Belajar Memercayai Pribadi-Nya

Orang yang merdeka dalam Tuhan adalah mereka yang dapat mengandalkan Tuhan secara dewasa. Sebenarnya, mengandalkan Tuhan memiliki beberapa pengertian. Salah satu pengertiannya adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha semaksimal mungkin. Dalam hal ini, ada dua pokok pikiran yang penting. Pertama, harus ada usaha semaksimal mungkin dari kita dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup yang kita hadapi. Kedua, setelah kita berusaha semaksimal mungkin, selanjutnya hasil atau keadaan yang terjadi, harus kita percayai dan terima sebagai sesuatu yang baik dan berguna bagi kita. Bahkan, ketika hasil usaha kita dalam menyelesaikan masalah tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus percaya bahwa keadaan itu adalah keadaan terbaik. Keadaan tersebut pasti bukan sesuatu yang mencelakai. Hasil akhir tersebut adalah berkat kekal yang Tuhan berikan. Artinya, bahwa melalui hal tersebut, Tuhan mendewasakan kita untuk persiapan hidup di kekekalan.

Dalam hal ini, mengandalkan Tuhan berarti memercayai dan menerima bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita ini mendatangkan kebaikan; bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Kalau keadaan yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus menerima dengan percaya bahwa hal itu tidak akan mencelakai kita. Tuhan sangat bisa kita andalkan untuk mengubah keadaan terburuk sekalipun menjadi sesuatu yang baik bagi kita. Inilah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Kalau mengandalkan Tuhan hanya karena menerima kemudahan dan jalan keluar dari berbagai masalah yang ada, itu bukanlah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Biasanya, bangsa Israel mengandalkan Tuhan berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan persoalan-persoalan duniawi, seperti menang dari musuh, panen raya yang berlimpah, dan berbagai masalah lain yang tidak secara langsung berkenaan dengan perubahan karakter dan kekekalan. Berbeda dengan orang percaya pada zaman Perjanjian Baru. Orang percaya diproyeksikan untuk dikembalikan ke rancangan semula. Hal mengandalkan Tuhan harus bertalian dengan karakter yang diubahkan seperti Kristus, dan dilayakkan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah. 

Jika Tuhan mengambil alih semua persoalan kita dan dengan mudah memberi jalan keluar, maka Tuhan merusak mental anak-anak-Nya. Sejatinya, Tuhan menghendaki anak-anak-Nya memaksimalkan semua potensi sebagai wujud tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Orang sering berkata, “Allah berperang ganti kita,”pernyataan ini memang terdapat dalam Alkitab. Namun, kalimat ini harus dipahami konteksnya, yaitu ketika bangsa Israel dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, Tuhan bertindak untuk melindungi umat-Nya. Pernyataan “Allah berperang ganti kita” tidak boleh menjadi alasan orang percaya menjadi malas dan tidak bertanggung jawab menghadapi hidup dengan berbagai persoalannya. 

Dalam konteks hidup kita sebagai orang percaya, “Allah berperang ganti kita” bisa terjadi pada saat orang percaya dalam situasi ekstrem, yaitu saat orang percaya sudah tidak berdaya sama sekali. Itupun tidak selalu sesuai dengan keinginan atau harapan kita, tetapi berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Tuhan. Jangan sampai seorang Kristen yang sebenarnya masih bisa berusaha, tetapi karena malas dan tidak membangun atau tidak mengobarkan daya juang, kemudian berharap Tuhan bertindak menyelesaikan persoalannya—Allah berperang ganti kita. Kalau Tuhan mudah bertindak untuk menyelesaikan masalah orang percaya, Tuhan merusak mental orang tersebut. Hal ini akan membuat seseorang menjadi malas, memiliki daya juang rendah, dan tidak bertanggung jawab. Hendaknya kita tidak berpikir naif bahwa bila kita memercayai kuasa Tuhan, Ia akan melakukan apa pun supaya nama-Nya dimuliakan. Hal ini seakan-akan Tuhan membutuhkan pujian dan sanjungan. Pada dasarnya, percaya kepada Tuhan bukan karena kuasa-Nya, melainkan karena pribadi-Nya. Percaya kepada Tuhan berarti menerima semua tindakan-Nya.

Seseorang yang percaya kepada Tuhan dengan jalan menerima semua tindakan-Nya adalah ciri nyata dari mengandalkan Tuhan secara dewasa. Tentu perjalanan untuk sampai pada titik mengandalkan Tuhan secara dewasa, tidaklah mudah. Namun, inilah isi dari kemerdekaan di dalam Tuhan. Kemerdekaan yang telah kita peroleh dari Tuhan menggiring kita untuk belajar bergantung pada Tuhan dengan benar. Dalam hal ini, kemerdekaan dalam Tuhan kita isi dengan belajar memercayai Pribadi-Nya dalam keadaan apa pun. Kita tidak lagi memaksa Tuhan menyelesaikan masalah sesuai kemauan kita, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya dalam tanggung jawab dan kebergantungan kepada-Nya.

Kemerdekaan dalam Tuhan kita isi dengan belajar memercayai Pribadi-Nya dalam keadaan apa pun.