Tidak Membahayakan Sesama

Kita harus sampai pada titik perjumpaan yang nyata dengan Allah Bapa setiap hari. Sehingga perjumpaan tersebut menjadi irama permanen dalam hidup kita. Allah Bapa menyertai kita dengan menaruh Roh-Nya di dalam diri kita. Dalam kebersamaan dengan Allah Bapa, kita tidak boleh semena-mena menyakiti perasaan Bapa. Sering kita tanpa sadar menyakiti dan melukai hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Tindakan tersebut sama dengan menganiaya perasaan Tuhan. Dengan sikap, ucapan, perbuatan, pikiran atau renungan hati kita yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah, kita menyakiti hati Allah. Oleh sebab itu, kita harus selalu berjaga-jaga, yaitu dengan menghayati bahwa di mana pun kita berada kita ada di hadirat Allah. Sikap dan perbuatan kita, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, akan membangkitkan reaksi perasaan Allah. Dengan demikian kita harus selalu ingat bahwa kita ada di daerah yang tidak netral. Kita hidup dalam wilayah Kerajaan Allah, di mana sebagai anak-anak Allah kita harus benar-benar mempertimbangkan perasaan Allah sebagai kepala pemerintahan.

Oleh sebab itu, kita harus berani berkomitmen untuk hidup hanya guna menyenangkan hati Allah. Walaupun kita belum bisa memenuhinya, tetapi komitmen kita harus utuh atau bulat. Kesediaan kita yang tulus untuk memenuhi komitmen tersebut sudah merupakan pedupaan yang harum. Tentu komitmen tersebut didorong oleh hati yang tulus, bukan emosi sesaat yang dimainkan. Juga bukan emosi sesaat yang diledakkan. Lalu menganggap seakan-akan dengan emosi semacam itu Tuhan menjadi berkenan kepada kita. Dengan sikap ini secara tidak langsung kita menipu diri kita sendiri dan berupaya juga menipu Tuhan. Kemunafikan seperti itu sudah menjadi irama hidup selama bertahun-tahun dalam kehidupan banyak orang Kristen, khususnya di kalangan gereja gereja Kharismatik yang memang lebih menekankan emosi atau perasaan.

Menyadari kebenaran di atas ini, kita harus mulai dengan tulus mempersembahkan emosi dan perasaan kita, yaitu mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita dalam sepanjang waktu hidup kita, bukan hanya pada waktu berdoa atau dalam liturgi. Persembahan hidup ini, kita nyatakan dalam tindakan konkret mempersembahkan seluruh hidup bagi pekerjaan Tuhan. Kerelaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan sudah merupakan keharuman di hadapan Allah, walaupun kita belum melakukannya dalam tindakan secara nyata. Bagi orang-orang yang memiliki komitmen yang tulus, mereka pasti dipimpin Roh Kudus untuk bisa mewujudkan kerinduannya tersebut.

Segenap hidup itu bukan hanya masalah uang. Uang itu masalah yang masih sederhana dan kecil (Luk. 16:9-10). Harta itu juga masih masalah yang sederhana dan kecil. Kesediaan kita mengendalikan kata-kata yang tidak patut dan menghindari perilaku kita yang bisa melukai orang dan menjadi batu sandungan, lebih dari masalah uang atau harta materi. Lebih dari mempersembahkan uang atau harta kita untuk pekerjaan Tuhan, kita harus menjaga hati dari segala hal yang dapat melukai hati Allah. Hal itu sudah merupakan persembahan yang berbau harum di hadapan Allah lebih dari persembahan materi.

Agar kita tidak menganiaya perasaan Allah, tetapi sebaliknya menyenangkan hati Allah, maka harus dimulai dari usaha kita yang serius untuk tidak merugikan siapa pun, tidak menyakiti siapa pun, baik dengan ucapan, dengan sikap, dan dengan perbuatan. Hal ini kita lakukan demi menjaga perasaan Bapa. Kita harus sungguh-sungguh tidak ingin melukai hati Tuhan. Pembiasaan diri untuk tidak menyakiti sesama, tetapi sebaliknya, berusaha melihat penderitaan orang lain untuk ikut meringankannya, merupakan irama yang akan menyatu di dalam diri kita sebagai persiapan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Orang-orang yang memiliki keadaan seperti ini pasti menjadi orang yang tidak membahayakan bagi sesamanya sejak hidup di bumi. Sebaliknya, kalau seseorang memiliki kebiasaan egosentris dan egois, tidak memedulikan kepentingan orang lain, pasti menjadi pribadi yang membahayakan atau  mengancam sesamanya.

Orang-orang yang masih membahayakan atau mengancam sesamanya tidak mungkin diperkenan masuk Kerajaan Surga karena akan membahayakan Kerajaan Surga. Jadi kalau ada pertanyaan Apakah di surga nanti masih mungkin adanya pemberontakan? Jawabnya adalah tidak mungkin. Sebab orang-orang yang diperkenankan masuk Kerajaan Surga adalah orang-orang yang sudah melalui pengujian di bumi ini. Kisah dalam Lukas 16: 19-31 mengenai orang kaya dan Lazarus mengungkap kenyataan mengenai adanya pengujian tersebut. Seandainya orang kaya tersebut memberi pertolongan kepada Lazarus, maka ia tidak akan dibuang ke dalam penderitaan di kekekalan. Mestinya kehadiran Lazarus di rumah orang kaya itu merupakan lawatan Allah agar orang kaya tersebut memiliki kesempatan untuk diselamatkan. Tetapi ternyata orang kaya tersebut gagal dalam pengujian. Ia tidak membuka hati terhadap penderitaan orang lain. Sebagai akibatnya, dirinya terbuang dari hadirat Allah selama-lamanya.