Ada Perhitungannya

Bapak/Ibu/Saudaraku sekalian yang kekasih,

Menerima realitas Allah bukanlah sesuatu yang mudah. Sering orang menganggap ini sesuatu yang mudah, yang penting memercayai Allah itu ada. Masalah benar-benar ada atau tidak, tidak sungguh-sungguh dipersoalkan. Yang menyedihkan itu bukan hanya terjadi atas jemaat biasa, melainkan juga atas para teolog; yang berbicara mengenai Allah dengan begitu fasih dan para pelayan jemaat, pendeta yang juga fasih berbicara mengenai Tuhan. Bagaimana kita bisa melihat fakta ini? Coba kita lihat hidup kita masing-masing. Kita berkata, memercayai Tuhan—memercayai bahwa Allah itu ada, bahwa Allah itu Mahahadir, Jehova Shammah (artinya Allah yang ada di mana-mana), Allah yang Mahahadir (omnipresent)—tetapi kita tidak mempertimbangkan bahwa apa yang kita ucapkan, yang kita lakukan itu ada di hadapan Allah. Sehingga kita sering sembarangan, sering sembrono dengan apa yang kita lakukan, seakan-akan Allah tidak tahu, bahkan seakan-akan Allah tidak ada.

Kalau dalam kepercayaan agama tertentu mereka percaya adanya karma dan tidak sedikit di antara mereka yang sangat serius dengan hukum itu. Segala sesuatu yang dilakukan ada karmanya, ada imbalannya, ada balasannya, ada akibatnya, ada konsekuensinya. Jadi mereka berhati-hati dalam bertindak, karena hukum itu. Hukum saja cukup membuat tidak sedikit di antara mereka takut dan gentar sehingga menata hidup berhati-hati dalam apa yang mereka lakukan. Dalam Hukum Kehidupan yang kita kenal dari Alkitab juga ada hukum tabur tuai itu. Apa yang ditabur orang itu juga dituainya. Tetapi, berapa banyak orang Kristen yang serius memperhatikan hukum itu?

Galatia 6:7-8, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”

Kita pernah menjalani hidup tanpa peduli hukum ini. Yang penting kita senang dulu, kita nikmat, kita puas, urusan belakangan. Itu adalah sikap yang tidak menghormati Allah. Kita menganggap Allah tidak ada dan itu menyakitkan hati Allah Semesta Alam, Sang Penguasa yang memiliki Pemerintahan. Mari kita mengembangkan percaya kita yang benar bahwa Allah itu hidup, Allah itu ada, ada realitas Allah. Harus kita suarakan kepada diri kita, kita suarakan di dalam diri kita, perintahkan kepada seluruh saraf kita, kita perintahkan ke seluruh anggota tubuh kita, pikiran kita, hati kita, jiwa kita untuk menyadari keberadaan Allah itu. Kita perintahkan sampai kita bisa menghayati dengan sungguh-sungguh realitas Allah. Dan ini pasti membuat kita berhitung atas segala sesuatu yang kita lakukan. Karena ada Allah yang hidup yang mengawasi kita.

Tidak ada mata manusia mengawasi kita di tempat-tempat tertentu, di tempat-tempat tertutup. Jangan berpikir tidak ada mata yang melihat, ada mata yang melihat. Dan apa yang kita lakukan pasti suatu saat ada tuaiannya. Artinya apa yang kita tabur kita tuai. Manusia pada umumnya sudah begitu fasik. Bahkan di negara yang mengaku adanya Tuhan dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, banyak orang yang kelakuannya tidak menunjukkan bahwa dia percaya Allah itu ada. Begitu mudah melanggar sumpah jabatan, semena-mena terhadap orang lemah, menyakiti sesama dengan sewenang-wenang; dia pikir aman, ya sekarang kelihatannya aman tetapi jangan main-main ada tuaian dari apa yang kita tabur.

Kalaupun Saudara sudah bertobat, tetapi tuaian itu tetap masih ada. Hanya oleh anugerah kemurahan Tuhan, tuaian itu bisa juga dijadikan sarana oleh Allah untuk mendewasakan kita. Itu ajaibnya Allah, Bapa kita. Misalnya, seseorang korupsi lalu bertobat tetapi setelah bertobat malah ketahuan praktik korupsinya dan dia masuk penjara. Nah, keadaan orang ini yang masuk penjara itu pun dipakai Tuhan untuk mendewasakan dia. Bukan tidak mungkin kalau dia tidak masuk penjara dia akan ulangi hal itu. Tuhan memroses kita dalam segala keadaan bahkan tuaian yang kita harus alami, itu pun dipakai Tuhan untuk mendewasakan kita. Bersyukur, Tuhan memakai segala hal, bahkan tuaian akibat kesalahan kita sebagai cara untuk mendewasakan. Tetapi, kalau orang tidak mengasihi Tuhan, apa pun akan mendatangkan celaka dan bencana. Hanya bagi orang yang mengasihi Tuhan segala sesuatu mendatangkan kebaikan.

Dan kalau kita sungguh-sungguh mau benar-benar bertobat dan berubah; Tuhan pasti mau memroses kita. Sekarang langkah yang harus kita lakukan adalah menghayati realitas Allah. Ada Allah yang hidup, ada Allah yang berkuasa. Dan Allah yang berkuasa, menghendaki agar kita ini sungguh-sungguh hidup di dalam perkenanan-Nya. Kiranya kita benar-benar memperhatikan kehidupan kita. Kalau kita selama ini kita kurang menghayati keberadaan Allah, mulai saat ini kita menghayati kehadiran Allah.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kita perintahkan seluruh organ kita sampai kita bisa menghayati dengan sungguh-sungguh realitas Allah; yang mana ini membuat kita berhitung atas segala sesuatu yang kita lakukan, karena ada Allah yang hidup yang mengawasi kita.