Bersih Hati, Bersih Pikiran

Firman Tuhan mengatakan di dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau kita biasa bersih di dalam pikiran, bersih di dalam perasaan, bersih dalam perilaku, maka ketika kita berbuat salah, kita akan kehilangan damai sejahtera. Kita merasa tidak nyaman, jiwanya terganggu ketika sudah berbuat sesuatu yang salah, sekecil apa pun itu. Tetapi ada orang yang memang nyaman dengan kebencian, dendam, pikiran kotor dan perilaku yang tidak patut. Dia tidak peduli orang rugi atau tidak rugi. Dia tidak peduli orang sakit hati atau tidak. Dia masa bodoh saja. Dan dia nyaman dengan keadaan itu. Kita harus membangun hidup kita dengan naluriah yang bersih. Tentu hal ini merupakan sebuah pembiasaan dan latihan dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, sampai kita memiliki naluriah yang kudus. Di ayat yang lain dikatakan, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat, dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu. Tetapi hendaklah kamu menjadi di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu.” (1Ptr. 1:14). Karena ini menentukan nasib kekal kita, maka jangan kita jemu dengan teguran seperti ini. Dan hal ini tidak dimulai dari hal-hal yang bersifat mistik, tapi natural. Kita periksa, apakah keinginan kita ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.

Kalau kita melihat kekristenan yang dimiliki banyak orang Kristen, sebenarnya jauh dari standar. Ladang hidupnya itu kotor; ruangan hatinya itu kotor. Mestinya ruang hati kita itu hanya diisi oleh Tuhan dan kehadiran Roh Kudus. Kalau ruangan hati kita diisi oleh Tuhan, maka kalau ada barang-barang tertentu atau keinginan-keinginan di dalam hati kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita tidak merasa sejahtera, Tuhan pun tidak nyaman. Jika kita membuka hati kita hanya untuk Tuhan dan belajar membuang segala keinginan yang tidak sesuai keinginan Tuhan—bersih hati, bersih pikiran—maka kita akan akrab dengan keharuman Tuhan. Jika ada sesuatu yang bukan kehendak Allah ada dalam diri, pikiran, dan keinginan, kita terganggu. Kita harus punya perasaan dan kepekaan tersebut. Oleh sebab itu, kita pasti tidak bisa bersahabat dengan orang-orang yang tidak takut akan Allah. Boleh berteman dalam batas-batas tertentu, karena kita memang harus bersosialisasi. Jangan kita mengasingkan diri atau mengisolasi diri, nanti kita malah dipandang sombong, arogan, egois, dan kita gagal menjadi berkat di antara mereka. Kita tetap hadir, tetapi hadir bukan untuk dipengaruhi, namun untuk memengaruhi. Di satu sisi, kita harus bergaul dengan orang-orang yang takut akan Allah. Karena sejatinya kita pun tidak akan betah hidup bersama dengan orang yang tidak takut akan Allah.

Hal menjadi suci itu tidak dibuat-buat. Bukan hanya melakukan hukum, tapi menjadi karakter. Kesucian itu menjadi karakter; menjadi kodrat. Dan inilah yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3-4 sebagai “kodrat ilahi.” Kalau sampai kita bisa berubah, yang Alkitab katakan berkodrat ilahi, itu lebih dari segala sukses, lebih dari segala keberhasilan, lebih dari segala keuntungan dan kelebihan. Itu adalah harta abadi. Jika kita membaca Alkitab, Tuhan Yesus tidak pernah minta ampun kepada Bapa di surga. Mengapa? Karena Ia tidak pernah berbuat salah, artinya dalam segala hal Ia hidup suci. Kita harus punya karakteristik tersebut, yakni tidak berbuat salah. Kita harus hidup dalam kesucian dan kekudusan. Bagaimana mungkin? Apakah kita bisa sampai tidak berbuat salah? Bisa! Punya masalah atau tidak punya masalah, ini adalah rahasia hidup. Orang yang masuk Kerajaan Surga itu bukan hanya orang yang tidak berbuat salah, tetapi orang yang memiliki kodrat tidak bisa berbuat salah. Biar kita miskin, dikhianati, dibuang oleh orangtua, mertua, suami, anak—tidak punya apa-apa dan siapa-siapa—asalkan kita kalau punya keadaan hati yang bersih, pikiran yang bersih, cukup. Kalau keberadaan kita—sifat, karakter, pikiran, hati—adalah keadaan yang Allah kehendaki, kita menjadi bangsawan surgawi. Karena ini adalah modal utama kita untuk dapat memiliki kematian yang bermartabat.

Jika kita membuka hati kita hanya untuk Tuhan dan belajar membuang segala keinginan yang tidak sesuai keinginan Tuhan—bersih hati, bersih pikiran— maka kita akan akrab dengan keharuman Tuhan.