Skip to content

Berkat Kekal

Kita harus bersyukur untuk hari baru yang masih Tuhan berikan. Dan tidak ada satu hari di mana Tuhan tidak menyediakan berkat. Seperti yang dikatakan di dalam kitab Yeremia, “Selalu baru setiap hari.” Jadi, setiap hari pasti ada berkat. Dan berkat yang dimaksud adalah berkat kekal. Kalau hanya makan-minum itu adalah berkat sementara, berkat untuk pemenuhan kebutuhan fisik. Tetapi itu tidak boleh menjadi prioritas. Kita harus lebih memiliki perasaan krisis karena keadaan kita yang belum seperti rancangan Allah semula daripada berbagai pemenuhan kebutuhan jasmani. Kalau kita merasa ada perasaan krisis kita untuk hal lain, bukan terkait dengan Allah, maka fokus kita pasti menjadi bias atau salah. 

Sejujurnya, sering kita merasa krisis untuk hal-hal yang kita tidak perlu merasa krisis. Inilah yang menutup mata kita terhadap krisis yang mestinya kita tanggulangi, yang mestinya kita antisipasi dari sekarang. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. Takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka. Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun daripadanya tidak akan jatuh ke di luar kehendak Bapamu,” Matius 10:28-29. Tetapi yang hendak dikemukakan di sini bahwa keadaan baik secara lahiriah, secara materi, bukanlah ukuran berkat.

Berkat utama kita adalah berkat kekal, berkat abadi, berkat yang dapat kita miliki dan nikmati di dalam kekekalan. Berkat itu dibungkus di dalam peristiwa-peristiwa hidup, kejadian-kejadian yang kita dengar, kita lihat dan terutama yang kita alami. Tidak ada satu pun kejadian yang tidak memuat mutiara Tuhan. Setiap peristiwa, setiap kejadian ada mutiara Tuhan. Dan di situ Tuhan bicara kepada kita. Dan itulah rhema; firman yang keluar dari mulut Allah. Dan itulah yang mestinya kita tangkap setiap saat. Namun sering kali berkat-berkat seperti ini berlalu dan tidak kita asup, tidak kita konsumsi. Mengapa? Karena fokus kita tidak pada Tuhan. Mestinya fokus kita hanya pada Tuhan. 

Dan kalau fokus kita pada Tuhan, maka kita tidak lepas dari memikirkan kesucian. Memikirkan kesucian berarti, yang pertama, menghindarkan diri dari hal-hal yang salah. Yang kedua, fokus pada kekekalan. Itulah berkat kekal yang bisa kita tangkap. Mari kita melihat, menemukan, merasakan, dan meraih berkat kekal itu di setiap peristiwa dan kejadian hidup yang kita alami. Tidak hanya masalah-masalah besar yang merenggut emosi, perasaan kita, dan yang bisa mempengaruhi fisik kita, tetapi hal-hal sederhana yang kita dengar dan kita lihat. Roh Kudus mengasuh kita, Roh Kudus bicara pada kita. Dulu kita tidak peduli. Kejadian demi kejadian berlalu, karena fokus kita terbagi kepada banyak hal. Tetapi ketika kita mulai sungguh-sungguh berurusan, berperkara dengan Tuhan, kita memperhatikan setiap peristiwa. 

Maka, banyak hal yang Tuhan berikan kepada kita, banyak yang kita dengar, banyak rhêma (ucapan Tuhan) yang keluar dari mulut Allah. Kalau kita sebagai anak, waktu kita masih kecil atau masih memiliki orang tua, kita lihat ada orang tua yang cerewet. Cara kita pegang gelas kurang pas, pasti ditegur, “Hati-hati, perhatikan, nanti pecah.” Atau saat kita makan, kita bersuara, maka pasti mereka berkata, “Nak, jangan mengecap, tidak sopan.” Tetapi setelah kita dewasa, kita sadar bahwa semua menjadikan kita manusia yang santun. Itu orang tua yang baik. Jadi, kepada yang muda-muda kalau orang tuamu cerewet, bersyukurlah kepada Tuhan untuk orang tua yang cerewet. 

Kita punya Roh Kudus yang bicara. Apa yang dikatakan Roh Kudus pasti berisi, bernilai, berkualitas lewat semua peristiwa. Maka jangan banyak bicara. Sebab semakin kita banyak bicara, semakin kita tidak menangkap suara Tuhan, nasihat Tuhan, teguran Tuhan, padahal pesan Tuhan dapat kita terima lewat peristiwa-peristiwa hidup yang terjadi. Jangan banyak bicara, namun banyaklah merenung. Nanti di saat-saat tertentu, kita berdialog dengan Tuhan. Jika ada hal-hal yang terlewat, Tuhan akan bicara.

Berkat utama kita adalah berkat kekal, berkat yang dapat kita miliki dan nikmati di dalam kekekalan. Berkat itu dibungkus dalam peristiwa-peristiwa hidup, kejadian-kejadian yang kita dengar, kita lihat dan terutama yang kita alami.