Berbasis Dunia Hari Ini

Pada akhirnya, Allah Bapa menghendaki agar suatu hari nanti Bapa menemukan orang-orang yang berkepribadian seperti Anak Tunggal-Nya, sehingga rencana Bapa dimana Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara, benar-benar terwujud. Untuk memiliki kepribadian Anak Tunggal Bapa, tidak ada cara lain kecuali mengalami kematian daging. Kematian daging ini sama dengan kematian diri sendiri. Hanya kalau seseorang mengalami kematian diri sendiri, barulah ia dapat melahirkan atau menghidupkan pribadi Anak Allah di dalam dirinya. Jika hal ini berhasil, barulah seseorang dapat disebut mengalami kelahiran baru. Hal ini berarti semua pola pikir dan semua hasrat yang telah dibangun selama bertahun-tahun, harus digantikan oleh pola pikir dan hasrat ilahi. Inilah gairah anak Allah yang normal, sebuah gairah hidup yang dikenakan oleh Yesus. Inilah sebenarnya tujuan utama menjadi umat pilihan Perjanjian Baru. Faktanya, banyak orang tertawan oleh berbagai kesibukan yang tidak membawa kehidupan kekal. Segala sesuatu yang mereka usahakan adalah perkara-perkara dunia fana. Hati dan pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka menjalani hidup sama seperti anak-anak dunia. 

Orang yang dibutakan oleh ilah zaman ini, tidak bersedia membuang segala kesenangan pribadi. Mereka tidak menyadari sedalam-dalamnya bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Inilah orang-orang yang hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan Kristus yang telah menebusnya. Itulah sebabnya, tidak sedikit orang Kristen yang mata hatinya tertutup terhadap kepentingan Kristus. Hidup untuk kepentingan Kristus artinya hidup bagi pemberitaan karya salib Tuhan dengan mengenakan gaya hidup Yesus, demi pelebaran Kerajaan Allah, agar jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dapat terselamatkan. Kalau seseorang masih mengasihi diri sendiri, maka ia tidak dapat mengasihi orang lain, dan tidak dapat menjadi utusan Kristus, hidup untuk kepentingan Kristus. Sebenarnya, mereka belum hidup baru dalam Tuhan. 

Orang yang benar-benar hidup baru dalam Tuhan akan menunjukkan kualitasnya, ketika menghadapi berbagai pengaruh dunia. Ia tidak akan terhanyut dalam pola hidup anak-anak dunia. Dengan demikian, ia mengembangkan logika rohaninya dan Tuhan akan menanamkan kerinduan terhadap Kerajaan-Nya. “Logika” di sini maksudnya pola dan landasan berpikirnya. “Rohani” maksudnya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari kefanaan dunia ini. Jadi, logika rohani artinya pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang. Basis pola pikiran manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, melainkan dunia. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia, seperti yang dibujukkan kepada Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, kita harus rela meninggalkan pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini. Kita harus memikirkan hal ini dengan serius dan memahaminya dengan lengkap, agar kita memiliki basis berpikir yang mengarah pada Kerajaan Allah (Kol. 3:1-3). 

Logika rohani yang berbasis pada dunia yang akan datang, bertentangan dengan gaya hidup anak dunia. Gaya hidup Yesus sendiri adalah gaya hidup yang bertolak belakang dengan gaya hidup manusia pada zamannya. Kalau kehidupan orang percaya belum sampai bertolak belakang dengan gaya hidup anak dunia, berarti ia belum mencapai kekristenan yang sejati yang diajarkan Yesus. Pada dasarnya, mengikut Tuhan Yesus adalah meneladani gaya hidup-Nya. Kalau gaya hidup Tuhan Yesus bertolak belakang dengan gaya hidup manusia pada umumnya, berarti orang percaya yang meneladani gaya hidup-Nya juga ikut bertolak belakang dengan dunia. Murid-murid Yesus pernah kecewa, dan tidak seorang pun yang bersedia mengiring Tuhan lagi ketika ternyata Yesus mati di kayu salib. Mereka tergoncang karena tidak mengerti isi kehidupan Yesus yang sejati. Pada mulanya, mereka berharap Yesus akan menjadi raja dunia; raja versi mereka. Murid-murid menginginkan kemakmuran duniawi. Mereka tidak mengerti tujuan yang hendak dicapai oleh Tuhan Yesus.

Murid-murid Yesus tidak bisa menerima kenyataan tersebut. sebagai reaksi mereka terhadap keadaan itu, mereka meninggalkan Yesus. Mereka tidak siap dengan keadaan tersebut. Kemudian, Petrus sendiri yang adalah murid terkemuka, sempat menyangkal Tuhan Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa logika mereka masih duniawi yang berbasis pada dunia hari ini. Murid-murid mau menyelamatkan kehidupan mereka hari ini di bumi ini, tetapi Tuhan Yesus menyelamatkan mereka untuk dunia yang akan datang. Hidup mereka di bumi hari ini dirampas untuk rencana Allah. Murid-murid-Nya menjauhi dan menghindari kematian, tetapi Tuhan Yesus justru menerima kematian dan masuk ke dalamnya. Yesus menjalani kehidupan ini dengan melepaskan semua klaim pada kekuasan yang sebenarnya Ia miliki, dan memilih jalan ketidakberdayaan. Kematian-Nya di kayu salib tanpa melawan, menunjukkan cara Tuhan Yesus mencapai tujuan-Nya. Hanya orang yang logika rohaninya berbasis dunia yang akan datang yang dapat menjadi utusan Kristus.