Yang Terbaik

Satu dari tiga pencobaan yang dialami oleh Tuhan Yesus dari Iblis adalah ketika Iblis membawa Yesus ke kota suci dan menempatkan Dia di bumbungan bait Allah. Iblis berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepada Iblis: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”  Maksud dari pencobaan ini adalah agar Yesus meragukan penyertaan Allah Bapa. Jadi, Iblis mendorong Yesus untuk berspekulasi. Hal ini terjadi di awal pelayanan Yesus. Pernyataan Tuhan Yesus ini sebenarnya diambil atau terkait dengan peristiwa bangsa Israel di Masa dan Meriba. 

Dalam Keluaran 17:1 tertulis, “Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim.” Bangsa Israel dituntun tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam. Lalu berkemahlah mereka di Rafidim. Tetapi, di sana tidak ada air untuk diminum. Jadi mulailah mereka bertengkar dengan Musa. Bahkan pernyataan-pernyataan bangsa Israel menyakitkan hati Tuhan dan hati Musa. “Mengapa engkau bawa kami ke padang gurun ini? Apakah tidak ada kuburan di Mesir?” Selanjutnya mereka juga bertengkar. “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?”  Ada kata “mencobai Tuhan”. Kata “mencobai” artinya meragukan kasih, kehadiran, pemeliharaan Allah, serta penyertaan-Nya. 

Padahal mereka sudah menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana Tuhan memberikan tulah kepada bangsa Mesir. Mereka menyaksikan bagaimana laut Teberau terbelah. Di depan mata mereka, Allah membunuh algojo-algojo Mesir yang sangat besar kemungkinan pernah menyiksa mereka. Sekarang mereka mau melempari Musa dengan batu. Memang kalau kita membaca Alkitab, bangsa itu keras kepala, tegar tengkuk, sehingga sebagian besar mereka mati di padang gurun; tidak sampai ke tanah Kanaan. 

Selanjutnya, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilahMaka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”  

Allah tidak pernah berubah. Apa yang Allah pernah lakukan bagi bangsa Israel, Dia juga akan melakukan bagi umat pilihan. Apa arti atau makna peristiwa ini bagi kita sekarang? Disertai Tuhan bukan berarti kita tidak memiliki masalah. Penyertaan Tuhan tidak ditandai dengan keadaan yang serba baik tanpa masalah. Ingat, Tuhan Yesus pernah menyuruh murid-murid-Nya menyeberang Danau Galilea. Hari itu ada badai. Salah satu karakteristik Danau Galilea adalah badai dan angin bisa datang tanpa bisa diprediksi. Ini seperti dunia di mana kita hidup hari ini. Masalah datang tanpa bisa diprediksi. Masalah pasti tidak menyenangkan. Tetapi masalah pasti ada. Bangsa Israel dituntun oleh tiang awan, tiang api, dibawa ke tempat di mana tidak ada air. Tuhan sengaja melakukan itu.

Jadi kalau kita menghadapi masalah yang mengancam ketenangan hidup, hidup masa depan, jangan meragukan Allah. Sebagai manusia, ada kecenderungan dan godaan-godaan di mana kita menjadi kecut, kecil hati. Kita memang tidak berkata, “Tuhan, mengapa engkau tinggalkan aku?” Memang kita tidak marah secara langsung kepada Tuhan, tetapi sikap kita terhadap orang di sekitar kita, sikap kita terhadap keadaan itu mengisyaratkan kita merasa ditinggalkan Tuhan. Biasanya kita mulai menyalahkan orang di sekitar kita; pasangan hidup, orangtua, tetangga, siapa pun yang bisa disalahkan. Atau paling tidak, kita berkata: “mengapa, mengapa, mengapa?” 

Ingat! “Tuhan tidak pernah memberi yang tidak terbaik.” Hanya sering kita tidak mengerti bahwa itu terbaik. Allah merancang agar bangsa Israel sampai ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Tidak lagi menjadi bangsa budak, tetapi bangsa yang mandiri, dipercayai menduduki sebuah negeri dan mereka bisa menikmati negeri itu dengan limpahnya. Allah terlampau cerdas, terlampu berhikmat, juga sangat baik. 

Jadi ketika Tuhan membawa kita di keadaan-keadaan yang sulit, kita berkata, “Dia mengasihi aku. Ia sedang memberi yang terbaik.” Jadi bukan sebuah kekalahan, kutuk, atau hukuman. Memang bisa disiplin, tetapi di balik semua itu, Allah pasti merancang yang sempurna. Sebab, Allah tidak bisa memercayakan negeri yang berlimpah susu dan madu, Tanah Kanaan, tanpa mereka didewasakan. Mereka harus menaruh percaya kepada Bapa, Elohim Yahweh, Allah mereka. 

Tuhan tidak pernah memberi yang tidak terbaik.