Ukuran Berkat Tuhan

Di dalam Mazmur 73, ditunjukkan kepada kita dua jenis manusia. Pertama, manusia yang disebut fasik, yang ditandai dengan kesenangan hidup. Dan yang kedua, manusia yang tulus atau manusia yang benar; yang ditandai dengan penderitaan. Manusia fasik artinya orang yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya. Pasti manusia seperti ini juga manusia yang tidak menghargai nilai-nilai rohani, nilai-nilai kekekalan. Hidupnya ditandai dengan kesenangan dalam kelimpahan harta, dan banyak orang yang mengikut dia atau menjadi kerabatnya, sahabat, dan handai taulan. Namun, perlu dicatat bahwa orang yang ditandai dengan hal-hal tersebut—sehat, gemuk dan banyak harta—berarti orang yang fasik. Tetapi di sini hendak dikemukakan bahwa keadaan orang fasik yang baik ini, bukanlah ukuran berkat Tuhan. Dengan kata lain, keadaan baik secara lahiriah dan secara materi, bukanlah ukuran berkat Tuhan. Perbedaan dua jenis manusia yang fasik dan yang tulus adalah yang fasik, tidak berperkara dengan Tuhan; tetapi yang tulus, berperkara dengan Tuhan.

Kita dapat memperoleh ciri dari ajaran sesat yang sekarang ini mewabah dalam kehidupan umat Kristen secara individu dan gereja secara komunitas, yaitu ketika mengesankan bahwa kelimpahan materi, keadaan baik secara fisik adalah tanda berkat Tuhan. Tanpa sadar sering kali orang berkata “Dia diberkati Tuhan, sekarang usahanya maju,” atau “Tuhan berkati hidupnya, sehat dan berkecukupan dia,” karena mereka menekankan bahwa keadaan baik secara fisik dan kelimpahan materi itu menjadi tanda dari berkat Tuhan. Biasanya, gereja-gereja yang mengajarkan ajaran seperti ini selalu berbicara mengenai berkat-berkat jasmani sebagai kelimpahan yang diharapkan dari Tuhan, dan yang mereka yakini diberikan oleh Tuhan secara mudah karena anak Allah.

Padahal, sebagai orang percaya kita harus bekerja keras, jujur, dan rajin. Adapun masalah berkat jasmani, pasti Allah mengaturnya. Ada tatanannya. Jangan tambahkan unsur-unsur mistik atau unsur adikodrati di sini. Allah yang benar tidak akan memberikan berkat materi tanpa kita bekerja keras, jujur, dan rajin. Kalau Tuhan membuat orang miskin tanpa alasan dan orang kaya tanpa alasan, itu adalah Tuhan yang tidak punya tatanan. Padahal, Allah punya tatanan. Allah tidak boleh disamakan dengan dewa-dewa yang asal disembah, diberi kurban, maka apa pun permintaan si peminta pasti diberikan. Gereja-gereja yang mengajarkan ajaran semacam itu dikenal sebagai gereja-gereja kemakmuran atau teologi kemakmuran. Hal ini membuat jemaat menjadi rentan terhadap pencobaan dan keadaan yang sulit yang akan menimpa bumi, dan yang sedang menimpa bumi ini. Contohnya seperti pada masa pandemi ini; baru teruji siapakah jemaat yang tahan uji dan yang tidak; siapa yang siap meninggal dunia, dan siapa yang tidak.

Bagaimanapun, kita tidak dapat menghindari kesulitan hidup yang juga dialami oleh manusia pada umumnya. Jangan berpikir karena kita Kristen, kita akan terhindar dari penderitaan yang dialami oleh manusia pada umumnya. Dan yang mengerikan, teologi kemakmuran membuat jemaat tidak mengharapkan langit baru bumi baru, karena mau membangun Firdaus di bumi. Maka, kalaupun kita mengalami kesusahan seperti mereka, itu bukan keadaan sial atau keadaan yang tidak terberkati. Dengan berpikir secara realistis dari aspek ini, maka kita bisa diarahkan kepada Tuhan untuk menujukan fokus kita kepada kehidupan yang akan datang. Aspek yang lain, dimana kita juga harus berpikir realistis—terutama bagi kita sebagai orang percaya—bahwa ada kehadiran Allah dalam kehidupan ini melalui segala peristiwa yang kita alami, yang membawa kita kepada Kerajaan-Nya, dengan menggarap kita agar menjadi orang percaya atau anak-anak Allah yang layak masuk Kerajaan-Nya.

Oleh sebab itu, kita tidak perlu mempermasalahkan apakah yang kita alami hari ini menyenangkan atau tidak menyenangkan. Tetapi yang harus kita pikirkan adalah apakah yang kita alami membuat kita bertumbuh menjadi manusia yang indah di mata Allah atau tidak. Bagi umat Perjanjian Lama, orientasi hidupnya hanya sekitar pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan materi. Berbeda dengan umat Perjanjian Baru yang orientasinya pada kesucian hidup, sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, dan kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Maka, kelimpahan materi bukanlah ukuran berkat Allah. Justru bagi umat Perjanjian Baru, berkat Allah adalah kuasa hidup yang mempersiapkan kita ada di dalam Kerajaan-Nya.

Banyak orang Kristen yang tidak mengerti kebenaran berpikir bahwa menjadi umat pilihan berarti setara materi akan selalu terjamin. Biasanya dihubungkan dengan kelimpahan materi, seperti Abraham atau tokoh-tokoh Israel yang kaya. Mereka punya spesifikasi khusus, tidak bisa disamakan dengan umat Perjanjian Baru. Bagi kita, bukti cinta Tuhan untuk orang yang dikasihi adalah aniaya dan deraan. Karena kita mau dipercantik, mau diubah kodratnya. Penderitaan yang kita alami tidak akan pernah membawa sesal apabila kita melihat kekekalan kelak.

Keadaan baik secara lahiriah dan secara materi, bukanlah ukuran berkat Tuhan.