Ukuran Rohani

Dalam Roma pasal 8 dikatakan bahwa orang yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi, kita harus hidup di dalam Roh, artinya menjadi manusia yang rohani. Dalam sudut pandang Alkitab, manusia yang rohani adalah manusia yang hidup di dalam Roh. Orang Kristen yang hidup di dalam Roh adalah orang Kristen yang tidak hidup di dalam daging. Standar “rohani” jangan diukur dari status sebagai pendeta, majelis atau aktivis gereja. Ukuran “rohani” jangan diukur dari kegiatan keseharian dalam aktivitas pelayanan gereja yang disebut pelayanan rohani. Ukuran rohani adalah kehidupan Yesus. Inilah standar rohani yang sesungguhnya. “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” 

Kenapa disebut “rohani?” Tentu saja dari kata “roh,” rohani. Dalam Roma pasal 8, Firman Tuhan mengatakan orang yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Jadi untuk berkenan, harus hidup di dalam Roh. Di dalam Roh sepenuhnya, bukan “setengah Roh,” karena firman Tuhan mengatakan kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan. Terang tidak bisa dipersekutukan dengan gelap. Sepenuhnya untuk Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Tuhan 100% atau tidak usah sama sekali. Hidup menurut Roh yang benar, atau tidak usah sama sekali. 

Ini merupakan tantangan bagi kita. Tantangan yang sungguh berat. Tetapi tidak bisa kita hindari, dan ini merupakan berita yang sangat kita butuhkan. Ternyata, standarnya tinggi sekali, yaitu harus hidup di dalam Roh, baru disebut rohani. Apa itu “hidup menurut Roh?” Tentu harus dijelaskan apa itu hidup menurut daging? Ini penting sekali. Hidup menurut Roh dan hidup menurut daging, keduanya harus dijelaskan. “Menurut daging” bukan hanya berarti orang yang hidup di dalam pelanggaran moral, melainkan semua kehendak dan keinginan yang tidak sesuai dengan Roh Kudus, itu kedagingan

Kenapa disebut demikian? Dari kecil, kita telah menyerap cara berpikir, cara hidup atau gaya hidup manusia di sekitar kita. Plusdengan gen yang kita warisi dari orangtua, yang membangun karakter kita, sehingga melahirkan minat, niat, hasrat, dan selera jiwa kita. Kita selama ini menganggap bahwa itu normal, pada umumnya. Apalagi bagi orang tidak mengenal kebenaran, mereka berpendapat bahwa yang penting tidak menyakiti orang, tidak merugikan orang. Lalu, menjadi orang Kristen itu cukup dengan ke gereja. Apalagi kalau jadi aktivis, lebih lagi jadi pendeta, itu sudah membuat mereka merasa rohani atau pantas disebut sebagai rohaniwan. 

Rata-rata, orang tidak berani berbicara: “aku masih hidup dalam daging.” Tidak berani berkata tegas demikian. Tetapi, mungkin juga ada yang berkata, “rasanya aku masih hidup dalam kedagingan..” Lalu, kalau masih kedagingan, bagaimana? Berarti tidak berkenan di hadapan Allah. Karena kalau hidup menurut Roh, harus Roh Allah sepenuhnya yang menguasai kita. Jika masih hidup biasa-biasa saja seperti layaknya anak dunia, maka kita belum menjadi manusia rohani. Sayangnya, kita sudah telanjur terbiasa menganggap wajar gaya hidup atau cara hidup, filosofi, prinsip-prinsip yang sebenarnya tidak sesuai dengan firman Tuhan.

Apa yang kita serap dari dunia sejak kecil, itu membangun niat, hasrat, cita-cita, dan selera. Inilah kedagingan. Apa pun itu, walaupun kelihatannya baik, tetapi kalau tidak sesuai dengan kehendak Roh Kudus, itu kedagingan. Tuhan Yesus mengatakan: “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Ia tidak mengatakan “kehendak-Ku,” melainkan “kehendak Bapa.” Ini namanya hidup menurut Roh atau di dalam Roh, bukan di dalam daging. Ini telah dijalani oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus.

Dalam pergumulan hidup Rasul Paulus, ia sampai pada tingkat “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Dalam perjalanan sejarah kehidupan, juga dalam perjalanan sejarah gereja, hal-hal seperti ini menjadi lenyap atau tidak tampak. Yang muncul yaitu perdebatan teologis, saling mengucilkan, kutuk-mengutuk, mengatai yang lain sesat, dan sebagainya. Kita tidak mau ikut berdebat atau argumentasi, tetapi kita mau kembali kepada Injil yang sejati. Hal inilah yang kita pahami sebagai Injil yang sejati, yang sebenarnya tidak ringan juga tidak berat, tetapi berat sekali. Bahkan bisa dikatakan “mustahil.” Kalau jujur, sebenarnya kita sudah ketinggalan jauh. Banyak dari kita yang sudah ketinggalan jauh, dan ketika mau kembali kepada track yang benar, betapa sulitnya. Hanya orang yang rohani yang masuk ke dalam Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah. Ini kedengarannya mustahil bagi kita. Tetapi yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. 

Ukuran rohani adalah kehidupan Yesus, yaitu hidup di dalam Roh.