Berkualifikasi Perawan Suci

Di dalam Alkitab, Paulus berbicara mengenai perawan suci yang dikenakan bagi orang percaya. Orang percaya dilukiskan sebagai tunangan atau mempelai wanita bagi mempelai pria, yaitu Tuhan Yesus. Orang percaya dikehendaki untuk menjadi manusia yang berkualitas sebagai perawan suci (2Kor. 11:2-3). Pengertian “perawan” secara umum adalah wanita yang masih belum pernah melakukan hubungan badan dengan pria. Tetapi dalam konteks Alkitab Perjanjian Baru, “perawan suci” artinya orang yang tidak ternodai oleh percintaan dunia dan dosa. Ketika suatu saat berhadapan dengan Tuhan, orang percaya yang layak disebut sebagai perawan suci adalah mereka yang benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela, yang hatinya  tidak terikat dengan dunia ini dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup ini. Perawan Suci adalah orang percaya yang tidak tersandera oleh dunia dengan segala hiburannya, dan juga tidak tersandera oleh kodrat dosa di dalam dirinya.

Tidak mudah menjadi perawan suci di hadapan Allah, karena kita adalah orang-orang yang sudah ternoda oleh dunia dan terbelenggu oleh kodrat dosa di dalam diri kita. Itulah sebabnya, setelah kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita harus sungguh-sungguh dimuridkan dan mengalami proses pendewasaan atau proses penyempurnaan untuk serupa dengan Yesus. Yesus adalah standar kecantikan rohani sebagai perawan suci di hadapan Allah. Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa kalau seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam keyakinan di dalam pikiran, maka itu sudah cukup menyelamatkan dan menjadikannya mempelai Tuhan Yesus. Oleh karena kesalahan berpikir ini, tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan keselamatannya. Itulah sebabnya, banyak orang Kristen yang tidak mengalami atau menjalani proses pemulihan atau proses pendewasaan yang membawa dirinya dapat menjadi perawan suci yang layak bagi Yesus Kristus sebagai Mempelai Pria.

Kalau Yesus adalah Mempelai Pria, maka mempelai wanita harus memiliki kualifikasi yang dapat mengimbangi keagungan pribadi Sang Mempelai Pria.  Karenanya, kita sebagai mempelai wanita harus berani mempersoalkan, apakah kita layak bersanding dengan Yesus, Sang Mempelai Pria. Firman Tuhan mengatakan agar kita kudus seperti Allah kudus. Maksud ayat firman Tuhan tersebut adalah kita harus bisa mengimbangi kekudusan Allah supaya kita dapat mengambil bagian dalam persekutuan dengan Dia, layak tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Firman Allah sendiri yang mengatakan agar kita keluar dari persekutuan dengan orang-orang jahat dan tidak menjamah apa yang najis, maka Allah barulah dapat menerima kita sehingga kita menjadi anak-anak-Nya laki-laki dan anak-anak-Nya perempuan (2Kor. 6:17-18). Hal ini tidak bisa dibantah, bahwa orang percaya harus menjadi kudus seperti Allah kudus. Disebut sebagai perawan suci, suci; tidak ternoda atau tidak bercela. Jadi perawan suci berarti orang percaya yang tidak bernoda dan tidak bercela. Kudus seperti Tuhan Allah, Bapa orang percaya.

Perjuangan untuk menjadi mempelai wanita yang layak bagi Kristus, Sang Mempelai Pria, bukanlah perjuangan yang mudah. Perjuangan ini menuntut seluruh hidup kita untuk dipertaruhkan. Itu berarti harus segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan segenap akal budi untuk memperjuangkan pencapaian sebagai perawan suci di hadapan Allah. Menjadi perawan suci di hadapan Allah agar kita layak sebagai mempelai wanita bagi Kristus, bukan sesuatu yang dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis atau dengan sendirinya. Banyak orang Kristen berpikir bahwa setelah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, otomatis dia menjadi mempelai Tuhan. Betapa mengerikan keadaan orang-orang Kristen seperti ini, yang nanti pada akhirnya ternyata tidak dikenal oleh Tuhan Yesus. Mengapa tidak dikenal oleh Tuhan Yesus? Sebab tidak melakukan kehendak Bapa. Mempelai wanita yang berstatus sebagai perawan suci di hadapan Allah adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa adalah kualitas kehidupan Yesus, kualitas mempelai pria. Sebagai mempelai wanita, harus juga memiliki kualifikasi yang sama.

Sebagai perawan suci di hadapan Allah yang juga berstatus sebagai mempelai, bukanlah sesuatu yang main-main atau sembarangan. Mempelai wanita yang berkualifikasi sebagai perawan suci, keberadaannya bukanlah sekadar status. Banyak orang Kristen berpikir bahwa kalau sudah menjadi Kristen, berarti dia telah bersatu sebagai mempelai Tuhan. Memang orang Kristen seharusnya menjadi mempelai Tuhan, tetapi harus berkualifikasi sebagai perawan suci. Orang Kristen yang tidak berkualifikasi sebagai perawan suci, tidak layak menjadi mempelai wanita bagi Kristus. Untuk berkualifikasi sebagai perawan suci, orang Kristen harus melakukan perjuangan yang berat. Inilah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 13:23-24, yaitu perjuangan memasuki pintu yang sesak. Alkitab juga menegaskan bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Mereka yang terpilih adalah mereka yang memiliki kekudusan atau kesucian hidup, yang di dalam Matius 22:1-14 digambarkan sebagai pakaian pesta. Jangan sampai gagal mempersiapkan diri mengenakan pakaian pesta.