The Voice of God

Matius 6:19-21 mengatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Kita sudah merasa mengerti sekali akan ayat ini. Tetapi sesungguhnya kita hanya melihat itu secara kognitif atau pengetahuan; sebagai the word of God, tapi kita belum melihatnya sebagai the voice of God. Ketika ayat ini menjadi suara Allah dan kita menerimanya serta mengenakannya, maka seperti kabut yang tertiup angin, kita melihat dimensi hidup yang lain. Apalagi bagi kita yang bertugas sebagai jurubicara-Nya Tuhan; jangan sampai kita hanya bisa menyampaikan word of God—Firman dalam bentuk pengetahuan—tetapi tidak menjadi penyambung lidah Allah yang menyampaikan the voice of God. Sulit untuk menjelaskan hal ini, kecuali mengalaminya sendiri di dalam batin. Namun demikian, orang-orang dekat di sekitar kita akan tahu nanti, karena mereka pasti merasakan perubahan kita.

“Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua ditambahkan kepadamu,” juga merupakan ayat yang sudah begitu akrab di telinga kita. Tapi apakah kita sudah benar-benar melakukan, menerapkan, dan mengenakannya dalam hidup? Faktanya, mungkin yang lain yang kita utamakan dan Kerajaan Allah hanya sebagai tambahan. Di ayat yang lain, Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut, hai kawanan kecil, karena Bapamu berkenan memberi Kerajaan ini kepadamu” (Luk. 12:32). Sejatinya, kalau kita benar-benar menghayati bahwa kita adalah penerima warisan Kerajaan, kita dapat merasakan betapa mahalnya kesempatan tersebut. Tapi mengapa orang tidak senang? Pasti ada yang salah dengan semangatnya. Surga bukan hal yang menarik baginya. Tentu tidak ada seorangpun yang mau ke neraka, tapi sebenarnya juga tidak mau ke surga. Bagi orang-orang yang mempunyai komitmen, “Aku mencintai Engkau, Tuhan. Segalanya bagi-Mu,” dengan tulus, Tuhan pasti menggarapnya. Tidak heran apabila Tuhan menghajar, supaya level kita naik. Tuhan mengajar kita untuk memindahkan kita dari filosofi hidup anak dunia ke prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.

Hidup itu tragis. Namun ini tidak membuat kita jadi pesimis dan kurang bahagia di dalam Tuhan. Kita memang pesimis menghadapi dunia, dimana dunia tidak bertambah baik dan menjanjikan. Lalu kita melihat dampak COVID yang belum membuat sembuh perekonomian kita, demikian juga dengan krisis ekonomi global. Maka kalau kita tidak sungguh mengikut Tuhan Yesus, apa yang akan kita lakukan? Kekayaan, kebahagiaan, dan kepuasan bagaimanapun tidak dapat menyaingi kemuliaan yang Tuhan janjikan. Itulah sebabnya Paulus menyatakan, “asal ada makanan, pakaian, cukup” (1Tim. 6:8). Prinsip ini tidak selaras dengan prinsip hidup yang dimiliki orang pada umumnya. Tapi ini juga yang diterapkan oleh Tuhan Yesus, karena Tuhan berkata “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Ini pernyataan Tuhan Yesus pada waktu orang berkata, “Tuhan, aku mau ikut Tuhan ke manapun Engkau pergi.” Menjadi pertanyaan untuk kita renungkan, kalau kita hidup pada zaman Tuhan Yesus, apakah kita akan mengikut Tuhan pada waktu Ia ditangkap? Pada waktu Ia diadili di rumah imam besar, di pengadilan Pilatus, pada waktu menghadap raja Herodes? Jangan-jangan kita seperti Petrus yang menyangkal. Lebih konyol kalau seperti Yudas. 

Hari ini tidak sedikit orang Kristen yang seperti Petrus. Memang tidak menyangkal dengan kata-kata, tapi menyangkal dengan perbuatan. Atau seperti Yudas, itu pun tidak sedikit. Memang tidak menjual secara harfiah, tetapi tindakan hidupnya menyatakan bahwa ia “menjual” Tuhan. Orang seperti itu pasti ketakutan ketika menghadap takhta pengadilan Tuhan nanti. Tetapi hal ini kiranya tidak membuat kita jadi kendor. Kita harus tetap bersemangat, tetapi yang dibidik harus benar. Kita mau berubah dan mengubah orang menjadi mempelai Tuhan, supaya kita semua dilayakkan untuk dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Roh Kudus akan memimpin sesuai dengan pengertian tingkat rohani, dan keadaan kita masing-masing. Jangan bergantung pada siapa pun. Pada umumnya, kita telah memiliki cara berpikir yang sudah salah atau rusak, sehingga kita tidak memahami maksud ucapan Tuhan Yesus, “kumpulkan harta di surga, bukan di bumi. Di mana hartamu, di situ hatimu. Cari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya. Asal ada makanan, pakaian, cukup.” Mengapa? Karena kita tidak berani mempertaruhkan 100% hidup kita untuk kebenaran Firman. Seharusnya, demi kebenaran ini, apa pun kita lakukan, sehingga Roh Kudus akan menuntun kita. Hanya dengan demikian, ucapan Yesus tersebut dapat kita alami sebagai suatu kebenaran yang menghidupkan.

Ketika ayat menjadi suara Allah—voice of God—dan kita menerimanya serta mengenakannya, maka seperti kabut yang tertiup angin, kita melihat dimensi hidup yang lain.