Terhilang

Saudaraku,

Sejatinya, hari ini hampir semua orang telah kehilangan Tuhan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan kita di dalam Lukas 18:8, “Kalau Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? Karena manusia pada umumnya telah memilih jalannya sendiri. Mereka yang masih beragama Kristen merasa sudah menemukan Allah dan tidak terhilang hanya karena ke gereja; apalagi kalau sudah menjadi aktivis, bahkan apalagi kalau sudah menjadi pendeta, merasa diri tidak terhilang. Padahal, banyak orang yang terhilang tetapi tidak merasa terhilang. Lalu kapan sejatinya seseorang itu terhilang? Seseorang terhilang ketika ia tidak memiliki hubungan dengan Allah secara benar. Berada dalam ruangan gereja itu bukan jaminan ia tidak terhilang. Aktif dalam kegiatan pelayanan bahkan menjadi pendeta, teolog, jadi dosen Sekolah Tinggi Teologi pun bukan jaminan tidak terhilang. Terhilang adalah ketika seseorang tidak sehati dengan Allah, tidak sehati dengan Bapa, tidak sepikiran dengan Allah. Ini menggetarkan! Menghayati hal ini, kita bisa tergetar. 

Orang Kristen yang terhilang adalah mereka yang tidak memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Atau dengan kalimat lain, ia tidak hidup di hadirat Allah. Ironis, kita sering demikian keadaannya. Kita tidak hidup di hadirat Allah, kita tidak ada dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Oleh sebab itu, kita yang masih memiliki kesempatan untuk dipulihkan, mari kita memberi diri untuk dipulihkan. Maka, kita harus bertekad, pertama, tidak berbuat apa pun yang bisa menyakiti hati Allah, tidak melakukan apa pun yang merugikan atau melukai sesama. Sebaliknya, kita lakukan segala sesuatu benar-benar untuk keselamatan orang lain, bagaimana orang mengenal Tuhan Yesus dan didewasakan. Dan untuk ini, Saudara tidak harus menjadi pendeta.

Yang kedua, jangan kita terikat dengan percintaan dunia. Jangan kita merasa bisa bahagia dengan memiliki sesuatu, dengan melakukan sesuatu. Kebahagiaan kita bukan karena kita memiliki sesuatu atau satu fasilitas atau melakukan sesuatu yang menurut kita membahagiakan. Kita harus menjadikan Tuhan benar-benar sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Ini tidak mudah, tetapi kalau kita berjuang, kita bisa; karena kendali di tangan kita bukan di tangan siapa-siapa. Allah juga tidak memaksa kita untuk menjadikan Diri-Nya sebagai kebahagiaan kita satu-satunya. Tuhan yang agung yang memiliki harga diri yang sempurna tidak akan dengan murah dan mudahnya memaksa orang untuk menjadikan Diri-Nya sebagai kebahagiaan. 

Tetapi Tuhan mau kita dengan aktif selalu menjadikan Tuhan kebahagiaan kita. Jika ada sesuatu dalam hidup kita yang kita pandang sebagai kebahagiaan, kita bisa menghalaunya. Memang pada mulanya sulit, tetapi nanti lambat laun bisa. Dan seiring dengan itu kita benar-benar mengalami Tuhan sehingga kita menikmati kebahagiaan di dalam Tuhan. Kalau sampai Saudara bisa mengalami kebahagiaan dan sukacita dalam Tuhan secara benar, Saudara akan lebih dari kecanduan. Itu yang harus kita lakukan supaya kita tidak terhilang; hidup di dalam persekutuan dengan Allah secara benar, hidup di hadirat Allah. Maka, kita harus hidup bersih, tidak bercacat, tidak bercela dan benar-benar menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan. 

Yang ketiga, ada langkah luar biasa yang harus kita lakukan, jangan memikirkan apa yang Allah tidak pikirkan. Ini berat sekali. Hal-hal yang tidak perlu dan memang tidak boleh kita pikirkan, jangan pikirkan! Misalnya, masalah-masalah yang membebani kita sampai kita stress, kita pikirkan siang dan malam walau tetap kita tidak mendapatkan jalan keluarnya. Kita berjuang dengan tanggung jawab untuk menyelesaikannya. Namun apa yang ada di luar kemampuan kita, kita serahkan kepada Bapa kita. Maka, pikirkan apa yang Allah pikirkan. Hal ini seperti sebuah keahlian atau seni yang perlu kita pelajari; tidak bisa dalam sekejap; sehari, seminggu, sebulan, setahun. Kalau kita belajar untuk berpikir dengan pikiran yang Allah juga pikirkan—artinya kita tidak akan memikirkan sesuatu yang Allah tidak berkenan kita pikirkan—maka pada akhirnya jika ada dosa sekecil apa pun kita pasti akan berasa, kesalahan sekecil apa pun kita berasa. 

Dan secara khusus bagi para pembicara, kita harus bisa menangkap pikiran Allah, menangkap perasaan Allah, supaya the word of God menjadi the voice of God; dari Firman yang sekadar pengetahuan kognitif menjadi suara Allah yang mengalir dari hati Allah. Kita masih punya kesempatan untuk tidak terhilang. Ayo, kita pulang, kita balik seperti anak terhilang. Jangan merasa kita sudah hebat, sudah kudus, sudah suci, sudah dewasa, sudah berhikmat, sudah cerdas rohani, sudah punya pengetahuan teologi yang banyak; dengan rendah hati kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dan menyerahkan hidup kita ini kepada-Nya. 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Orang Kristen yang terhilang adalah mereka yang tidak memiliki

persekutuan yang benar dengan Allah.