Warisan di Kekekalan

Banyak orang meninggalkan warisan yang baik, sehingga namanya menjadi nama jalan, dijadikan nama gedung, nama perpustakaan, nama bandara atau diabadikan dalam bentuk lainnya. Pencipta lagu yang menghasilkan karya yang bagus, akan dibukukan atau digubah ulang, agar dapat meninggalkan legacy atau warisan yang abadi. Tetapi pernahkah kita memikirkan, betapa ironis kalau di surga ternyata dia tidak diakui? Ia boleh meninggalkan legacy yang baik di mata manusia, tapi kalau ternyata waktu di kekekalan ia tidak diakui, maka itu adalah hal yang paling celaka. Siapa orang yang bisa meninggalkan legacy yang mulia? Hanya orang yang mengosongkan bejana hatinya, sehingga dapat diisi oleh Tuhan, sehingga karya-karyanya  merupakan “karya Roh Kudus.” Pasti itu dihargai di dalam Kerajaan Surga. Jadi, tubuh kita ini menjadi bait Roh Kudus, bukan hanya sebuah pernyataan, tetapi melalui tubuh kita ini hidup kita digerakkan untuk melakukan banyak hal yang berdampak untuk orang lain, yang meninggalkan warisan.

Nama kita tidak terukir di gedung-gedung, di bandara, juga mungkin tidak ditulis di jalan-jalan; tetapi nama kita terukir di Kerajaan Surga. Untuk itu kita harus membayar harga untuk menjadi seorang yang memiliki warisan di kekekalan. Karena firman Tuhan mengatakan bahwa segala perbuatan mereka mengikuti mereka. Jadi, perbuatan kita menjadi catatan abadi. Jadi, jangan ragu-ragu bahwa apa yang kita lakukan itu tidak sia-sia. Alkitab mengatakan, “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari segala jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka” (Why. 14:13). Maka harus selalu diingat bahwa Iegacy kita itu bukan di bumi, tapi di kekekalan. Tapi jangan sampai orang berpikir dengan memberi uang berarti ia sudah mengukir namanya di kekekalan. Padahal yang penting bukan uangnya saja, tapi ketulusan hati dan segenap hidup kita.

Orang-orang yang membawa karya-karya hidupnya yang berkenan, pasti dimuliakan. Maka jangan miskin karya dan jangan merasa yang aktif di gereja sebagai pendeta atau aktivis. Belum tentu semua itu memperkenan Tuhan. Kalau motifnya tidak lurus karena belum mengosongkan bejana hatinya, dia masih tetap miskin. Sebab dia melakukan itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhan. Orang yang hidupnya dipersembahkan penuh bagi Tuhan, kerinduannya untuk bertemu Tuhan itu besar sekali. Yang ditinggalkan banyak: harta, kekayaan, perusahaan, aset dengan puluhan miliar, ratusan milyar, bahkan triliun. Orang yang memilih tidak meninggalkan semua itu mungkin akan terlihat berhasil di mata manusia. Bahkan namanya diabadikan dalam berbagai bentuk; nama gedung, nama universitas, nama bandara, dan lain-lain. Tapi waktu mati, miskin, tidak ada penjemputan. Karena miskin karya, tidak berkarya bagi Tuhan. Berbeda dengan orang yang berkarya bagi Tuhan, dijemput malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat senang menjemputnya, karena orang ini banyak karya bagi Kerajaan Allah. Orang ini yang membuat Bapa di surga senyum terus.

Mari sekarang kita jujur melihat apa yang masih kita cintai, yang tidak mau kita lepaskan, sebab itu adalah berhala. Apalagi kalau itu kebiasaan-kebiasaan yang mendukakan hati Tuhan, karena melanggar kesucian Tuhan. Termasuk watak, karakter kita yang buruk; yang mudah tersinggung, mudah cemburu, yang senang membalas dendam, suka melihat orang lain menderita, senang orang lain dipermalukan. Ayo, kita tinggalkan semua itu. Kita mau membangun Iegacy; warisan yang baik. Di bumi ini tentunya, karena kita memberikan warisan iman kepada orang-orang yang kita tinggalkan di bumi, dan di surga dicatat. Orangtua-orangtua harus meninggalkan Iegacy yang baik untuk anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan, berguna sekali, uang yang diberikan juga bisa bermanfaat. Tetapi semua warisan tersebut bisa menjadi sia-sia, bahkan tidak jarang yang malah menjadi penyebab utama atau kausalitas prima dari kehancuran anak-anak. Tetapi warisan takut akan Allah yang diberikan orangtua kepada anak-anak—lalu anak-anak mengembangkan diri sedemikian rupa sampai mereka menjadi alat-alat di dalam tangan Tuhan yang efektif—maka orangtua pun juga akan ikut memetik buah dari kehidupan anak-anak yang mewarisi iman orangtuanya. Para orangtua mulai bertanya sekarang, apa yang Anda sudah wariskan ke anak-anak?

Jika belum memberikan warisan yang baik, atau belum, mari kita tebus kesalahan kita, supaya di sisa umur kita ini, kita masih bisa meninggalkan Iegacy untuk anak-anak kita dan sesama. Jadi, kita masih punya kesempatan meninggalkan legacy. Mungkin ada orangtua-orangtua yang sekarang terbaring, sudah tidak punya kekuatan fisik untuk berbuat sesuatu. Biarlah doa kita bisa menyentuh hadirat Allah dan didengar oleh Tuhan. Maka, hargai waktu yang ada untuk mengukir kehidupan, supaya kita bisa memiliki legacy yang berlimpah di kekekalan nanti. Masih ada waktu, kita bisa berubah.

Kita harus membayar harga untuk menjadi seorang yang memiliki warisan di kekekalan.