Allah “Disandera”

Tanpa disadari, Tuhan itu “disandera” oleh sekelompok orang yang disebut teolog atau pendeta, dengan memberikan kesan seakan-akan Tuhan tidak bisa dikenali, dan orang tidak bisa bersekutu secara proporsional tanpa pengetahuan tentang Allah atau teologi yang dimonopoli oleh kelompok tersebut. Banyak orang Kristen—khususnya jemaat awam—berpikir karena pengetahuan teologi mereka minim, maka jembatan atau tangga atau apa pun namanya untuk menjangkau Allah, juga minim. Ini yang merusak konstelasi kehidupan iman jemaat. Kemudian tanpa sadar dikesankan oleh para teolog dan pendeta, bahwa tanpa pengetahuan teologi yang mereka miliki, jemaat tidak dapat menemukan Allah dengan benar. Tentu tidak semua pendeta dan teolog demikian. 

Hendaknya kita tidak merasa karena kita bukan teolog atau pendeta, maka kita tidak memiliki “tangga” untuk dapat menjangkau Allah. Hendaknya, kita juga tidak berpikir bahwa tangga jemaat lebih pendek dibanding teolog atau pendeta. Sejatinya, semua kita memiliki akses langsung kepada Allah. Di dalam kekristenan, tidak ada pengantara atau perantara atau jurusyafaat untuk mencapai Allah, kecuali Tuhan Yesus Kristus. Yesus Kristus itu utusan Allah dan juga Tuhan kita, Juruselamat kita, Raja kita. Dia menjadi Jurusyafaat bagi semua orang percaya, dimana semua orang percaya tanpa diskriminasi dapat menjangkau Allah. 

Memang kita harus belajar teologi dengan benar, tetapi sementara kita belajar, bukan berarti lalu tangga kita masih pendek karena belum menguasai teologi. Tentu Tuhan sangat menerima dan menolerir keadaan kita masing-masing. Sebab, Allah ingin dan Allah memang menghendaki orang percaya berurusan dengan Dia dalam segala masalah kehidupan yang sedang dijalani, tanpa menunggu memiliki pengetahuan teologi yang cukup menurut para teolog. Hendaknya kita tidak memasukkan Allah di dalam kotak yang namanya “buku;” jangan memasukkan Allah dalam satu kotak atau ruangan yang namanya “diskusi ilmiah teologi.” Jika pengetahuan teologi itu sesuai Alkitab, memang harus didiskusikan, harus ditulis, harus diseminarkan, harus dikhotbahkan, di-PA-kan (artinya melalui Pendalaman Alkitab), tetapi bukan berarti suatu kemutlakan untuk menguasai teologi dari tokoh tertentu, baru kekristenannya “tidak sesat.”

Kalaupun kita belum memiliki pengetahuan seperti yang dipandang oleh para teolog sebagai prasyarat untuk mengenal Allah, bukan berarti kita tidak dapat menjangkau Allah. Kalaupun kita belum memiliki pengetahuan sebanyak buku-buku di perpustakaan, kita tetap bisa menjangkau Allah dan berinteraksi secara harmoni, ideal, dan mesra, secara eksklusif pula, serta intim dengan Allah. Bukan manusia yang menentukan standar tertentu untuk menemukan Allah. Hati yang haus dan lapar akan Allah bisa menjadi dorongan kuat seseorang mencari Allah dan menemukan-Nya. Allah pun berkenan ditemui oleh mereka yang haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6).

Hendaknya, kita tidak merasa bahwa karena tidak belajar teologi, maka kalau ibarat terbang, itu hanya sekitar 100 meter di atas permukaan laut; tetapi kalau memiliki pengetahuan tentang Allah atau teologi melalui pendidikan formal perguruan tinggi keagamaan, dapat terbang setinggi 1000 meter dan merasa lebih bisa menjangkau takhta Allah. Ini kesan yang muncul dan yang ditangkap oleh jemaat seehingga menyesatkan. Hal ini memperbodoh jemaat awam. Oleh karenanya, kita harus mencari Tuhan melalui hamba-hamba Tuhan yang benar, yang dapat menjadi jurubicara Tuhan. Untuk ini, masing-masing kita harus bertanya kepada Tuhan, siapakah mereka ini. Selanjutnya, kita harus menemui Tuhan dalam doa setiap hari secara rutin. Apa pun dan bagaimana pun pengetahuan teologi yang kita miliki, kita bisa menemui Tuhan. Tuhan tidak dibatasi oleh teologi yang dimiliki seseorang. Firman Tuhan mengatakan: “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui.” Firman Tuhan berfirman bahwa Allah membuat diri-Nya ditemukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Jadi, kita dengan yakin dapat berjalan dengan Allah walaupun pengetahuan teologi kita tidak seperti para teolog yang bergelar S.Th, M.Th, maupun Doktor teologi. Walaupun jemaat tidak sehebat mereka, tetapi apa yang jemaat miliki hari ini cukup sebagai bekal atau modal untuk bisa bergaul dengan Allah, sementara mereka bertumbuh terus. Allah yang hidup dan nyata dapat dikenali dengan seberapapun pengetahuan teologi yang dimiliki setiap individu. Kalau untuk mengenal Allah, seseorang harus memenuhi kuota pengetahuan teologi seperti yang diajarkan di perguruan keagamaan Kristen, maka Allah “tertawan” oleh para teolog yang studi di perguruan tinggi keagamaan tersebut. Ini seperti sebuah “kartel” dalam dunia rohani. Betapa rusaknya kehidupan kekristenan oleh para pelaku kartel ini. Bagaimana nasib mereka yang tidak berpendidikan karena berada di tempat-tempat terpencil? Apakah Allah tidak bisa dikenali oleh mereka dengan baik? Apakah mereka tidak bisa hidup berkenan di hadapan Allah? Allah memberi diri dikenal tanpa terikat pandangan teolog tertentu. Alkitab akan bicara oleh pimpinan Roh Kudus kepada setiap individu orang percaya.