Penghargaan Diri

Saudaraku,
Pada umumnya manusia hidup membutuhkan pengakuan dari manusia lain atau
dari dunia sekitarnya. Dari pengakuan kelas sederhana sampai pada sanjungan dan
pujian, bahkan pemujaan. Pengakuan sederhana adalah pengakuan terhadap
dirinya, bahwa ia pantas mendapat tempat sekecil apa pun dalam ruangan
kehidupan ini. Dengan istilah lain, setiap insan menuntut untuk dimanusiakan.
Betapa abstraknya hal ini sebab pengertian dimanusiakan itu sangat relatif.
Seseorang akan sangat terluka dan sakit hati—bahkan terbangkitkan
kemarahannya—bila merasa harkatnya (martabat) diinjak-injak. Harkat hidup
seseorang sangat relatif, tergantung bagaimana seseorang memberi nilai terhadap
dirinya. Semakin ia memberi nilai tinggi terhadap dirinya, maka semakin ia menuntut
harkat dirinya dihargai.
Hal ini juga berkaitan dengan status yang dimiliki seseorang; status darah
(bangsawan atau rakyat jelata), status sosial, tingkat pendidikan, status pergaulan,
pendidikan dan lain sebagainya. Misalnya, seseorang yang jumlah kekayaan
bertambah akan menaikkan harkat dirinya. Itulah sebabnya orang mau menjadi
kaya—yang selain rasa aman dan bahagia—juga harkat ini. Secara otomatis, pada
umumnya, ketika seseorang merasa bahwa harkatnya telah naik, maka ia pun
menaikkan harga harkatnya. Itulah sebabnya banyak orang berjuang keras untuk
berhasil dalam berbagai bidang. Dengan kondisi ini manusia digiring menuju
kegelapan abadi. Dan banyak orang Kristen juga ikut tergiring tanpa mereka sadari.
Sebagai anak-anak Tuhan, pujian yang harus kita cari dan gumuli adalah “pujian dari
Tuhan” (1Kor. 4:5; 1Ptr. 1:7). Hal ini tidak mudah, sebab manusia biasanya mau
merasakan pujian dari yang kelihatan sekarang di bumi, sedangkan Tuhan tidak
kelihatan dan pujian yang diberikan barulah nanti di langit baru dan bumi yang baru.
Saudaraku,
Tuhan Yesus sebagai teladan hidup kita menyatakan bahwa Diri-Nya tidak mencari
hormat dari manusia (Yoh. 5:41). Menjadi orang percaya berarti menjadi pribadi
yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dari Allah Anak yang
memiliki kemuliaan sebagai Allah, Ia mengosongkan diri menjadi manusia yang
dalam segala hal disamakan dengan manusia biasa. Bahkan Ia mati di kayu salib
dengan sangat terhina (Flp. 2:5-7). Dengan cara inilah Ia memuliakan Allah Bapa di
surga. Karena Ia memuliakan Allah Bapa, maka Ia pun juga dimuliakan (Yoh. 8:54).
Dengan demikian standar hidup yang harus dimiliki oleh orang percaya adalah
standar hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Sungguh sangat menyedihkan,
kalau perjalanan hidup yang dijalani banyak orang hanya untuk mencari kehormatan
bagi dirinya sendiri dari dunia. Kemiskinan cara berpikir dan gaya hidup ini juga
berjangkit dalam kehidupan para pelayan jemaat; pendeta-pendeta yang berebut
kursi pimpinan dalam lingkungan sinode gereja. Sehingga di gereja terdapat praktik-

praktek seperti kegiatan politik sekuler. Semua itu disebabkan karena ambisi mau
menjadi orang terhormat di antara pendeta lain. Kalau pemimpin gereja terjebak
dalam kubangan tersebut, lalu bagaimana dengan jemaat?
Saudaraku,
Dengan berpikir menggunakan cara berpikir Allah, maka prinsip-prinsip hidup kita
bertolak belakang dengan dunia. Bagi mereka yang dianggap kemegahan adalah
kekayaan dunia dan segala kehormatannya. Tetapi bagi orang percaya, yang
bernilai tinggi adalah ketaatan kepada kehendak Allah, apa pun keadaannya. Dalam
hal ini kehormatan dan kemegahan hidup bukanlah diukur dari penampilan lahiriah
dan duniawi. Betapa kontrasnya dengan prinsip manusia pada umumnya. Padahal
setiap hari begitu membuka mata yang dikejar orang dunia adalah kehormatan dan
kemegahan fisik atau materi. Mereka tidak mengerti bagaimana melakukan
kehendak Tuhan. Mereka tidak akan mengerti kalau ada orang-orang yang tekun
belajar kebenaran Firman Tuhan, menyediakan diri bertemu dengan Tuhan setiap
hari dan berusaha menjaga kesucian hidupnya. Mereka memandang orang-orang
Kristen yang berbuat demikian adalah orang-orang fanatik yang picik atau dianggap
sebagai korban indoktrinasi hamba-hamba Tuhan tertentu.
Ironis, mereka sudah merasa sebagai orang Kristen, tetapi tidak fanatik seperti itu.
Mereka memandang bahwa diri mereka sudah menjadi Kristen yang proporsional.
Berbeda dengan kekristenan orang-orang tersebut yang dianggap sebagai “fanatik
dan keterlaluan.” Itulah yang di mata mereka sebagai suatu kebodohan yang sama
nadanya dengan “kelemahan.” Dari sudut pandang Firman Tuhan, orang Kristen
harus mendahulukan Kerajaan Allah, menjadikan hal mengenal Tuhan dan
melakukan kehendak-Nya sebagai prioritas melebihi segala sesuatu. Itulah standar
yang harus dimiliki setiap orang percaya.
Memang menjadi orang percaya harus fanatik. Tentu fanatik yang sehat. Biasanya
fanatik berarti suatu keyakinan dan pembelaan yang berlebihan, bahkan kadang-
kadang sampai membabi buta dan mengorbankan segala sesuatu. Sedangkan
fanatik yang sehat artinya memang bersikap berlebihan, tetapi tidak membabi buta
sebab membela Tuhan dan meyakini-Nya dengan pengertian. Hal ini dilakukan oleh
Tuhan Yesus, dalam keyakinan-Nya kepada Allah Bapa dan pembelaan serta
ketaatan-Nya kepada Allah Bapa sangat luar biasa; dimana Tuhan Yesus taat
sampai mati bahkan mati di kayu salib. Satu sisi di mata orang Kristen kebanyakan
fanatisme seperti itu adalah kebodohan yang senada dengan kelemahan, tetapi di
mata Allah adalah proporsional. Dan itulah kekuatan. Tentu saja fanatisme orang
percaya yang benar tidak melukai siapa pun. Fanatisme yang sehat akan melahirkan
kesucian hidup, kehidupan yang bertanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat
bangsa dan gereja Tuhan. Untuk memiliki fanatisme yang sehat seperti Tuhan
Yesus kepada Allah Bapa, kita harus berani menyangkal diri dan memikul salib.
Inilah yang harus menjadi pergumulan utama hidup ini, seperti Tuhan Yesus.

Teriring salam dan doa,
Erastus Sabdono

Semakin seseorang memberi nilai tinggi terhadap dirinya,
maka semakin ia menuntut harkat dirinya dihargai atau dinaikkan.