Tidak Ada Alasan untuk Menunda

Kalau kita sungguh-sungguh percaya dan menghormati seseorang, maka apa pun yang diperintahkan orang itu, pasti kita lakukan. Bukan hanya kita lakukan, tapi juga segera. Apalagi kalau orang yang kita hormati tersebut memerintahkan agar kita sekarang juga melakukannya, pasti kita tidak akan menundanya. Demikian pula kita terhadap Tuhan Yesus. Jika kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dan mengasihi Tuhan, kita bukan hanya melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi kita juga melakukan segera perintah itu sesuai dengan waktu dimana kita harus melakukannya. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan murid-murid pertama—Petrus dan saudaranya, Yohanes—Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” maka saat itu juga Alkitab mencatat mereka meninggalkan jala dan perahunya. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan Matius yang sebelumnya berprofesi sebagai pemungut cukai, saat itu juga Matius meninggalkan meja cukainya.

Bagaimana dengan perintah Tuhan yang harus kita penuhi saat ini juga? Ketika Tuhan mengatakan agar kita melepaskan segala sesuatu, kapan kita memenuhi perintah tersebut? Tuhan tidak berkata “nanti.” Tuhan berkata, saat kita mendengar perintah itu, baiklah kita segera melakukannya. Tetapi kenyataannya, hampir semua orang menunda. Tentu dengan berbagai alasan. Jangan kita merasa Tuhan akan maklum dengan penundaan karena kita punya kelemahan dan kekurangan, orang lain juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk. Ingat! Tuhan tidak akan menerima penundaan dengan alasan apa pun sebab hal itu merupakan sikap tidak menghormati Tuhan, sikap tidak menjunjung tinggi Tuhan, dan sikap tidak mengasihi Dia. Kapan kita melepaskan genggaman? Apakah menunggu kita sekarat? Pasti kita terlambat. Melepaskan apa yang ada dalam genggaman kita itu bukan nanti, tapi ketika Tuhan memberikan perintah itu kepada kita. Dan inilah seharusnya yang membuat kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar telah melepaskan segala sesuatu yang ada di dalam genggaman?

Mari kita memeriksa diri kita masing-masing. Ini masalah besar, besar sekali. Sebab, meninggalkan segala sesuatu atau melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri, tidak menoleh ke belakang, hidup sepenuhnya bagi Kristus dan mati adalah keuntungan bukan hal yang sederhana. Ini berat. Banyak orang masih menunda karena masih mau menikmati dunia. Kenyataannya, kalau demi kepuasan—entah kepuasan diri sendiri atau karena mau memuaskan orang lain—seseorang berani bunuh diri. Bagaimana dengan kita? Demi cinta kita kepada Tuhan, demi menjadi berkat bagi orang lain, beranikah kita menyangkal diri? Apakah masih ada sesuatu yang membuat kita merasa lengkap dan bahagia—yang tanpa sesuatu itu kita tidak bahagia? Ini ikatan dan belenggu yang harus dilepaskan. Ikatan dan belenggu inilah yang membuat seseorang tidak dapat menjadi perawan suci. Pengertian “perawan suci” adalah seorang yang tidak terikat dengan percintaan dunia. Apakah masih ada yang kita sisakan? Ketika kita berani melepaskan segala belenggu atau ikatan dunia, kita akan menikmati kebahagiaan yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Kita akan mendapatkan hikmat-hikmat surgawi dalam menangani segala masalah. Ketenangan dan keteduhan menghadapi berbagai pergumulan dan persoalan, seiring kita mengalami pertumbuhan kesucian yang sangat signifikan.

Jangan kita menunda. Jangan berpikir melakukan hari ini sama dengan besok. Penundaan akan berdampak untuk kedewasaan rohani. Sebab, kalau kita masih terikat dengan sesuatu, hubungan kita dengan Tuhan tidak mungkin bisa harmonis. Karena kalau kita masih terikat dengan percintaan dunia, kita tidak akan dapat mengerti kebenaran. Merasa mengerti, tapi sebenarnya tidak mengerti. Apa bedanya orang yang mengerti dengan benar, dan orang yang mengerti dengan tidak benar? Sama-sama secara logika bisa mengerti, tetapi ada orang yang mengerti dengan benar akan berdampak dalam perilakunya. Kebenaran yang dipahami itu akan hidup dan akan membuat perubahan yang signifikan terus. Hari demi hari akan kelihatan perbedaannya. Orang yang mengerti secara logika tapi masih dalam percintaan dunia, satu saat akan mengalami stagnasi atau berhenti. Dia tidak merasa sukacita dengan kebenaran yang dia mengerti, dia mencari-cari lagi pengajaran yang cocok dengan selera duniawinya. Bagaimana mungkin orang seperti ini memiliki kematian yang bermartabat?

Tuhan tidak akan menerima penundaan dengan alasan apa pun sebab hal itu merupakan sikap tidak menghormati Tuhan, sikap tidak menjunjung tinggi Tuhan dan tidak mengasihi Dia.