Terjerat dalam Kebodohan

2 Petrus 3:13-14, “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran. Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.” Ayat-ayat ini ditulis oleh Rasul Petrus, seorang murid yang paling dekat dengan Tuhan Yesus. Dan tentu apa yang ditulis oleh Rasul Petrus ini ditulis di dalam atau oleh ilham Roh. Ketepatannya sempurna. Ia menulis bukan untuk mengancam dan menakut-nakuti pembacanya atau jemaat, tetapi untuk membuka pengertian jemaat guna mempersiapkan diri menghadapi realitas dahsyat yang akan terjadi nanti. Kedahsyatan, ketegangan, kegentingan situasi itu tidak bisa kita mengerti sekarang.  

Dan kalau kita tidak sempat menyaksikan karena kita sudah meninggal dunia, kita tetap akan menghadapi kedahsyatan pengadilan Tuhan, indahnya Kerajaan Surga, dan kengerian api kekal. Ini pun juga tidak kalah dahsyatnya. Pada saat itu, orang baru mengerti bahwa: pertama, jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan diri sendiri saja seseorang tidak akan mampu. Hari ini kita memiliki begitu banyak urusan sampai kita lupa mengurus diri kita sendiri. Kuasa kegelapan akan membuat kita memiliki banyak fokus, sehingga kita gagal fokus untuk mencapai apa yang seharusnya kita capai; yaitu kesucian dan kesalehan di hadapan Allah yang merupakan harta kekal kita. Memang dalam hidup ini pasti kita memiliki banyak urusan, tanggung jawab, dan tugas yang harus kita penuhi. Tetapi satu hal yang harus kita penuhi lebih dari segala sesuatu adalah mengusahakan diri menjadi orang suci dan orang saleh-Nya Tuhan. 

Seperti yang juga dikatakan di ayat 14, “berusaha supaya kedapatan tidak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya.” Kalau kita sudah mencapai kesucian dan kesalehan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, maka kita hidup dalam perdamaian dengan Dia, sehingga kita akan menjadi berkat bagi orang di sekitar kita. Sehingga ketika kita ada di hadapan Tuhan, di tengah-tengah kedahsyatan keindahan Kerajaan Surga, kita sudah tidak memikirkan diri sendiri, karena kita sudah menyelesaikan diri kita di hadapan Tuhan sejak di bumi. Ingat firman Tuhan, “dan hukum yang sama dengan itu ialah kasihi sesamamu seperti kamu mengasihi diri sendiri.” Di luar orang Kristen, mereka juga mengenal bagaimana memperlakukan orang dengan baik, sebagaimana dirinya juga mau diperlakukan. Tetapi standarnya adalah kebaikan menurut versinya. Tetapi kalau orang-orang yang ada di lingkungan umat pilihan, yang baik itu bukan sekadar memberi makan orang lapar, memberi pakaian orang telanjang, memperhatikan orang yang terpenjara, tetapi yang baik adalah hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Perdamaian kita dengan Allah yaitu mengusahakan hidup tak bercacat tak bercela, selanjutnya akan membuat kita mengusahakan perdamaian orang lain dengan Allah. Maka kalau kita mengasihi Tuhan, kita akan peka melihat semua kejadian dan peristiwa yang di dalamnya Allah memproses kita. Kesucian bukanlah sesuatu yang bersifat mistis, melainkan natural, praktis, teknis. Kalau kita fokus kepada kesucian, maka nanti kita akan mengusahakan kesucian untuk orang lain. Sementara kita melakukan kegiatan sehari-hari, Allah bekerja dalam segala hal, dan memakai semua keadaan itu untuk menghabisi saldo kodrat dosa kita. Kita tidak bisa melihat diri kita dengan benar, tetapi Tuhan yang tahu keadaan kita. 

Yang kedua, usaha yang dilakukan untuk bisa lolos dari penghukuman Allah harus usaha paling maksimal. Lebih dari studi, karier, mempertahankan rumah tangga, dan segala sesuatu. Langkah yang harus dilakukan adalah selalu menyadari bahwa kita sedang ada dalam perjalanan waktu yang ketat. Oleh karena itu, kita harus menghargai setiap menit yang Tuhan percayakan. Waktu hidup harus diprogram dengan benar. Ukuran bersungguh-sungguh memang relatif, banyak orang sudah merasa bersungguh-sungguh menekuni imannya, padahal belum atau tidak sama sekali. Juga terdapat orang-orang Kristen yang merasa belum serius mengembangkan imannya, tetapi tidak merasa ada di zona berbahaya. Ia merasa bahwa keadaan kerohaniannya belum sampai di taraf yang membahayakan. Itulah sebabnya, ia bertahan dalam kondisi seperti itu, padahal sementara ia bersikap pasif, Iblis terus menggarap secara intensif agar ia terjerat dalam kebodohan, sehingga tidak pernah bisa bangkit untuk selamanya. 

Kita harus menyediakan waktu untuk mendengar suara kebenaran dan berdoa. Selalu mengembangkan kehausan akan Tuhan dalam diri sendiri. Untuk ini, kita harus berani tidak mencintai dunia. Supaya bisa lebih terbantu, kita harus bergaul dengan orang-orang yang takut akan Tuhan. Lebih lengkap lagi, kalau kita turut mengambil bagian dalam pelayanan orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan benar-benar mengusahakan keselamatan jiwa orang lain. Tuhan memberikan kita opsi; “Berusahalah.” Sekarang tergantung seberapa intensitas usaha kita untuk itu. Dan Tuhan tahu hati kita. Jawabnya ada di tangan kita masing-masing. 

Sementara seseorang bersikap pasif, Iblis terus menggarapnya secara intensif agar ia terjerat dalam kebodohan, sehingga tidak pernah bisa bangkit untuk selamanya.