan hanya gemetar sesaat, tetapi setiap kali berhadapan dengan Allah, mereka gemetar—pasti akan selalu ada kegentaran yang tinggi dalam ketakutan yang hebat.

Roh-roh jahat dapat menghayati keberadaan Allah yang dahsyat dan mereka gemetar secara permanen. Tetapi ironis, manusia tidak mampu menghayati keberadaan Allah. Banyak orang yang tidak gentar terhadap Allah. Hal ini disebabkan karena memang mereka tidak menghayati keberadaan Allah. Mereka tidak mampu menerima realitas Allah dalam kehidupan mereka. Hal ini tidak lepas dari keadaan manusia yang telah sesat. “Sesat” di sini bukan hanya berarti tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab, tetapi telah teracuni oleh pengaruh kuasa gelap yang telah disuntikkan di dalam jiwanya sejak kanak-kanak. Racun itu adalah kesombongan, haus kehormatan dan pujian, materialistis, tidak mau mengalah, tega menyakiti orang lain, pikiran zina, dan lain sebagainya. 

Inilah sebenarnya yang menggerakkan banyak orang menjalani hidup, berkarier dan melakukan segala usaha, yang pada akhirnya untuk memuaskan gairah hidup yang sesat tersebut. Sangat ironis kalau gairah tersebut melekat di dalam diri para rohaniwan, teolog, dan pendeta, sehingga dalam melakukan tugas-tugas pelayanan, sebenarnya tidak didasarkan pada pengertian yang murni dan pengabdian sepenuhnya kepada Allah. Biasanya, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal dirinya sendiri. Mereka tidak tahu kalau mereka sebenarnya tidak tahu. Hal ini bisa terjadi karena mereka menunda berurusan dengan Allah secara benar, sehingga mereka tidak mengenal diri sendiri secara benar.