Skip to content

Anugerah sebagai Umat Pilihan

Ketika Tuhan Yesus berkata di Lukas 18:8, “Jika Anak Manusia datang di bumi, apakah Ia mendapati iman di bumi?” Ini sama dengan: Kalau Yesus datang, apakah Ia mendapati orang Kristen yang benar-benar berstatus sebagai anak-anak Allah di mata Allah? Berkeadaan sebagai anak-anak Allah? Jangan main-main dengan hal ini! Semua orang Kristen pasti mengaku bahwa dirinya adalah anak-anak Allah. Tetapi, apakah Allah merasa kita itu anak-anak-Nya? Ini yang harus kita persoalkan, karena ini menyangkut sikap hidup kita. 

Sama seperti orang tua. Mereka merasa bahwa anaknya memperlakukan dirinya sebagai orang tua, maka orang tua akan mengakui si anak ini memang anaknya. Tetapi tidak jarang ada anak-anak yang berperilaku tidak pantas. Sampai orang tua  tidak merasa dia itu anaknya. Apakah Allah merasa kita ini anak-anak-Nya? Di dunia yang semakin gelap, di tengah-tengah suasana dunia yang jahat yang fasik—artinya tidak takut Tuhan, tidak peduli hukum—apakah kita serius berurusan dengan Allah dan memperlakukan Allah dengan benar? Berperilaku sesuai dengan apa yang Allah kehendaki sampai Allah merasa bahwa kita itu anak-anak-Nya? 

Yohanes 1:12 tertulis, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.” Hak diberikan oleh Allah, bagi yang menerima Firman, supaya mereka menjadi anak-anak Allah. Ini percaya atau beriman yang benar. Iman dengan kualitas seperti yang tertulis dalam Lukas 18:8. Orang-orang yang menerima Firman Kebenaran dan percaya atau beriman dengan benar adalah “Orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Kita semua dilahirkan oleh orang tua kita dan kita pasti mewarisi gen, sifat, karakter orang tua.

Allah mau kita dilahirkan oleh Dia. Allah tahu, siapa yang telah mengalami kelahiran ini. Orang yang mengalami kelahiran baru pasti mengalami perubahan. Perubahan sesuai dengan apa yang Allah inginkan yaitu sempurna seperti Bapa. Gen dari Bapa harus turun ke anak-anak-Nya. Hal itulah yang diperjuangkan oleh Allah, melalui atau di dalam Roh Kudus. Itulah sebabnya, di dalam Ibrani 12, Firman Tuhan mengatakan bahwa Bapa mendidik kita sesuai dengan apa yang Bapa pandang baik. 

Sama seperti orang tua di bumi yang mendidik anak-anak mereka supaya anak-anak menjadi baik, menurut pandangan orang tua. Setiap orang tua punya konsep apa itu baik, apa itu sukses. Allah pun memiliki standar. Maka, Ia mendidik manusia yang menerima Yesus, menerima Firman, menerima kebenaran supaya menjadi anak-anak-Nya. Jika seorang Kristen atau orang percaya menerima didikan-Nya, maka dia akan mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Ini sama dengan mengalami perubahan kodrat. 

Bapa kita yang sejati, Bapa segala roh, mendidik kita supaya kita beroleh hidup. Artinya, memiliki zoe (kehidupan) yang berkeadaan berbeda dari sebelum kita dididik. Makanya, kita harus memberi diri dididik sampai mengalami perubahan sesuai dengan apa yang dipandang Allah itu baik, sesuai dengan standar Allah. Inilah yang namanya dilahirkan baru; ciptaan baru. Ibrani 12 mengatakan, ‘beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.’ Artinya kita bisa memiliki keadaan seperti Bapa. Jadi kalau bicara tentang kekudusan, di dalam kata “kudus” termuat potensi atau kemampuan untuk bertindak seperti Tuhan. Berpikir, berperasaan seperti Tuhan. Memiliki gen dari Allah. Dan kesempatan ini mahal sekali, maka:

Yang pertama, kita harus mengerti bahwa tidak semua orang memiliki anugerah menjadi umat pilihan. Ini merupakan hak prerogatif Allah. Jadi, kalau ada orang yang tidak menjadi Kristen, kita tetap menjadi saksi. Tetapi jangan mengkristenkan dan memaksa ia harus ke gereja. Dia ke gereja untuk apa kalau akhirnya hanya beragama Kristen? Sebab kalau seseorang menjadi Kristen karena ditarik-tarik, diberi bantuan sembako atau karena menikah, dia tidak pernah jadi Kristen yang benar. Tetapi kalau orang melihat kesaksian hidup kita sampai menjadi Kristen—bukan karena 5 kilo beras, 1 kilo gula dan sembako—melainkan karena melihat kesaksian hidup kita, maka nanti arah hidupnya akan seperti arah hidup kita. Sampai ia berkata, “Aku ingin memiliki hidup seperti hidupmu!” Ini luar biasa! 

Tetapi orang-orang yang dipilih Tuhan harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan (Ibr. 12:1). Perlombaan itu sebenarnya adalah bagaimana keluar dari kodrat manusia atau kodrat dosa kita, dan masuk menjadi orang yang berkodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Kesempatan ini berharga sekali. Karenanya, kalau kita sadar akan hal ini, maka yang lain tidak menjadi hal yang penting. Yang lain menjadi dukungan untuk proses perubahan kita. 

Kita harus mengerti bahwa tidak semua orang memiliki anugerah menjadi umat pilihan.